Melihat Arti Penting Pembaca Melalui Hermeneutika
INTIinspira - Penulis tidaklah penting dan berarti jika tidak ada pembaca.
Sebuah buku yang sudah ditulis berabad-abad, berpuluh-puluh tahun, hingga
beberapa tahun belakangan bahkan ketika penulisnya sudah tak ada lagi di dunia,
tetap hidup karena masih ada orang yang membaca bukunya.
Seorang penulis dilupakan jika tak ada lagi yang membacanya atau mencari tahu soal buku yang dikarangnya.
Membaca terlihat seperti
aktivitas sepele yang dilakukan dengan duduk sambil memegang sebuah buku,
melihat tulisan, serta membalik setiap halaman.
Padahal dalam aktivitas membaca, terjadi aktivitas kognitif, kesadaran, dan imajinasi yang bergejolak setiap kali membaca buku. Hal paling terpenting soal membaca adalah memahami.
F. Budi Hardiman menulis buku berjudul
Seni Memahami yang memuat tokoh-tokoh filsuf yang menjelaskan tentang
apa itu hermeneutika.
Hermeneutika adalah ilmu tentang pemahaman terhadap suatu
teks. Seorang pembaca dalam memahami sebuah buku memerlukan berbagai metode.
Schleiermacher mengajukan bahwa untuk memahami teks, seseorang harus melihat
kesadaran penulis. Jadi, sebuah buku tak lepas dari penulisnya.
Bahwa untuk memahami sebuah buku maka harus paham juga
dengan maksud penulis. Jika kita membaca Bumi Manusia karya Pramoedya
Ananta Toer, kita harus paham apa yang telah Pram kerjakan sehingga bisa
menghasilkan Bumi Manusia, kapan dia menulisnya, dan apa maksud dari
buku tersebut.
Berbeda dengan Schleiermacher, Habermas mengajukan bahwa
teks tidak hanya dipahami maknanya saja, tetapi juga motif yang melingkupinya
demi membongkar kekuasaan.
Kita bisa melihat ini dalam kasus buku Tragedi
Nasional Percobaan KUP G 30/S PKI di Indonesia, yang membentuk sebuah
realitas akan bahayanya sosok PKI.
Dalam kasus tersebut, Orde Baru dengan kekuasaannya
menjadikan PKI sebagai partai yang berbahaya dan harus diwaspadai. Lain lagi
dengan tokoh bernama Jacques Derrida yang menjadikan teks tidak hanya bermakna
tunggal, tetapi memiliki makna tanpa batas.
Ketika membaca puisi Chairil Anwar, kita bisa saja
memaknainya secara berbeda dari maksud si penulis. Begitupun dengan buku-buku
lainnya, untuk bisa hidup ia harus dihancurkan dan dibentuk ulang dalam makna
yang berbeda.
Persoalan memahami sebenarnya juga dibedah oleh Muhammad
Al-Jabiri. Dalam membentangkan nalar Arab, ia membagi tiga model: pertama
Bayani, kedua Burhani, dan ketiga Irfani.
Bayani memahami pengetahuan
berdasarkan teks, maka ketika membaca kitab suci dibaca sebagaimana teks apa
adanya. Burhani memahami secara rasio, menggunakan akal untuk
memahami kitab suci. Lalu Irfani memahami kitab suci secara intuisi.
Dari tiga
model inilah muncul berbagai macam aliran dan pemahaman, baik soal hukum,
kalam, maupun tasawuf.
Setiap ulama membaca teks yang sama, tetapi memahami secara
berbeda tergantung bagaimana metode yang digunakan.
Membaca buku, apalagi
memahami, adalah persoalan yang sulit dan rumit. Semakin tinggi tingkat buku
yang dibaca, maka semakin banyak modal yang harus dikuasai.
Bahkan seseorang harus mampu menahan diri untuk tidak
mengikuti begitu saja isi yang dibaca. Buku-buku yang ditulis para filsuf
adalah buku yang sukar dipahami. Untuk bisa memahami teksnya maka perlu modal
pengetahuan.
Ketika membaca Tahafut Al-Falasifah karya Imam
Al-Ghazali maka diperlukan pemahaman konteks soal filsafat. Walaupun kitab
tersebut mengkritik filsafat, pembaca tetap perlu memahami filsafat Ibnu Sina
dan filsafat Al-Kindi, bahkan lebih jauh lagi memahami logika Aristoteles.
Begitupun dengan kitab Tahafut At-Tahafut, diperlukan
pemahaman yang komprehensif tentang filsafat.
Hal yang sama pun terjadi kala
membaca karya-karya Nietzsche. Untuk memahami Lahirnya Tragedi,
diperlukan wawasan soal Yunani, memahami dewa-dewa, mengerti tentang Apollo dan
Dionysius, serta komposer Wagner.
Begitupun kala membaca Totem and Taboo karya Sigmund
Freud. Pembaca perlu memahami konsep psikoanalisis, tabu di setiap suku-suku
dunia, mempelajari antropologi, dan berbagai konsep lainnya.
Serta yang paling ramai dibicarakan seperti Madilog
karya Tan Malaka, diperlukan pemahaman soal apa itu Materialisme, Dialektika,
dan Logika yang ketiganya adalah bahasa filsafat.
Perlu juga memahami Tan
Malaka sebagai tokoh bangsa yang berkelana ke berbagai negara dengan banyak
nama serta posisinya sebagai perwakilan Komunis Internasional.
Banyak lagi buku-buku yang perlu dipahami dengan
mengharuskan pembacanya memiliki modal pemahaman. Sangat penting untuk belajar
sejarah Indonesia, terutama tahun genting 1945, 1965, dan 1998 dalam memahami
sastra. Tahun 1998 adalah lanskap transisi kekuasaan otoriter menuju reformasi.
Kala membaca cerita pendek Corat-Coret di Toilet
karya Eka Kurniawan, kita bisa merasakan kacaunya transisi ini. Saat membaca Saksi
Mata karya Seno Gumira Ajidarma, kita bisa merasakan kekejaman yang terjadi
di Timor Leste. Saat membaca Kawi Matin di Negeri Anjing, kita bisa
memahami luka-luka masyarakat Aceh.
Semakin banyak dan berkualitas buku yang dibaca, maka akan
senantiasa meningkatkan pemahaman dalam membaca. Tak dapat dipungkiri ada
tingkatan dalam setiap buku, dari novel yang dibaca begitu saja tanpa perlu
berpikir, sampai buku filsafat yang mengharuskan pembacanya membuka kamus untuk
memahami maksud-maksudnya.
Penulis: Romaria (Dosen IAIN Langsa)
Foto: Dok. untuk INTIinspira


