Koin Teluk Samawi, Simbol Peradaban dan Sejarah Lhokseumawe



INTIinspira - Koin Teluk Samawi merupakan mata uang yang terbuat dari timah hitam (keuh) peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Jauharul 'Alam Syah. 

Koin ini diperkirakan diterbitkan sekitar tahun 1229 Hijriah atau 1814 Masehi dan memuat tulisan “Teluk Samawi,” yaitu nama lama wilayah yang kini dikenal sebagai Lhokseumawe.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa Teluk Samawi pernah memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan di pesisir utara Aceh pada masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Koin Teluk Samawi yang familiar dengan nama keuh ini pada masanya digunakan sebagai alat transaksi perdagangan masyarakat. Keberadaan koin ini menunjukkan bahwa wilayah Teluk Samawi telah memiliki aktivitas ekonomi dan perdagangan yang maju sejak dahulu. 

Selain itu, koin ini juga menjadi salah satu bukti sejarah berkembangnya peradaban Islam dan jalur perdagangan di Aceh.

Keberadaan Koin Teluk Samawi juga pernah dikaji dalam literatur numismatik oleh Hendrik Chistiaan Milliës sebagai bagian dari kajian mata uang kuno Aceh.

             (Dok. Untuk INTIinspira) 

Koin Teluk Samawi ini memiliki diameter sekitar 24 milimeter dengan ketebalan kurang lebih 2 milimeter dan berat rata-rata 3 gram. Pada kedua sisi koin terdapat tulisan Arab. Sisi pertama yang bertuliskan: 

جوهر العالم شاه

“Jauhar Al-‘Alam Syah”

Sementara pada sisi lainnya tertulis:

تلوق سماوي1226 
“Teluk Samawi 1226

Angka tahun yang tercantum pada koin Sultan Jauharul ‘Alam Syah tersebut menjadi salah satu bukti awal penggunaan angka Arab Barat dalam sejarah mata uang Aceh. Angka Arab Barat dahulu digunakan oleh masyarakat Arab di wilayah Maghrib seperti Libya, Tunisia, Maroko, dan Al-Jazair serta Al-Andalusia, kemudian menyebar dan dipakai di Eropa hingga sekarang. Sebelum dikenal di wilayah Kepulauan Melayu, masyarakat setempat lebih dulu menggunakan angka Arab Timur yang umum dipakai di Semenanjung Arab, Persia, dan Asia Selatan. Angka Arab Barat sendiri berkembang dari angka Arab Timur yang berasal dari angka India.

Sejarah Teluk Samawi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kota Lhokseumawe. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai pelabuhan strategis yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai daerah. 

Letaknya yang berada di pesisir utara Aceh menjadikan Teluk Samawi sebagai jalur penting dalam aktivitas perdagangan dan penyebaran budaya. Oleh sebab itu, Koin Teluk Samawi kini dipandang sebagai simbol kejayaan dan identitas sejarah masyarakat Lhokseumawe.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah daerah, Pemerintah Kota Lhokseumawe membangun sebuah tugu replika Koin Teluk Samawi di halaman Museum Kota Lhokseumawe pada tahun 2022 dan pada tugu selamat datang. 

Sebelum diubah menjadi replika koin, tugu tersebut sebelumnya berbentuk rencong. Pergantian ikon ini dilakukan untuk memperkuat identitas sejarah Kota Lhokseumawe agar masyarakat lebih mengenal asal-usul dan perjalanan sejarah daerahnya. Pembangunan tugu replika koin tersebut diketahui menghabiskan anggaran sekitar Rp92 juta.

Tugu berbentuk koin berwarna kuning keemasan itu kini menjadi salah satu ikon sejarah di Kota Lhokseumawe. Warna emas pada tugu melambangkan nilai sejarah, kejayaan, dan kemegahan peradaban masa lampau. 

Kehadiran tugu ini tidak hanya memperindah kawasan kota Lhokseumawe, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat dan generasi muda agar lebih mengenal warisan budaya daerahnya sendiri. 

Dengan adanya tugu tersebut, Koin Teluk Samawi semakin dikenal sebagai simbol sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Lhokseumawe yang memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah Aceh.

Sejarah Koin Teluk Samawi ini memberikan pelajaran bahwa masyarakat Aceh pada masa lalu pernah memiliki peradaban ekonomi dan perdagangan yang maju. Keberadaan koin tersebut menjadi bukti bahwa Aceh dahulu mampu berkembang sebagai pusat perdagangan yang dikenal luas hingga mancanegara.

Oleh karena itu, generasi muda masa kini perlu menjadikan sejarah tersebut sebagai motivasi untuk kembali membangun perekonomian Aceh melalui pendidikan, kreativitas, usaha, dan inovasi. 

Semangat kerja keras serta kemampuan masyarakat terdahulu dalam membangun kejayaan daerah dapat menjadi inspirasi agar Aceh kembali berkembang dan mampu bersaing di masa modern tanpa melupakan identitas sejarah dan budayanya.

Penulis: Lutfiyani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe).
Foto: Tugu Koin Teluk Samawi (sumber)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan