Setelah Membesarkan Anak, Apakah Orang Tua Berhak Menagih Balas?
INTIinspira - Mengawali libur yang tidak terlalu panjang ini, saya memilih mendengarkan podcast Gus Baha.
Banyak teman saya yang kurang menyukai kajian beliau karena tidak paham bahasa jawa. Beruntung, saya yang seorang Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) ini sedikit banyak mengerti apa yang beliau ucapkan.
Back on topic, salah satu kalimat yang paling menarik dari Gus Baha adalah: anak adalah aset Sang Pencipta, bukan aset orang tua.
Mengapa demikian? Sebab, kita sebagai orang tua sama sekali tidak memiliki andil dalam proses penciptaan mereka.
Gojlokan (candaan) dan analogi dari Gus Baha sangat masuk akal. Beliau menggambarkan bahwa suami menggauli istri awalnya untuk menyalurkan kebutuhan biologis.
Lalu, melalui wasilah tersebut, Tuhan menetapkan hukum proses awal penciptaan manusia lewat bertemunya sel sperma dan sel telur.
Jadi, bagaimana bisa manusia mengklaim bahwa anak itu adalah miliknya, padahal motivasi awalnya hanyalah menyalurkan hawa nafsu?
Eh ketika si anak sudah lahir, dan menyandang bin ayahnya, lalu mengklaim. Ini anakku, aku yang ngurusin, aku yang besarin, aku yang ngasih makan, aku yang sekolahin. Padahal itu kewajiban bukanlah hubungan transaksional.
Anak sudah dirawat, suatu saat menagih budi untuk merawat kembali atau bahkan menarik deposito biaya kehidupan yang sudah ditabung sejak ia lahir ke dunia selayaknya bisnis atau usaha yang kita bangun dan jalankan sehingga ia menghasilkan passive income.
Anak bukanlah aset kita, tempat kita berharap dia akan mengurusi kita di masa tua, atau menjadi sponsor kehidupan saat kita renta.
Anak adalah aset Tuhan, bukan aset kita.
Tuhan dengan jelas menyampaikan dalam Alquran bahwa ketetapan tentang kehidupan manusia—baik garis hidup, kebutuhan, maupun tujuannya—semua sudah diatur.
Jadi, bagaimana bisa manusia mengklaim bahwa anak itu adalah miliknya, padahal motivasi awalnya hanyalah menyalurkan hawa nafsu?
Eh ketika si anak sudah lahir, dan menyandang bin ayahnya, lalu mengklaim. Ini anakku, aku yang ngurusin, aku yang besarin, aku yang ngasih makan, aku yang sekolahin. Padahal itu kewajiban bukanlah hubungan transaksional.
Anak sudah dirawat, suatu saat menagih budi untuk merawat kembali atau bahkan menarik deposito biaya kehidupan yang sudah ditabung sejak ia lahir ke dunia selayaknya bisnis atau usaha yang kita bangun dan jalankan sehingga ia menghasilkan passive income.
Anak bukanlah aset kita, tempat kita berharap dia akan mengurusi kita di masa tua, atau menjadi sponsor kehidupan saat kita renta.
Anak adalah aset Tuhan, bukan aset kita.
Tuhan dengan jelas menyampaikan dalam Alquran bahwa ketetapan tentang kehidupan manusia—baik garis hidup, kebutuhan, maupun tujuannya—semua sudah diatur.
Tujuan tersebut adalah menjadi khalifah, atau kepanjangan tangan Tuhan untuk menjaga semesta ini agar berjalan sebaik-baiknya.
Sebagai penutup, Gus Baha mengingatkan bahwa tugas kita adalah menjaga dan merawat aset Tuhan tersebut dengan sebaik-baiknya. Harapannya, kelak anak-anak kita mengerti bahwa mereka adalah penerus estafet kekhalifahan yang hari ini sedang kita pegang sebagai orang tua.
Oleh karena itu, pola asuh kita saat ini akan menjadi patron (pola) dasar bagi karakter khalifah itu sendiri. Sebagai manusia berakal, kualitas seperti apa yang ingin kita wariskan saat nanti kita melepaskan "lencana tugas" ini?
Namun, kita juga tidak perlu cemas berlebihan tentang pasokan informasi atau nilai yang sudah kita berikan. Sebab, katakanlah sistem yang kita pasang (install) pada anak itu sempat rusak atau keliru, semesta akan tetap menjalankan hukum Tuhan dengan caranya sendiri.
Semesta akan selalu menjaga dirinya agar tetap abadi dan mampu terus menjadi wadah bagi kaki tangan Tuhan yang berjalan di muka bumi.
Muhammad Setia Putra: Digital Marketer, penikmat kopi, dan pencari makna dari hal-hal sederhana. Penulis dapat dihubungi lewat e-mail: sayasetiaputra@gmail.com
Sebagai penutup, Gus Baha mengingatkan bahwa tugas kita adalah menjaga dan merawat aset Tuhan tersebut dengan sebaik-baiknya. Harapannya, kelak anak-anak kita mengerti bahwa mereka adalah penerus estafet kekhalifahan yang hari ini sedang kita pegang sebagai orang tua.
Oleh karena itu, pola asuh kita saat ini akan menjadi patron (pola) dasar bagi karakter khalifah itu sendiri. Sebagai manusia berakal, kualitas seperti apa yang ingin kita wariskan saat nanti kita melepaskan "lencana tugas" ini?
Namun, kita juga tidak perlu cemas berlebihan tentang pasokan informasi atau nilai yang sudah kita berikan. Sebab, katakanlah sistem yang kita pasang (install) pada anak itu sempat rusak atau keliru, semesta akan tetap menjalankan hukum Tuhan dengan caranya sendiri.
Semesta akan selalu menjaga dirinya agar tetap abadi dan mampu terus menjadi wadah bagi kaki tangan Tuhan yang berjalan di muka bumi.
Muhammad Setia Putra: Digital Marketer, penikmat kopi, dan pencari makna dari hal-hal sederhana. Penulis dapat dihubungi lewat e-mail: sayasetiaputra@gmail.com


