Hidup yang Tidak Lagi Kita Hayati
INTIinspira - Tadi sore aku membesuk seniorku yang sedang sakit di rumahnya. Sepulang dari situ, aku masuk kamar, duduk, lalu menyalakan rokok.
Sore ini—seperti sore-sore sebelumnya—terasa sangat melelahkan, terlalu banyak hal yang harus kuselesaikan satu per satu.
Sambil duduk begitu, aku tanpa sadar membuka HP, lalu Facebook. Tiba-tiba lewat sebuah video pendek dari Martin Suryajaya, membahas soal kenapa waktu terasa begitu singkat.
Dari pertanyaan itu, ia lalu mendedahkan pemikiran Byung-Chul Han, sang filsuf asal Korea, tentang bagaimana ia memandang waktu.
Pertanyaan di awal video itu cukup menarik bagiku, karena memang aku sendiri sering merasa, kenapa kok waktu terasa berjalan begitu cepat, padahal jumlah jam dan menit dalam sehari sama saja dari dulu sampai sekarang?
Aku sendiri, sambil menghisap rokok itu, sempat berpikir begini: Rasanya baru saja pagi saat aku berangkat kerja, tahu-tahu sudah sore lagi, tahu-tahu sudah membesuk orang sakit, tahu-tahu sudah duduk kelelahan begini.
Aku terus mendengar pemaparan Martin. Katanya, menurut Han, masyarakat kontemporer ini hidup dalam apa yang disebutnya masyarakat kelelahan, masyarakat yang serba dipacu, serba dituntut produktif, serba terburu-buru mengejar target demi target.
Pagi rapat, siang mengejar deadline, sore ke gym, malam masih ada kerjaan yang menunggu.
Semua orang sibuk, tapi anehnya, kesibukan itu justru membuat waktu terasa hampa, tak bermakna, hilang begitu saja.
Tidak ada lagi jeda, tidak ada lagi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar meresapi satu momen.
Kenyataan semacam ini oleh Han disebut sebagai krisis dari hilangnya durasi.
Waktu tidak lagi mengalir sebagai satu rangkaian yang utuh dan bermakna, melainkan terpotong-potong menjadi kepingan kecil yang tidak ada hubungan satu sama lain, seperti video-video pendek yang sering kita lihat di media sosial.
Satu video habis, muncul video lain, lalu lagi, dan lagi, tanpa benar-benar ada yang menempel di kepala begitu jarinya berhenti menggeser.
Satu tugas selesai, langsung disusul tugas berikutnya, tanpa sempat merasakan bahwa satu hal sudah tuntas.
Akibatnya, meski hari terasa penuh kesibukan, namun justru tidak meninggalkan bekas apa pun di ingatan.
Waktu terasa cepat justru karena tidak ada yang benar-benar "berkesan" di dalamnya.
Dari sinilah titik berangkat kritik Han. Ia bilang bahwa masyarakat hari ini sudah kehilangan kemampuan untuk berhenti. Bukan lagi sibuk, tapi sudah gelisah kalau tidak sibuk.
Coba perhatikan, jarang sekali orang duduk diam tanpa pegang HP barang semenit dua menit, seakan-akan diam itu sesuatu yang harus buru-buru diisi.
Tidak usah jauh-jauhlah untuk cari contohnya, waktu mau istirahat sebentar, tapi entah bagaimana tangan otomatis meraih HP, buka medsos, scroll sampe mentok.
Han bilang, ini merupakan gejala dari masyarakat yang sudah lupa caranya diam.
Segala sesuatu harus produktif, bahkan waktu untuk istirahat pun diam-diam dituntut untuk "menghasilkan" sesuatu, entah itu informasi baru, hiburan baru, atau sekadar hiburan sesaat.
Yang lebih ironis, kata Han, manusia hari ini mengira dirinya bebas karena bisa memilih apa saja untuk dikonsumsi, mau nonton apa, mau scroll ke mana, semua serba pilihan.
Tapi kebebasan itu ternyata semu, karena yang sebenarnya terjadi adalah dia terus-menerus digiring dari satu rangsangan ke rangsangan lain, tanpa pernah belajar berhenti untuk diam sejenak.
Persis seperti tadi, merasa sedang "istirahat", padahal yang terjadi cuma pindah dari satu kesibukan fisik ke kesibukan digital.
Di titik inilah, nampaknya hidup yang sedang berlangsung ini tidak lagi kita hayati. Sebab, yang kita jalani sehari-hari sesungguhnya cuma lewat begitu saja, tidak lagi kita rasakan maknanya.
Lalu, apa tawaran Han menghadapi ini? Ia menawarkan untuk menghidupkan kembali vita contemplativa, yakni kemampuan untuk berhenti, diam, dan membiarkan satu momen benar-benar dihayati tanpa buru-buru berpindah ke momen berikutnya.
Han bahkan bicara soal pentingnya kembali punya "waktu yang berbau", waktu yang punya aroma dan tekstur karena dihayati secara utuh, bukan cuma lewat.
Contoh paling sederhana barangkali begini: alih-alih membuka HP begitu duduk sebentar, coba benar-benar menghabiskan waktu istirahat itu sebagai satu momen utuh, mendengar suara detak jam, membiarkan pikiran mengendap sejenak tanpa diisi rangsangan baru.
Atau, seperti momen membesuk seniorku tadi sore, andai saja aku benar-benar meresapi momen itu, duduk sebentar di sampingnya, mendengarkan ceritanya tanpa terburu memikirkan kesibukan lain yang menunggu, mungkin momen itu akan "tinggal” di ingatan, dibanding sekadar jadi satu jadwal dalam daftar kegiatan hari ini.
Bagi Han, dengan menghidupkan kembali kemampuan diam dan menghayati semacam itu, waktu tidak lagi terasa berlalu begitu saja seperti gulungan video pendek, melainkan kembali punya bobot, kembali punya makna yang bisa dikenang.
Dan barangkali, di situlah masalahnya, bukan waktu yang berputar cepat, tapi kita yang sudah lupa bagaimana cara menghidupinya.
Sekitar 3 menit berlalu, video itu pun selesai. Aku segera mematikan HP, beranjak mandi, dan hendak istirahat.[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Sore ini—seperti sore-sore sebelumnya—terasa sangat melelahkan, terlalu banyak hal yang harus kuselesaikan satu per satu.
Sambil duduk begitu, aku tanpa sadar membuka HP, lalu Facebook. Tiba-tiba lewat sebuah video pendek dari Martin Suryajaya, membahas soal kenapa waktu terasa begitu singkat.
Dari pertanyaan itu, ia lalu mendedahkan pemikiran Byung-Chul Han, sang filsuf asal Korea, tentang bagaimana ia memandang waktu.
Pertanyaan di awal video itu cukup menarik bagiku, karena memang aku sendiri sering merasa, kenapa kok waktu terasa berjalan begitu cepat, padahal jumlah jam dan menit dalam sehari sama saja dari dulu sampai sekarang?
Aku sendiri, sambil menghisap rokok itu, sempat berpikir begini: Rasanya baru saja pagi saat aku berangkat kerja, tahu-tahu sudah sore lagi, tahu-tahu sudah membesuk orang sakit, tahu-tahu sudah duduk kelelahan begini.
Aku terus mendengar pemaparan Martin. Katanya, menurut Han, masyarakat kontemporer ini hidup dalam apa yang disebutnya masyarakat kelelahan, masyarakat yang serba dipacu, serba dituntut produktif, serba terburu-buru mengejar target demi target.
Pagi rapat, siang mengejar deadline, sore ke gym, malam masih ada kerjaan yang menunggu.
Semua orang sibuk, tapi anehnya, kesibukan itu justru membuat waktu terasa hampa, tak bermakna, hilang begitu saja.
Tidak ada lagi jeda, tidak ada lagi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar meresapi satu momen.
Kenyataan semacam ini oleh Han disebut sebagai krisis dari hilangnya durasi.
Waktu tidak lagi mengalir sebagai satu rangkaian yang utuh dan bermakna, melainkan terpotong-potong menjadi kepingan kecil yang tidak ada hubungan satu sama lain, seperti video-video pendek yang sering kita lihat di media sosial.
Satu video habis, muncul video lain, lalu lagi, dan lagi, tanpa benar-benar ada yang menempel di kepala begitu jarinya berhenti menggeser.
Satu tugas selesai, langsung disusul tugas berikutnya, tanpa sempat merasakan bahwa satu hal sudah tuntas.
Akibatnya, meski hari terasa penuh kesibukan, namun justru tidak meninggalkan bekas apa pun di ingatan.
Waktu terasa cepat justru karena tidak ada yang benar-benar "berkesan" di dalamnya.
Dari sinilah titik berangkat kritik Han. Ia bilang bahwa masyarakat hari ini sudah kehilangan kemampuan untuk berhenti. Bukan lagi sibuk, tapi sudah gelisah kalau tidak sibuk.
Coba perhatikan, jarang sekali orang duduk diam tanpa pegang HP barang semenit dua menit, seakan-akan diam itu sesuatu yang harus buru-buru diisi.
Tidak usah jauh-jauhlah untuk cari contohnya, waktu mau istirahat sebentar, tapi entah bagaimana tangan otomatis meraih HP, buka medsos, scroll sampe mentok.
Han bilang, ini merupakan gejala dari masyarakat yang sudah lupa caranya diam.
Segala sesuatu harus produktif, bahkan waktu untuk istirahat pun diam-diam dituntut untuk "menghasilkan" sesuatu, entah itu informasi baru, hiburan baru, atau sekadar hiburan sesaat.
Yang lebih ironis, kata Han, manusia hari ini mengira dirinya bebas karena bisa memilih apa saja untuk dikonsumsi, mau nonton apa, mau scroll ke mana, semua serba pilihan.
Tapi kebebasan itu ternyata semu, karena yang sebenarnya terjadi adalah dia terus-menerus digiring dari satu rangsangan ke rangsangan lain, tanpa pernah belajar berhenti untuk diam sejenak.
Persis seperti tadi, merasa sedang "istirahat", padahal yang terjadi cuma pindah dari satu kesibukan fisik ke kesibukan digital.
Di titik inilah, nampaknya hidup yang sedang berlangsung ini tidak lagi kita hayati. Sebab, yang kita jalani sehari-hari sesungguhnya cuma lewat begitu saja, tidak lagi kita rasakan maknanya.
Lalu, apa tawaran Han menghadapi ini? Ia menawarkan untuk menghidupkan kembali vita contemplativa, yakni kemampuan untuk berhenti, diam, dan membiarkan satu momen benar-benar dihayati tanpa buru-buru berpindah ke momen berikutnya.
Han bahkan bicara soal pentingnya kembali punya "waktu yang berbau", waktu yang punya aroma dan tekstur karena dihayati secara utuh, bukan cuma lewat.
Contoh paling sederhana barangkali begini: alih-alih membuka HP begitu duduk sebentar, coba benar-benar menghabiskan waktu istirahat itu sebagai satu momen utuh, mendengar suara detak jam, membiarkan pikiran mengendap sejenak tanpa diisi rangsangan baru.
Atau, seperti momen membesuk seniorku tadi sore, andai saja aku benar-benar meresapi momen itu, duduk sebentar di sampingnya, mendengarkan ceritanya tanpa terburu memikirkan kesibukan lain yang menunggu, mungkin momen itu akan "tinggal” di ingatan, dibanding sekadar jadi satu jadwal dalam daftar kegiatan hari ini.
Bagi Han, dengan menghidupkan kembali kemampuan diam dan menghayati semacam itu, waktu tidak lagi terasa berlalu begitu saja seperti gulungan video pendek, melainkan kembali punya bobot, kembali punya makna yang bisa dikenang.
Dan barangkali, di situlah masalahnya, bukan waktu yang berputar cepat, tapi kita yang sudah lupa bagaimana cara menghidupinya.
Sekitar 3 menit berlalu, video itu pun selesai. Aku segera mematikan HP, beranjak mandi, dan hendak istirahat.[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Foto: Melting clock at sunset/dibuat dengan AI


