Upah-Upah: Tradisi yang Penuh Doa dan Kebersamaan

INTIinspira - Indonesia memiliki banyak sekali budaya yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satu budaya yang menarik perhatian saya adalah upah-upah, tradisi yang berasal dari masyarakat Batak Mandailing di Sumatra Utara.

Sejak kecil saya sudah sering mendengar nama tradisi ini dari orang tua dan keluarga. Namun, saat itu saya hanya menganggapnya sebagai acara adat biasa yang dilakukan ketika ada peristiwa penting dalam keluarga. 

Baru setelah melihat langsung pelaksanaannya, saya mulai memahami bahwa upah-upah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan.

Saya masih ingat ketika salah satu anggota keluarga kami mengadakan 
upah-upah setelah sembuh dari sakit.

Sejak pagi suasana rumah sudah berbeda dari biasanya. Banyak keluarga dan kerabat datang silih berganti.

Sebagian membantu memasak di dapur, sebagian lagi menyiapkan tempat untuk acara. Ada yang mengatur kursi, menyiapkan hidangan, dan ada pula yang menyambut tamu yang baru datang.

Saat itu saya melihat bagaimana keluarga besar berkumpul tanpa memandang usia. Orang tua, anak muda, hingga anak-anak berada dalam satu suasana yang hangat. Mereka saling berbincang, bercanda, dan membantu satu sama lain.

Pemandangan seperti ini mungkin sudah mulai jarang ditemui di tengah kesibukan masyarakat saat ini. Karena itulah saya merasa 
upah-upah memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antaranggota keluarga.

Ketika acara dimulai, orang yang akan di upah-upah duduk di tempat yang telah disediakan.

Setelah itu, beberapa orang yang lebih tua secara bergantian memberikan nasihat. Mereka mengingatkan pentingnya bersyukur kepada Allah SWT, menjaga hubungan baik dengan sesama, menghormati orang tua, serta menjalani hidup dengan penuh kesabaran.

Saya memperhatikan dengan saksama setiap pesan yang disampaikan karena semuanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah saat seluruh tamu dan keluarga bersama-sama memanjatkan doa. Suasana yang sebelumnya ramai mendadak menjadi tenang.

Semua mengangkat tangan dan memohon kebaikan kepada Allah SWT. Mereka berdoa agar orang yang di-upah-upah selalu diberikan kesehatan, keselamatan, umur yang berkah, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Dari momen itu saya menyadari bahwa inti dari tradisi ini sebenarnya adalah doa dan harapan baik yang diberikan oleh keluarga kepada seseorang.

Dalam masyarakat Batak Mandailing, upah-upah biasanya dilakukan pada berbagai peristiwa penting. Selain untuk orang yang sembuh dari sakit, tradisi ini juga sering dilaksanakan menjelang atau setelah pernikahan, saat kelahiran anak, ketika seseorang memperoleh keberhasilan tertentu, maupun saat akan berangkat atau pulang dari ibadah haji.

Semua momen tersebut dianggap sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup sehingga perlu disertai doa dan restu dari keluarga.

Hal lain yang membuat saya tertarik adalah kuatnya pengaruh nilai-nilai Islam dalam tradisi ini.

Masyarakat Batak Mandailing yang mayoritas beragama Islam menjadikan ajaran agama sebagai bagian penting dalam pelaksanaan 
upah-upah.

Doa-doa yang dibacakan ditujukan kepada Allah SWT, sering disertai pembacaan ayat Al-Qur'an dan nasihat keagamaan.

Selain prosesi doa dan nasihat, makanan yang disajikan juga memiliki makna tersendiri. Setelah mendengar penjelasan dari orang-orang tua, saya mengetahui bahwa setiap makanan memiliki simbol tertentu.

Ikan mas melambangkan harapan akan kehidupan yang baik dan harmonis. Telur rebus menjadi lambang keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Sementara nasi atau beras melambangkan kemakmuran dan harapan agar rezeki selalu tersedia.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, semua tamu menikmati makanan bersama. Suasana kembali santai dan penuh keakraban. Orang-orang saling bertukar cerita sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. 

Momen seperti itulah yang justru menjadi salah satu bagian yang paling saya sukai karena memperlihatkan eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat.

Menurut saya, tradisi upah-upah masih sangat relevan hingga sekarang. Di tengah kehidupan yang serba cepat, tradisi ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Upah-upah juga mengajarkan bahwa kebahagiaan dan keberhasilan seseorang tidak untuk dirasakan sendiri, tetapi juga dirayakan bersama melalui doa dan dukungan dari orang-orang terdekat. 

Bagi saya, upah-upah ini menjadi pengingat tentang arti syukur, kepedulian, kebersamaan, dan pentingnya saling mendoakan. Nilai-nilai inilah yang membuat tradisi tersebut tetap hidup dalam masyarakat Batak Mandailing hingga saat ini.


Penulis: Sri Paraswati Bako (Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan