Belajar Memahami Perbedaan dari Buku Teman Empat Musim

 
Identitas Buku

Judul

:

Teman Empat Musim

Penulis

:

Ida Ahdiah

Penerbit

:

Bentang Pustaka

Tahun terbit

:

2010

Jumlah halaman

:

vii + 243 halaman

ISBN

:

978-979-1227-96-4


Pendahuluan

INTIinspira - Dua hari menjelang Natal, salju turun deras sepanjang siang dan malam tanpa jeda. Seluruh permukaan jalan, atap, kotak pos, bangku taman, sungai, dan ranting pepohonan berselimut putih, beku dan menjemukan.

Namun teman-teman di sekitar tokoh utama justru merayakannya dengan sorak gembira. 

Berhari-hari mereka berharap salju turun sebelum Natal agar bisa merayakan apa yang mereka sebut White Christmas. Natal dengan pemandangan salju putih di mana-mana yang menurut mereka terasa lebih khusyuk, sakral, menyentuh, dan indah.

Seluruh kota sudah didandani cantik dengan pohon-pohon Natal dan lampu warna-warni. Lagu-lagu Natal seperti Let It Snow, Jingle Bells, dan Silent Night terdengar di bus kota, restoran, pertokoan, hingga rumah-rumah penduduk.

Pusat perbelanjaan penuh sesak oleh orang-orang yang berbelanja hadiah, sementara anak-anak mengantri untuk bertemu Santa Claus.

Di tengah suasana itulah kisah dalam buku ini bermula. Dari sebuah halte bus, percakapan antara dua orang dari latar belakang yang sama sekali berbeda.

Ringkasan Isi Buku

Buku Teman Empat Musim karya Ida Ahdiah adalah kumpulan kisah pendek yang mengangkat tema persahabatan lintas budaya dan agama.

Latar cerita berada di negeri empat musim—kemungkinan besar Eropa atau Amerika—tempat tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang bertemu, bertukar cerita, dan saling memahami.

Kisah pembuka dimulai di sebuah halte bus. Seorang perempuan beragama Islam tengah menunggu bus nomor 215 bersama Suong, temannya yang mengaku tidak terikat pada agama mana pun.

Suong hanya percaya pada sesuatu yang Maha, yang melebihi segalanya. Ia tidak pernah mempermasalahkan perbedaan keyakinan di antara mereka.

Ketika Suong bertanya bagaimana cara merayakan Idulfitri, si tokoh pun bercerita dengan senang hati, tentang salat Id bersama masyarakat Indonesia di perantauan, ketupat instan, opor ayam, sambal goreng kentang, hingga kue nastar dan putri salju yang habis dalam sekejap.

Ketika percakapan berlanjut ke soal puasa Ramadan, si tokoh menjelaskan, "Kami belajar melakukannya sejak kecil. Mula-mula hanya belajar puasa tiga jam, meningkat setengah hari, kadang puasa kadang tidak, lama-lama puasa satu hari dan menjadi terbiasa. Kami sama-sama tidak makan dan minum penangkal lapar. Jika tidak percaya, tanyalah pada yang lain." (hlm. 5).

Mendengar itu, Suong pun membuka diri. Sejak kecil ibunya tidak pernah mengajarkan tradisi keagamaan apa pun. 

"Ibu hanya mengajariku membuat kue-kue dan bagaimana cara menjualnya," kenangnya. "Ibu sangat hemat, menabung uang sen demi sen, karena ingin menyekolahkanku setinggi yang aku mampu." (hlm. 5).

Masa remaja Suong pun berbeda dari kebanyakan, ia jarang berkumpul dengan teman-teman, apalagi pergi ke pesta, karena tidak tega membiarkan ibunya bekerja sendirian, meskipun sang ibu kadang menyuruhnya bermain.

Latar belakang inilah yang membentuk Suong menjadi pribadi yang terbuka, tidak menghakimi, dan bebas dari beban tradisi mana pun.

Selain kisah Suong, buku ini memuat beberapa cerita lain yang sama-sama kaya nuansa. Salah satunya adalah kisah Ketie yang suka malam Halloween.

Diceritakan bahwa setiap tanggal 31 Oktober, saat musim gugur tiba, anak-anak berpakaian menyeramkan dan berkeliling meminta permen dari rumah ke rumah. Halloween dirayakan mulai dari day care, taman kanak-kanak, hingga sekolah dasar.

Namun di balik keceriaan itu, Ketie menyimpan luka. 

Ketika seseorang menggodanya dengan kalimat, "Emang masa kecilmu kurang bahagia, ya, hingga kau rela berdingin-dingin dengan anak-anak untuk mendapatkan permen?", Ketie menghentikan langkahnya dan menjawab pelan dengan wajah menunduk, "Betul sekali, masa kecilku memang tidak bahagia."

Kisah lainnya mengisahkan seorang ibu bernama Claire yang setiap Hari Ibu selalu menunggu kiriman surat dari anak-anaknya yang tersebar di berbagai kota.

Dari Yvonne datang surat yang menyebut kerinduan akan nyanyian dan dongeng sebelum tidur sang ibu. Namun yang paling menggetarkan adalah surat dari Bryan, sang anak yang kini berada di balik jeruji penjara.

Ia menulis: "Mom, tanganmu selalu siap memelukku saat aku membutuhkanmu. Hatimu selalu terbuka dan memahami ketika aku butuh seorang teman untuk bicara. Namun matamu menghujam saat kau ingin aku belajar. Kekuatan dan cintamu telah membimbingku melewati kehidupan yang terjal. Maafkan aku jika kini aku berada di balik jeruji. Selamat Hari Ibu, ibu sejatiku."

Kisah Claire menunjukkan bahwa cinta seorang ibu tidak pernah bersyarat, bahkan ketika anaknya jatuh sejauh-jauhnya sekalipun.

Secara keseluruhan, buku ini merajut kisah-kisah kecil dari kehidupan sehari-hari menjadi mozaik yang hangat tentang persahabatan, perbedaan, dan penerimaan.

Setiap cerita seolah mengajak pembaca untuk sejenak berhenti, mendengarkan, dan memahami bahwa setiap orang membawa kisahnya masing-masing.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan


Bahasa yang digunakan Ida Ahdiah terasa ringan dan mudah dipahami, sehingga buku ini bisa dinikmati oleh pembaca dari berbagai kalangan. 

Cerita-cerita di dalamnya mengalir natural, tidak menggurui, namun meninggalkan kesan yang cukup berbekas.

Pesan tentang persahabatan lintas budaya dan agama disampaikan bukan melalui khotbah, melainkan melalui percakapan dan momen-momen kecil yang sering dialami orang-orang. Ini menjadi kekuatan utama buku ini.

Kekurangan

Di beberapa bagian, terdapat ungkapan dalam bahasa asing yang mungkin terasa asing bagi sebagian pembaca, meskipun secara umum masih mudah dipahami berkat konteks yang diberikan.

Selain itu, buku ini tidak dilengkapi ilustrasi atau gambar pendukung yang bisa memperkaya pengalaman membaca, terutama bagi pembaca yang belum pernah membayangkan suasana negeri empat musim secara langsung.

Beberapa kisah juga terasa kurang memiliki resolusi yang tuntas, sehingga pembaca yang terbiasa dengan akhir cerita yang tegas mungkin merasa sedikit menggantung.

Penutup

Teman Empat Musim merupakan bacaan yang sederhana dalam bahasa, namun kaya dalam makna.

Buku ini mengajarkan bahwa persahabatan sejati tidak memilih-milih latar belakang, agama, maupun budaya.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja, terutama di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan.

Buku ini mengajak kita untuk melakukan hal yang sungguh sederhana: duduk berdampingan, bercerita, dan saling memahami, seperti dua orang yang menunggu bus di halte bersalju, tanpa peduli siapa yang merayakan Natal dan siapa yang menunggu Lebaran.

Penulis: Nur Rayini Rahayu (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan