Clock

Ning Imaz: Perempuan Berdikari yang Menginspirasi


Oleh: Sarah Ulfah

Berbicara mengenai berbagai narasi dengan tema perempuan tentunya yang dominan dibahas adalah topik terkait dengan pendidikan, pemberdayaan, kesetaraan dan sebagainya. Topik-topik ini terus menarik untuk diperbincangkan. Seminar tentang pemberdayaan kapabilitas perempuan digelar semeriah mungkin. Berbagai tokoh inspiratif sekaligus pemberi pengaruh hebat di masyarakat diundang sebagai pemateri untuk menyampaikan berbagai topik terkait. Dan salah satu tokoh yang akan diangkat dalam artikel ini adalah Ning Imaz Fatimatuzzahra. Sosok perempuan berdikari dan sangat menginspirasi kaum perempuan melalui berbagai seminar dan dakwah nya.

Profil Ning Imaz

Imaz Fatimatuz Zahra atau yang akrab dengan sapaan Ning Imaz merupakan tokoh perempuan muslimah dari Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau lahir pada tahun 1985 dengan nama lengkap Imaz Fatimatuz Zahra. Ning Imaz adalah seorang putri dari pasangan K.H. Abdul Khaliq Ridwan dan juga Nyai Hj. Eeng Sukaenah. Kedua pasangan tersebut merupakan Pengasuh dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ning Imaz juga merupakan cucu dari Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampasy (pengarang kitab Siraj ath-Thalibin). Ia menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan Ahli Fiqih berkat ajaran ilmu agama dari sang ayah dan kakeknya. Ning Imaz adalah istri dari pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu Kendal, yaitu Gus Rifqil Muslim Suyuthi. Mereka melangsungkan pernikahan pada Maret 2022.

Ning Imaz dan suaminya kerap sekali tampil bersama dalam penyampaian dakwah tentang pernikahan dan perbedaan wanita serta pria menurut ajaran agama Islam. Kekompakan keduanya dalam menyampaikan dakwah secara bersama sangat menginspirasi banyak orang. Imaz Fatimatuz Zahra sendiri sering berbagi ilmunya dengan melalu media sosialnya. Ning Imaz juga sering memberikan dakwah sesuai dengan ilmu fiqih yang ia dalami beserta penafsirannya.

Wanita Karir dalam Perspektif Ning Imaz

Kesuksesan perempuan dan laki-laki itu berawal dari garis start yang berbeda. Tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan itu berada di dua langkah lebih belakang daripada laki laki, karena mereka harus terlebih dahulu melawan stigma masyarakat dan keresahan dalam dirinya sendiri untuk memulai jalan kesuksesan itu. Sehingga ketika mereka berani mengambil resiko atas keberaniannya itu, maka tindakan tersebut harus benar benar diapresiasi.

Wanita yang sukses dengan karir nya tersebut bukan berarti menelantarkan tanggung jawabnya begitu saja. Tentunya peran wanita sebagai seorang anak perempuan, ia harus berkomunikasi terlebih dahulu kepada orang tua nya terhadap apa yang ia akan lakukan. Begitu juga dengan peran dia sebagai seorang istri, ia terlebih dahulu harus mengkompromikan berbagai hal yang ingin dilakukan tersebut dengan suami nya. Dalam hal ini kesuksesan perempuan dalam berkarir sangat ditentukan oleh support sistem yang mereka miliki. Jika perempuan yang berkarir tersebut memiliki support sistem yang baik dan dapat mendukung semua kegiatannya maka itu akan sangat memudahkan si wanita tersebut menjalani karir dengan tidak mengesampingkan tanggung jawabnya.

 Keadilan Gender

Ning Imaz menyampaikan bahwa penggunaan istilah yang lebih tepat adalah keadilan gender bukan persamaan gender. Hal itu disampaikan atas sebuah landasan bahwa setiap manusia tentu memiliki peran masing-masing sehingga untuk menuntut kesamaan itu adalah berat. Oleh karena itu meskipun tidak sama maka yang nama nya kedilan tetap dituntut oleh semua kalangan baik laki-laki ataupun perempuan.

Antara laki-laki dan perempuan tentunya memiliki pebedaan yang sangat mendasar. Jika laki-laki diciptakan lebih rasional, maka perempuan diciptakan lebih emosional. Dan hal  ini setidaknya tidak dijadikan tolak ukur untuk menilai lebih baik atau lebih buruk terhadap para perempuan. Karena hal tersebut bukan lah sebuah kekurangan bagi diri seorang perempuan. Hal tersebut Allah ciptakan agar perempuan dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Karena jika semua manusia harus mengedepankan rasionalitas maka kehidupan tidak akan berjalan dengan seimbang, oleh karena itu Allah menciptakan pembanding terhadap laki laki yang rasional atas perempuan yang didominasi oleh perasaan.

Dari perbedaan itu, syariat menjadi pengatur untuk tetap menjaga keseimbangan tersebut. Oleh karena itu atas dasar rasionalitas yang dimiliki oleh laki-laki mereka akan menjadi pemimpin bagi perempuan, dan perempuan harus mentaatinya ketika sudah dibersamakan. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan, karena jika para perempuan menuntut setara dalam hal ini sama halnya mereka sedang melawan fitrah. Namun juga bukan berarti kaum perempuan tidak berhak mendapat keadilan. Terlebih lagi jika itu keadilan dalam pendidikan.

Perempuan memiliki tugas kemanusiaan yang amat berat karena ia sebagai pendidik generasi seterusnya. Tentunya kita tidak asing lagi dengan ungkapan di berbagai makalah para ulama yaitu “Al Um madrasatul Ula” Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sosok ibu ibarat sebuah Madrasah ataupun Universitas. Keduanya tidak akan menghasilkan sarjana terbaik ataupun anak-anak dengan kualitas yang baik tanpa adanya kualitas terlebih dahulu dari lembaga itu sendiri yaitu dari madrasahnya. Oleh sebab itu perempuan dengan pendidikan yang baik akan mampu menjadi seorang ibu yang berkualitas dan memiliki anak-anak yang insya Allah berkualitas pula. Dari hal ini perempuan dituntut sadar bahwa seharusnya mereka tidak perlu menuntut kesetaraan namun keadilan, keadilan berpendidikan dan berkiprah untuk kemashlahatan umat. Kesetaraan tidak dibutuhkan karena dalam beberapa aspek kehidupannya, para perempuan di perintah oleh Allah dan di atur oleh agama untuk menjadi patuh terhadap laki-laki yaitu terhadap suami dan ayahnya. Tentunya hal itu memang diatur bertujuan untuk kemaslahatan perempuan itu sendiri. Sehingga tidak layak jika hal itu dianggap sebagai mendiskriminasikan perempuan.

Menurut hemat Ning Imaz, perempuan itu harus memiliki motivasi yang kuat untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam hal-hal positif. Namun juga harus membatasi dirinya pada hal-hal yang memang sudah diatur oleh agama yaitu ketundukannya terhadap suami dan ketundukannya terhadap orang-orang yang menjadi walinya. Jika perempuan merasa terdiskriminasi karena perempuan dianggap makhluk kedua lemah dan tidak berdaya hal itu sama seperti sedang menyalahkan fitrah. Tidak perlu melawan bahwa sebetulnya perempuan ini tidak selemah itu. Para perempuan cukup dengan membuktikan dan menunjukkan saja bahwa mereka memang memiliki kompetensi yang mampu diadu dan juga memiliki hak untuk dipercaya bahwa mereka bisa melakukan hal-hal lebih dari stigma negatif yang dibebankan kepada mereka. []

Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira


Link 1

Link 2



Next Post Previous Post
5 Comments
  • sarahulfah
    sarahulfah 11 September 2023 pukul 14.17

    Awesome

  • 5Tips
    5Tips 11 September 2023 pukul 14.27

    Kalimat "perempuan cukup dengan membuktikan dan menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi yang mampu diadu (bersaing)" saya kira sangat tepat dan menjadi poin utama untuk menghilangkan stigma"lemwh" bagi perempuan.

    • INTIinspira
      INTIinspira 12 September 2023 pukul 13.17

      Sepakat. Perempuan bukan makhluk kedua.

  • Sarah
    Sarah 11 September 2023 pukul 17.10

    Setiap perempuan itu unik. Memiliki keindahan masing-masing dan kelebihan masing-masing pula. Potensi yang dimiliki setiap perempuan harus di rawat, di jaga dan didukung.
    Bersyukur menjadi perempuanđź’“

    • INTIinspira
      INTIinspira 12 September 2023 pukul 13.18

      Berdayalah perempuan!

Add Comment
comment url

Artikel Relevan