Melihat Bagaimana Moral Bekerja: Membedah Baik dan Buruk

INTIinspira - Pertanyaan soal baik dan buruk adalah konsep yang abstrak. Memang pada masa Yunani, Socrates pernah bilang bahwa kebaikan itu bersifat mutlak dan universal; kebaikan di mana pun pasti adalah hal yang bisa diterima.

Dalam Islam ada konsep Akhlak Terpuji (Mahmudah) dan Akhlak Tercela (Mazmumah). Bahkan Nabi diutus untuk memperbaiki akhlak, yang pada waktu itu cenderung pada akhlak tercela (Mazmumah).

Pertanyaannya, apakah kebaikan dan akhlak terpuji masih menjadi kompas moral dalam kehidupan? Kenapa yang ideal sering bertentangan dengan realitasnya?

Terkait moral tentang baik dan buruk, ia tidak turun begitu saja dalam konsep abstrak. Ia turun menjadi laku yang melebur dalam konteks masyarakat, bahkan dalam konteks individu.

Dalam Islam, akan tidak masuk akal jika membayangkan bahwa Nabi Khidir membunuh seorang anak laki-laki yang sedang bermain, yang membuat Nabi Musa kaget. 

Tapi bagi Nabi Khidir, inilah ilmu hikmah; jika ia membiarkan anak itu tumbuh, maka dia akan menjadi kafir dan durhaka.

Bahkan ada lagi konsep maslahat, yakni melihat kemaslahatan dalam sebuah perbuatan, dan konsep Maqasid al-Syariah bahwa sebuah perbuatan bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. 

Dalam masalah tertentu misalnya, perbuatan bohong demi menyelamatkan nyawa diperbolehkan karena menjaga jiwa lebih utama.

Begitu pun dalam konteks moral saat ini, kita tak bisa melihatnya dalam bentuk yang abstrak. Jika ditelusuri, semua dibentuk dalam sebuah konstruksi untuk menentukan mana baik dan mana buruk, mana benar dan mana salah.

Secara teoretis, beberapa tokoh memberikan gambaran soal moral seperti Friedrich Nietzsche yang menggambarkan bahwa moral dibentuk oleh sejarah. Lebih tajam lagi, Michel Foucault menjelaskan bahwa moral dibentuk oleh relasi kuasa dan pengetahuan.

Tokoh Islam Al-Ghazali menegaskan bahwa tindakan perlu juga didasari niat, bukan hanya perbuatannya. Bahkan dalam hadis berbunyi, “Sesungguhnya amal tergantung niat.

Kita ambil contoh saja soal berbagi dan bersedekah. Tentu ini adalah kebaikan. Bahkan dalam Islam, orang yang bersedekah mendapatkan pahala 700 kali lipat. 

Tapi bagaimana dengan orang yang bertujuan sedekah untuk mendapatkan kembali uang yang banyak? Bagaimana sedekah menjadi sebuah konten yang ditayangkan, dan bahkan sedekah menjadi sebuah alat bagi lembaga filantropi untuk mendapatkan keuntungan yang besar? 

Hal ini bisa kita lihat dalam kasus pendiri ACT (Aksi Cepat Tanggap). Bahkan saya sempat membaca riset tentang pengungsi Rohingya yang ternyata dananya digelapkan oleh lembaga filantropi. Atau kita bisa lebih tajam lagi mengkritik, kenapa lembaga zakat yang menjamur tak kunjung membuat umat makmur.

Contoh lainnya adalah sopan santun dan menghargai, sebuah kebaikan yang akan diterima oleh semua orang. Kita diajarkan sopan santun terhadap yang lebih tua, sesama, bahkan pemimpin. 

Tapi bagaimana jadinya bila seorang pemimpin tidak memiliki sopan santun, bahkan mempertontonkan kebobrokannya dengan gamblang? Masihkah kita harus bersopan santun?

Kemudian, membantu yang lemah tentu adalah sebuah kebaikan. Tapi bagaimana jika kelemahan justru menjadi wadah eksploitasi? Orang-orang lemah dipertontonkan sedemikian rupa untuk jadi komoditas yang menguntungkan. 

Acara TV yang seolah membantu orang lemah demi mendapat rating, atau konten kreator yang menjadikan orang lemah sebagai AdSense.

Begitu pun dengan keburukan. Orang yang pelit dan tidak mau berbagi tentu adalah hal buruk. 

Tapi bagaimana jika kita pelit untuk memberikan utang, sementara utang tersebut belum tentu dibayar? Apakah pelit masih menjadi sesuatu yang buruk? Terlebih sudah banyak kasus orang yang berutang datang mengemis meminta, tapi ketika giliran ditagih justru menghindar bahkan marah-marah.

Tidak sopan tentu bisa dimasukkan sebagai buruk. Namun bagaimana dengan kesopanan dalam berpikir? Bukankah pikiran perlu mengkritik kekuasaan yang berjubah kesopanan, tetapi di dalamnya berisi kebobrokan? Suara lantang perlu disampaikan pada telinga penguasa yang tuli.

Lalu bagaimana dengan mengabaikan yang lemah? Tentu ini pun sebuah keburukan. Namun kelemahan bisa saja menjadi stigma semata untuk melanggengkan kekuasaan yang menancap. Kelemahan seharusnya menjadi jalan bagi kekuatan, bukan kepasrahan yang bergantung pada orang lain.

Pada akhirnya, baik dan buruk tidak sesederhana yang dibayangkan. 

Kehidupan begitu kompleks jika hanya melihat sisi hitam dan putih. Padahal dalam kehidupan begitu banyak paradoks. Orang yang kita kira baik bisa saja predator yang berjubah agama. Pun demikian ketika melihat seseorang buruk, bisa saja dia orang yang baik hati.

Tentang baik dan buruk tak lepas dari sistem sosial, kekuasaan, dan aturan yang mengikat. Menjadi orang jujur yang sudah jelas merupakan kebaikan justru dianggap suatu hal yang istimewa, karena begitu maraknya bohong dan manipulasi di tengah kekuasaan.

Kebaikan dan keburukan terletak pada eksistensi seseorang. Jika dia baik, maka memang dia berperilaku baik sehari-hari. Pun jika dia buruk, maka dia berperilaku buruk sehari-hari.

Kebaikan bisa saja bertabrakan dengan kebaikan. Ini persis yang digambarkan Jonathan Haidt dalam buku The Righteous Mind, ketika kalangan konservatif dan kalangan liberal berseberangan soal konsep kebaikan dan keburukan. 

Bagi kalangan konservatif, kebaikan utama adalah menjaga, namun bagi kalangan liberal, kebaikan adalah kebebasan. 

Dua konsep yang bertujuan baik tetapi saling bertentangan. Seperti halnya konservatif dalam agama yang melarang secara ketat apa pun yang ada di luar agama, sementara kalangan liberal memberikan kebebasan untuk segala hal di luar agama agar bisa masuk bahkan beradaptasi.

Bahkan lebih dalam lagi, jika mengulas soal bidah dalam agama, bagi kalangan konservatif tidak boleh ada yang baru dalam agama; semua harus sesuai dengan standar dalam teks wahyu. 

Pun berbeda dengan kalangan ulama tasawuf yang memahami agama secara substantif, bahwa kebudayaan bukanlah hal yang bertentangan dengan agama. Keduanya sama-sama bertujuan baik, tetapi sering kali bertentangan saat di lapangan.

Konsep baik dan buruk jika diturunkan dalam konteks kehidupan akan begitu kompleks dan tidak sederhana. Bahkan ketika orang bilang kebaikan akan menang melawan keburukan, padahal kenyataannya justru keburukan sering menang melawan kebaikan, dan sering kali orang-orang buruk yang berkuasa.

Penulis: Romaria (Dosen IAIN Langsa)
Ilustrasi: The crossroads of choice and balance/dibuat dengan AI
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan