Sungai Itu Tak Lagi Jernih

INTIinspira - Sungai itu berada tepat di depan rumah yang kini kutempati bersama ibu dan adikku.

Setelah ayah pergi beberapa tahun lalu, rumah kecil ini menjadi tempat kami bertahan hidup dengan segala kekurangan yang ada.

Dari jendela depan rumah, sungai itu selalu terlihat. Ia bukan sekadar aliran air bagi kami. Ia adalah bagian dari hidup, saksi masa kecil, sekaligus saksi bagaimana keserakahan perlahan merampas kehidupan orang-orang kecil seperti kami.

Dulu, sungai itu begitu jernih.

Airnya mengalir tenang dengan warna kehijauan yang menenangkan mata. Ayahku sering turun mencari ikan di sana. Hasil tangkapannya tidak banyak, tetapi cukup untuk makan bersama keluarga. Kami memang tidak mampu membeli ikan laut yang harganya mahal di pasar, sehingga sungai itu menjadi sumber lauk yang paling setia.

Aku masih ingat bagaimana ibu memasak ikan hasil tangkapan ayah dengan bumbu sederhana, lalu kami menyantapnya bersama-sama di lantai rumah sambil mendengar suara air sungai mengalir di luar.

Sungai itu juga menjadi tempat kami mandi, mencuci, bahkan mengambil air minum. 

Pada masa itu, kami tidak mengenal air kemasan seperti Aqua, Le Minerale, dan sejenisnya. Kami juga tidak punya uang untuk membelinya. Air sungai itulah yang menghilangkan dahaga kami setiap hari. 

Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa curiga. Kami percaya bahwa alam selalu memberi kehidupan.

Namun sekarang, semua itu tinggal kenangan.

Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi sumber penderitaan. Airnya keruh kecokelatan. Bau lumpur bercampur limbah menusuk hidung. Ikan-ikan menghilang entah ke mana. Anak-anak tak lagi berenang di sana seperti dulu. Bahkan aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali mandi di sungai itu.

Yang paling menyakitkan bukan hanya perubahan sungainya, tetapi kenyataan bahwa kerusakan ini terjadi karena ulah manusia sendiri. Sungai kami tidak rusak begitu saja. Ia dirusak secara perlahan oleh keserakahan orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan.

Di daerah kami, aktivitas tambang emas semakin marak dari tahun ke tahun. Beko-beko besar masuk ke kawasan sungai dan hutan. Tanah dikeruk tanpa belas kasihan. Lumpur dibuang ke aliran air. Zat-zat berbahaya mengalir bebas tanpa pengawasan. Alam diperlakukan seperti barang murah yang bisa dihabiskan kapan saja.

Ironisnya, semua itu seperti dibiarkan.

Di depan rakyat, para pejabat berbicara tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka mengajak masyarakat mencintai alam, merawat sungai, dan menjaga hutan demi masa depan. Tetapi di belakang semua pidato itu, rakyat kecil justru melihat kenyataan yang berbeda. Tambang-tambang terus beroperasi. Alat berat terus bekerja. Sungai terus mati perlahan.

Sering kudengar cerita tentang bos-bos tambang yang mendapatkan emas berons-ons setiap harinya. Jika diuangkan, nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Modal mereka hanya alat berat dan keberanian merusak alam. Sementara kami, masyarakat biasa yang hidup di sekitar sungai, hanya mendapat air kotor, penyakit, dan kehilangan sumber kehidupan.

Mereka menikmati keuntungan di atas penderitaan rakyat kecil.

Yang lebih menyedihkan, kerusakan lingkungan selalu paling berat dirasakan oleh orang miskin. Orang kaya masih bisa membeli air bersih, pindah rumah ke tempat yang nyaman, atau berobat ke rumah sakit ketika sakit akibat pencemaran. Tetapi rakyat kecil seperti kami hanya bisa bertahan dengan keadaan yang ada.

Kami tidak punya pilihan lain.

Ketika sungai tercemar, kami kehilangan tempat mandi. Ketika ikan mati, kami kehilangan sumber makanan. Ketika air menjadi racun, kami tetap terpaksa menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Beginilah wajah ketidakadilan itu bekerja: keuntungan dinikmati segelintir orang, sedangkan penderitaan ditanggung masyarakat banyak.

Sudah lebih dari sepuluh tahun sungai di depan rumahku tak lagi jernih. Selama itu pula kami hanya bisa melihat luka yang tak kunjung sembuh.

Setiap kali memandang aliran air yang keruh itu, aku selalu teringat masa kecilku bersama ayah. Aku teringat suara tawa ketika kami mandi di sungai. Aku teringat rasa bangga membawa pulang ikan hasil tangkapan sendiri. Semua kenangan itu kini terasa jauh, seolah berasal dari dunia yang berbeda.

Padahal sungai ini belum sepenuhnya mati. Ia masih mengalir, meski membawa lumpur dan racun. Ia seperti sedang menunggu seseorang benar-benar peduli dan berhenti menjadikannya korban kerakusan.

Tulisan ini adalah cerita tentang banyak desa di negeri ini yang mengalami nasib serupa. Alam dirusak atas nama pembangunan dan keuntungan, sementara suara rakyat kecil sering dianggap tidak penting.

Padahal bagi kami, sungai bukan hanya air yang mengalir. Sungai adalah kehidupan.

Dan ketika sungai dirusak, yang sebenarnya dirusak bukan hanya alam, tetapi juga harapan hidup masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya pada alam itu sendiri.

Penulis: Wahyu Khairul Ichsan (Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, suka membaca jarang menulis, penulis dapat dihubungi melalui: wahyukhairulichsan@gmail.com).
Ilustrasi: A child at the crossroads of nature and industry, dibuat dengan AI.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan