Merangkai Kembali Puing Peradaban Lewat Kebiasaan Membaca

Identitas Buku

Judul

:

Membaca Membangun Puing Peradaban

Penulis

:

Muhammad Syarif Bando

Penerbit

:

Indonesia Emas Group

Tahun terbit

:

2023

Jumlah halaman

:

143 halaman

ISBN

:

978-623-8307-44-9


Pendahuluan

INTIinspira - Membaca Membangun Puing Peradaban karya Muhammad Syarif Bando adalah buku yang membahas mengapa budaya membaca begitu penting bagi kemajuan suatu bangsa.

Judulnya sudah cukup provokatif dengan menggunakan istilah "puing peradaban" seolah menyiratkan bahwa kita sedang membangun sesuatu dari reruntuhan, dan membaca adalah salah satu alatnya.

Buku ini hadir di tengah tantangan literasi yang makin kompleks—kurangnya ketersediaan buku, pergeseran ke konten audiovisual, hingga disrupsi digital yang mengubah cara orang mengonsumsi informasi.

Tapi penulis tidak berhenti di keluhan. Ia justru melihat teknologi sebagai peluang: membaca kini makin mudah, murah, dan bisa dilakukan dari mana saja.

Ringkasan Isi Buku

Buku ini berpusat pada satu gagasan utama yaitu masyarakat yang punya budaya baca akan lebih mudah mencapai kemajuan karena mereka terbiasa berpikir kritis, haus ilmu pengetahuan, dan terbuka pada inovasi.

Sebaliknya, masyarakat yang melek aksara tetapi tidak gemar membaca akan stagnan. Mereka bisa membaca huruf, tetapi tidak membangun pengetahuan dari sana. Penulis menyebut kondisi ini sebagai kegagalan Indonesia bertransformasi dari masyarakat melek aksara menjadi masyarakat berbudaya baca.

Muhammad Syarif Bando juga menjelaskan bahwa minat baca dan perilaku membaca saling memengaruhi. Semakin tinggi kebiasaan membaca seseorang, semakin kuat minatnya. Sebaliknya, rendahnya kebiasaan membaca berdampak langsung pada kualitas literasi secara keseluruhan.

Untuk menjelaskan hakikat membaca, penulis menegaskan bahwa, “Membaca adalah bringing meaning to and getting meaning from printed or written material. Dengan kata lain, membaca tidak hanya sekadar melafalkan kata dan kalimat, tapi juga memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis” (hlm. 11). 

Kutipan ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya kegiatan teknis mengenali huruf dan kata, melainkan proses memahami serta mengolah makna yang terkandung dalam sebuah teks.

Lebih jauh, buku ini menekankan bahwa membaca adalah pintu masuk ke ilmu pengetahuan apa pun. Lewat membaca, seseorang dapat mengenal peristiwa masa lalu, memahami kondisi hari ini, dan mengantisipasi masa depan. 

Ia juga dapat belajar dari tokoh-tokoh besar dunia tanpa harus berpindah tempat. 

Menumbuhkan minat baca, menurut penulis, merupakan langkah pertama untuk menciptakan budaya membaca yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. 

Literasi tidak akan berkembang tanpa kebiasaan membaca yang dilakukan secara teratur.

Analisis, Kelebihan, dan Kekurangan

Muhammad Syarif Bando menulis buku ini dengan bahasa yang cukup mudah diikuti, dan tema yang diangkat terasa relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Hubungan antara budaya membaca dan kemajuan peradaban dijelaskan dengan cukup runtut, sehingga pembaca bisa memahami alur argumentasinya tanpa perlu latar belakang akademis yang khusus.

Buku ini juga memuat banyak nilai yang berguna semisal soal pentingnya belajar, disiplin, dan semangat membangun literasi di lingkungan sekitar.

Namun ada beberapa hal yang terasa kurang. Beberapa bagian pembahasannya cukup panjang dan padat, sehingga butuh konsentrasi ekstra untuk mengikutinya.

Contoh-contoh konkret dari kehidupan sehari-hari juga masih bisa ditambah agar pembaca lebih mudah mengaitkan isi buku dengan pengalaman nyata.

Karena sifatnya yang edukatif dan serius, buku ini mungkin terasa berat bagi pembaca yang mencari bacaan ringan.

Penutup

Membaca Membaca Membangun Puing Peradaban adalah buku yang tepat dibaca oleh siapa saja yang peduli dengan masa depan literasi Indonesia, terutama para calon pendidik.

Buku ini mendengungkan kembali bahwa kemajuan bangsa tidak datang tiba-tiba, melainkan dibangun perlahan lewat kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini.

Bagi mahasiswa PIAUD, pesan buku ini sangatlah kontekstual, anak-anak yang kelak kita didik butuh lingkungan yang menghargai buku, dan itu dimulai dari gurunya sendiri.

Penulis: Putriani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan