Masalahnya Bukan Nilaimu, Tapi Lingkunganmu

INTIinspira - Di sela seruputan sanger panas (sebutan kopi dengan sedikit campuran susu di Aceh) tiba-tiba aplikasi WhatsApp saya masuk pesan dari orang yang tak asing, yup, itu pesan istri saya.

Isi pesannya, "Bang, semua handphone orang di sini iPhone, cuma adek yang bukan," ditutup dengan emoticon sedih, huhu.

Jawaban saya, "Fokus konteks aja, ikut acara itu mau ngapain? Yang di luar itu, kita obrolin sambil ngopi selesai acara ya, semangat." Saya tambahkan emoticon peluk.

Kembali saya menyeruput sanger panas yang sedari tadi menemani kesendirian saya di tengah penuhnya warkop ibu kota dan membuka kembali halaman buku "Membunuh Indonesia-Konspirasi Global Penghancuran Kretek".

Setelah acaranya selesai, percakapan saya mulai dengan menanyakan gimana acaranya. Syukurnya ia menjadi 1 dari 10 peserta terbaik dan bawa hadiah.

Dari raut wajahnya terlihat kalau hadiah yang ia dapatkan, sedikit mengobati susah hatinya terkait masalah handphone yang ia sampaikan di awal.

Setelah cerita panjang lebar tentang kegiatannya, akhirnya topik yang ingin kita bicarakan itu tiba dengan kalimat pembukanya, "Tahu gak bang? Si 'Mawar' ngiranya HP adek itu Android layar lengkung dengan harga belasan juta, karena bentuknya sama."

Saya kira ceritanya cukup di situ saja. Tapi ternyata tidak—ada yang lebih menarik dari sekadar salah tebak merek.

Sejenak saya merenung. Ternyata, dalam hal ini ungkapan bahwa "berlian akan tetap menjadi berlian di mana pun ia berada" tidak sepenuhnya tepat.

Kalau berlian itu asli namun dijual di kaki lima misalnya, orang akan melihat itu sebagai barang imitasi atau bahkan mungkin batu sungai biasa. Tidak ada yang berhenti untuk memperhatikan lebih lama, tidak ada yang merasa perlu membuktikan nilainya.

Namun, jika benda itu palsu sekalipun, jika ia dipajang di etalase toko mewah di pusat kota dan diterangi lampu sorot yang estetik, orang-orang akan mengira itu adalah barang antik berharga tinggi.

Dari cerita istri saya hari itu, saya belajar bahwa persepsi orang sering kali dibentuk oleh wadahnya, bukan isinya.

Di lingkungan yang salah, kualitas terbaik kita bisa jadi tidak terlihat atau dianggap biasa saja. Kita tidak bisa memaksa semua orang memiliki mata yang jeli untuk melihat nilai diri kita. Dan itu bukan salah mereka sepenuhnya—karena mata manusia memang sering kali melihat konteks sebelum melihat konten.

Tapi pembuktian istri saya hari itu menunjukkan hal yang sebaliknya.

Nilai sejati dirinya bukan terletak pada merek ponsel di kantongnya, melainkan pada kapasitas dirinya saat diletakkan di panggung yang tepat. Ia datang bukan dengan gawai terbaru, tapi dengan persiapan, dengan kepala yang jernih, dan dengan kemampuan yang sudah ia rawat jauh sebelum acara itu ada.

Hasilnya? Ia pulang sebagai salah satu dari sepuluh peserta terbaik. Bawa hadiah pula.

Kita akan menjadi benar-benar berharga ketika berada di lingkungan yang tepat, lingkungan yang mengukur dengan timbangan yang benar, bukan sekadar melihat dari kemasannya.

Jadi, jangan habiskan energi untuk meyakinkan lingkungan yang keliru bahwa kita bernilai. Lelah di sana tidak akan menghasilkan apa-apa selain rasa tidak cukup yang terus menggerogoti.

Cukup melangkah. Lalu cari atau ciptakan ekosistem yang bisa melihat, menghargai, dan menumbuhkan kilau kita yang sesungguhnya.

Karena kilau itu sudah ada. Ia hanya butuh cahaya yang tepat untuk terlihat.

Muhammad Setia Putra: Digital Marketer, penikmat kopi, dan pencari makna dari hal-hal sederhana. Penulis dapat dihubungi lewat e-mail: sayasetiaputra@gmail.com
Foto: Dok. untuk INTIinspira

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan