Clock

Memaknai Kembali Pengobatan Tradisional Simeulue

Oleh: Nefita Sari (Mahasiswa Antropologi Al-Wasliyah Banda Aceh)

    Di tengah menjamurnya gaya hidup berobat modern, sejatinya masyarakat Indonesia telah lama hidup dalam daya strategi menghadapi beragam penyakit dengan pendekatan herbal atau pengobatan tradisional. Berdasarkan studi etnografi kesehatan yang dilakukan badan penelitian dan pengembangan kesehatan, prospek obat tradisional tidak hanya sekedar pengobatan, justru memperlihatkan bahwa terdapat modal sosial di dalamnya.

 Masyarakat-masyarakat pinggiran tentu masih sangat bergantung pada pengobatan tradisional. Kondisi ini dapat dilihat sebagai celah strategis untuk menjadikannya modal upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Di samping mempunyai modal sosial dari masyarakat, pengobatan tradisional dipandang ekonomis material dan bahan baku serta tanpa berbahan kimia. Maka, keberadaannya bisa menjadi produk keunggulan kompetitif dibanding obat-obatan modern.

    Antropolog Aceh, Muhajir Al-Fairusy yang penulis temui saat melakuka studi pengobatan tradisiola menerangkan jika dalam kebudayaan transformasi herbal ke modern dapat disebut sebagai bagian dari proses difusi kebudayaan, di mana kantong-kantong masyarakat lokal dituntun untuk dapat menjadi modernis dalam konteks perobatan. Pun demikian, Muhajir tak menampik jika di Indonesia masih banyak masyarakat pinggiran yang masih bergantung pada herbal, kondisi ini dilihat olehnya sebagai daya tahan kearifan lokal yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia.

    Pengobatan tradisional memiliki kedudukan yang khusus dalam masyarakat sebagai warisan budaya turun temurun dari leluhur dibidang kesehatan. Hasil observasi menunjukan jika obat tradisional juga diperlukan masyarakat terutama dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan, menjaga stamina dan kebugaran tubuh. Pengobatan tradisional masih banyak digunakan sebagai alternatif dalam masyarakat di Nusantara. Kondisi ini menjadi bukti pengakuan pada khasiat dari pengobatan tradisional, dengan demikian jenis-jenis tanaman yang dapat dijadikan obat harus tetap dilestarikan dan dijaga agar dapat dimanfaatkan sebagai resep tradisional warisan orang tua terdahulu dalam upaya menunjang pelayanan kesehatan (Ditha Prasanti, 2017).

    Tentunya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat begitu sering membicarakan soal kebudayaan, setiap masyarakat pasti bersentuhan dengan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Di Aceh sendiri, seperti Masyarakat Simeulue juga kaya akan adat istiadat dan budaya mereka sendiri yang berbeda dengan suku Aceh lainnya. Di Kabupaten Simeulue terdapat pula beberapa sub suku, akan tetapi suku-suku tersebut bukanlah suku asli Simeulue tetapi semua suku tersebut adalah suku pendatang dari luar Simeulue yang sudah lama menetap di kepulauan Simeulue.

    Masyarakat Simeulue selain kaya akan beberapa suku juga kaya akan pengobatan trdisional atau herbal alami, yang diracik oleh bidan gampong (paranormal) itu sendiri kepada masyarakat yang berobat. Pengobatan tersebut dibuat dari sebagian tanaman, hewani, mineral dan lain sebagainya (Evi Novita, 2018).

  Pemakaian obat secara umum dianggap lebih tersimpan dibandingkan dengan obat-obat modern, atau alasan harga obat sintetis yang semakin meningkat seiring dengan efek sampingnya bagi kesehatan mengakibatkan adanya peningkatan penggunaan obat tradisional masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitar. Bahan baku tumbuhan obat tradisional tersebar luas di nusantara ini, begitu juga dengan pulau Simeulue. Lebih jauh menguraikan bahwa masyarakat Simeulue juga terkenal dengan pengobataan tradisional yang salah satunya yaitu jamu. Pengobatan tardisional jamu tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat pulau Simeulue. Manfaat minum jamu adalah untuk berbagai keperluan terutama menjaga kesehatan seperti perawatan setelah melahirkan bayi, kesehatan organ wanita ataupun menjaga stamina laki-laki. Pengobatan tradisional scara turun temurun dari antar generasi ini telah menjadi kekayaan pengetahuan tradisional tersendiri. Khususnya bagi masyarakat Simeulue kekayaan intelektual ini perlu dilestarikan dan dilindungi agar generasi berikutnya dapat semakin mengembangkan kekayaan intelektual tersebut (Rina, 2021).

    Kebudayaan dan kesehatan masyarakat Simeulue membentuk, mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan suatu kelompok sosial masyarakat Simeulue dalam memenuhi kebutuhan kesehatan baik yang berupa uapaya mencegah penyakit, maupun upaya menyembuhkan diri dari penyakit. Masalah kesehatan sering menjadi problem kehidupan masyarakat sekarang ini. Gangguan kesehatan merupakan kenyataan konsekuensi perilaku yang berwujud tindakan yang disadari atau tidak disadari yang merugikan atau menurunkan derajat kesehatan sipelaku sendiri, orang lain maupun kelompok. Untuk menyikapi kesehatan yang lebih sempurna biasanya dilakukan melalui dua proses pengobatan, yaitu pengobatan medis dan pengobatan nonmedis.

    Sistem pengobatan medis ataupun sistem pengobatan modern dengan berbagai kecanggihan sarana prasarana dan kemajuan teknologi yang digunakan dipandang belum sepenuhnya dapat memenuhi titik kepuasan masyarakat Simeulue. Apalagi, dampak obat-obatan medis juga tetap berlaku bagi penderita penyakit. Obat modern dibuat secara sintetis, sehingga dipandang oleh masyarakat dapat mengandung resiko yang tinggi terhadap kerusakan, kelainan, fungsi, perkembangan dan pertumbuhan sel tubuh. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi cukup khawatir akan dampak negatif yang ditimbulkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, banyak masyarakat Simeulue yang masih melirik sistem pengobatan tradisional sebagi jalan alternatif (Sinarsari, 2021).

   Sistem pengobatan tradisional banyak mendapat perhatian karna sistem ini dalam realitanya ditengah masyarakat Simeulue yang sudah sedemikian modern, tidak hanya tetap digunakan tetapi justru berkembang dan berdampingan dengan sistem pengobatan modern, walau realitas membuktikan bahwa sisitem pengobatan tradisional Indonesia terus mengalami peningkatan, namun itu bukan berarti sebagi akibat dari kurangnya fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan formal yang terjangkau, namun ada faktor budaya Indonesia yang masih memiliki kepercayaan kuat terhadap pengobatan tradisional.

    Budaya inilah yang menurut Rosenstock disebut sebagai health belief model. Teori healt belief model menekankan bahwa individu memiliki persepsi kerentanan terhadap penyakit yang mengancam kesehatan, sehingga melakukan tindakan yang dapat mengancam kesehatan, sedapat mencegah ancaman dan memusnahkan penyakit yang mungkin menyerang (Saiful, 2020).

   Sistem pengobatan dengan tidak pernah bertemu itu sama-sama diperlukan oleh masyarakat Simeulue, baik masyarakat yang berada diperkotaan juga yang berada dipedesaan sekalipun coraknya berbeda satu dengan yang lainnya. Pada umumnya masyarakat yang tinggal dipedesaan atau mereka yang secara finansial kurang mampu, jika terserang suatu penyakit, yang pertama dilakukan adalah mencari sesuatu (umumnya tumbuhan yang ada disekitar kediamannya), meminta bantuan kepada pengobatan tardisional, dan baru menghubungi dokter apabila penyakit tidak juga hilang.

  Fenomena ini menunjukan bahwa sekalipun pengobatan modern telah menunjukan kemajuan yang pesat, juga para medis yang membidangi pengobatan modern tersebut sudah banyak, akan tetapi fungsi dan peran obat tradisional yang umumnya terbuat dari berbagai tanaman/herbal masih tetap dibutuhkan dan dicari oleh masyarakat Aceh. Hal serupa juga dijumpai dalam kehidupan masyarakat kepulauan Simeulue, khususnya masyarakat desa Lubuk Baik yang hingga kini konsisten dengan sistem pengobatan tradisional yang masayarakat warisi secara turun temurun dari leluhurnya.

Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira

Download melalui link berikut



Link 1

Link 2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan