Clock

Menghadapi Rutinitas A la Camus

 



Oleh: Arizul Suwar

    Rutinitas keseharian yang kita lakukan entah sebagai mahasiswa yang hari-harinya harus berangkat ke kampus, sebagai pemuda yang setiap hari nongkrong di warung kopi bersama teman-teman, dan lain sebagainya sebenarnya telah mengendapkan pertanyaan-pertanyaan eksistensialis tentang keberadaan diri sebagai seseorang yang unik dan berada di dalam dunia, kenapa dan untuk apa kita hadir di sini? Pertanyaan-pertanyaan yang mengendap ini seringkali tidak mengganggu di saat kita berada dalam situasi keramaian, bersama teman-teman misalnya. Namun, dalam kesendirian, terkadang di keheningan malam, pertanyaan itu menggelegak keluar, sebenarnya apa arti hidup yang aku jalani ini?

    Pertanyaan mendasar tentang makna keberadaan sebagai manusia telah mengundang kecemasan untuk duduk berhadapan menatap kita. Kecemasan berwujud ketidakpastian, ketidakjelasan akan sesuatu yang ada di masa depan. Kecemasan itu menghantui kesadaran kita. Namun terhadap pertanyaan semacam itu, seseorang masih punya ruang untuk menghindarinya, dia akan lari ke apa kata orang, yang dengan itu dia merasa tenteram -setidaknya untuk waktu yang sementara. Seseorang masih mungkin untuk mengelak dari pertanyaan eksistensial seperti di atas.

    Ada pertanyaan turunan yang penulis kira lebih banyak menghantui, dan terhadap pertanyaan ini, kita amat susah untuk mengelaknya. Dalam kondisi yang tidak terduga, pertanyaan-pertanyaan semacam; apa artinya rutinitas keseharianku ini? Apakah itu berguna atau mungkin hanya menjadi beban? Untuk apa aku lakukan ini semua? Seakan- akan ini tidak ada habisnya? Hidup aku kok seperti ini-ini aja ya? Berbagai pertanyaan terkait apa arti rutinitas keseharian bagaikan nyamuk yang beterba- ngan mengusik telinga kita. Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita ke dalam kondisi tidak bermakna bahkan tak berguna. Adakah sesuatu yang dapat membantu kita keluar dari kondisi semacam ini?

Analogi Kehidupan

    Albert Camus (1913-1960), filsuf eksistensialis kelahiran Aljazair, mungkin dapat kita lirik untuk me- nemukan cara atau tawaran dalam menghadapi kondisi ketidakbermaknaan seperti di atas, Camus menulis beberapa karya, yang paling terkenal adalah La peste (The Plague/Sampar) yang terbit pada 1947. Melalui novel La peste (Sampar) ini, Camus menunjukkan caranya menyikapi hidup yang penuh dengan absurditas melalui tokoh utamanya Dokter Rieux La peste (Sampar) bercerita tentang tikus-tikus hitam yang membawa wabah Sampar ke kota Oran. Setelah tikus-tikus bergelimpangan, manusia lalu bertumbangan mati. Wabah pes ini membawa berita buruk bagi orang-orang, jika terjangkit, tak ada kemungkinan selain mati. Sedangkan sembuh adalah keajaiban yang tidak dapat dijadikan pertimbangan. Lantas, sebagai seorang dokter, apa yang berarti bagi tindakannya. Jika kesembuhan tidak dapat diharapkan, lantas mengapa Dokter Rieux masih menjalankan tugasnya untuk mengurus pasien, bukankah itu hanya sia-sia? Kalaupun masih ada harapan yang tersisa, itu hanya sebatas memperlambat kematian si pasien, apa gunanya? Di tengah-tengah kondisi absurd yang sedemikian rupa, satu-satunya yang dapat dipertimbangkan Dokter Rieux untuk membuat keputusan adalah fakta bahwa ada orang di depan matanya yang butuh pertolongan Dokter Rieux sama sekali tidak peduli apakah sesudah itu si pasien akan mati atau sembuh, toh kematian di depan Sampar adalah lebih mungkin. Dokter Rieux bersetia kepada kemanusiaan, fakta ada orang di depan mata yang butuh pertolongan, itulah satu-satunya pertimbangan untuk sesegera mungkin menyingsingkan lengan baju memberikan pertolongan. Prinsip yang dibangun Dokter Rieux adalah bertempur tanpa perlu mengharapkan kemenangan!

Solusi Untuk Kehidupan yang Absurd

    Semangat Camus yang diilustrasikan melalui sosok Dokter Rieux dalam novel La Peste (Sampar) dapat menjadi semacam tawaran bagi kita dalam meng- hadapi rutinitas keseharian, semangat Camus adalah bertempur, bukan menyerah, walau di hadapan kondisi ketiadaan harapan sekalipun. Di hadapan rutinitas yang mengundang pertanyaan untuk apa ini semua? Camus memberikan jawaban untuk memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk saat ini dan di sini. Fakta bahwa ada orang di depan mata yang membutuhkan pertolongan cukup untuk menjadi alasan mengapa saya harus membantu, tanpa peduli apakah tindakan ini banyak berguna atau tidak. Fakta bahwa saya sedang berada di ruangan belajar cukup untuk menjadi alasan saya untuk belajar. Fakta bahwa saya sedang duduk di depan laptop cukup menjadi alasan untuk menulis, tanpa perlu sibuk mempertimbangkan apakah nanti ada yang membaca atau tidak. Fakta bahwa ada ibu yang meminta anaknya untuk melanjutkan pendidikan cukup untuk menjadi alasan melaksanakannya. Fakta bahwa ada siswa atau mahasiswa di depan saya cukup untuk menjadi alasan mengajar sebaik mungkin, walau tak banyak yang dapat diharapkan dari hasil mengajar tersebut

    Semangat ke-di-sini-an Camus sebagaimana para filsuf eksitensialis lainnya sangat penting untuk diinternalisasikan, hal ini karena pada umumnya orang, lebih memilih untuk hidup di masa lalu melalui sikap romantik yang sebenarnya tak bisa lagi diulang, dan ada sebagian yang memilih untuk hidup dalam angan-angan di masa depan yang sama sekali tidak pasti. Hal ini misalnya terlihat pada tegangan antara masa lalu dengan masa depan di saat seseorang harus membuat keputusan, entah itu keputusan sepele ataupun serius. Di saat hendak mengambil keputusan, masa lalu menghantui dan masa depan memberi ilusi. Jika tegangan itu tidak dapat diantisipasi dengan kesadaran ke-di-sini-an maka sese orang akan terjatuh ke dalam salah satu di antara dua sikap; pesimis atau acuh tak acuh akan keberadaannya di dunia ini. Jika hal tersebut terjadi, maka otomatis seseorang tidak sungguh-sungguh hidup di sini dan saat ini (sekarang). Dalam kondisi seperti ini, Camus mendeklarasikan kesetiannya terhadap fakta ke-di-sini-an, Apa yang ada di hadapanku kini? Itulah yang harus aku lakukan, tanpa sibuk dengan romantisme masa lalu ataupun ilusi masa depan. Bahkan lebih ekstrem, bagi Camus, kehidupan hanya ada saat ini, esok tidak ada lagi, hari esok adalah kematian! []

Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira







Link 1



Link 2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan