Di Aceh, Idul Adha Punya Rasa yang Tidak Saya Temukan di Medan

INTIinspira - Sebagai orang Medan yang sekarang menempuh pendidikan di Aceh, saya banyak menemukan pengalaman baru tentang budaya masyarakat Aceh.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah suasana perayaan Idul Adha di Aceh yang terasa sangat meriah dan istimewa.

Awalnya, saya berpikir bahwa hari raya yang paling besar bagi masyarakat muslim pasti Idul Fitri karena identik dengan mudik, baju baru, salam-salaman, dan berkumpul bersama keluarga.

Namun, setelah tinggal di Aceh, saya justru melihat bahwa Idul Adha memiliki suasana yang sangat besar dan begitu hidup di tengah masyarakat. Bahkan, banyak orang Aceh mengatakan bahwa Idul Adha terasa lebih meriah dibandingkan Idul Fitri.

Hal yang paling membuat saya kagum adalah adanya tradisi meugang.

Beberapa hari sebelum Idul Adha, suasana di Aceh berubah menjadi sangat ramai. Pasar-pasar dipenuhi masyarakat yang membeli daging, pedagang mulai sibuk melayani pembeli, dan hampir setiap rumah memasak hidangan istimewa untuk keluarga.

Dari pagi hingga malam, suasana pasar tetap ramai oleh masyarakat yang datang bersama keluarga mereka. Tradisi inilah yang disebut meugang, yaitu tradisi membeli, memasak, dan menikmati daging bersama keluarga menjelang hari besar Islam.

Bagi masyarakat Aceh, meugang lebih dari sekadar urusan belanja daging. Tradisi ini memiliki makna kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap hari besar Islam.

Saat meugang, keluarga berkumpul di rumah untuk memasak makanan bersama. Ada yang memasak rendang, kari daging, masak merah, sop, dan berbagai makanan khas lainnya. Anak-anak, orang tua, hingga kerabat ikut merasakan kebahagiaan tersebut.

Bahkan, masyarakat yang ekonominya sederhana pun akan berusaha membeli daging agar tetap bisa merasakan suasana meugang bersama keluarga mereka.

Sebagai orang Medan, saya merasa budaya seperti ini sangat berbeda dengan yang saya lihat di daerah asal saya. Di Medan memang ada masyarakat yang membeli daging menjelang Idul Adha, tetapi suasananya tidak semeriah di Aceh. Tidak ada suasana pasar yang begitu padat hanya karena tradisi menyambut hari raya.

Di Aceh, meugang terasa seperti pesta rakyat yang dinanti-nantikan oleh semua kalangan masyarakat. Tradisi ini benar-benar hidup dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.

Saya juga pernah bertanya kepada beberapa teman yang asli Aceh tentang alasan mengapa Idul Adha terasa lebih besar di Aceh dibandingkan Idul Fitri.

Mereka menjelaskan bahwa Idul Adha memiliki nilai pengorbanan dan kebersamaan yang sangat kuat. Pada hari itu ada ibadah kurban yang menjadi simbol keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama.

Selain itu, Idul Adha juga identik dengan keberangkatan jamaah haji. Ada rasa haru dan kebanggaan ketika ada anggota keluarga atau tetangga yang berangkat ke tanah suci. Karena itulah suasana Idul Adha di Aceh terasa lebih mendalam dan penuh makna.

Berbeda dengan Idul Fitri yang lebih identik dengan silaturahmi dan saling bermaafan, Idul Adha di Aceh menghadirkan kebersamaan dalam bentuk berbagi rezeki kepada masyarakat.

Daging kurban dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat yang membutuhkan. Tidak jarang masyarakat saling membantu dalam proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Hal ini menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Aceh.

Secara sejarah, tradisi meugang sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh, terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Pada masa itu, kerajaan menyembelih hewan dan membagikan daging kepada rakyat sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat. Tradisi tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang. Meugang pun tumbuh menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh yang terus dijaga hingga saat ini.

Menurut saya, budaya meugang menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh sangat menghargai kebersamaan dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini menyentuh hal yang lebih dalam — tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan keluarga, menghormati tradisi leluhur, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Dari budaya ini, saya belajar bahwa hari raya erat kaitannya dengan mempererat hubungan antar manusia.

Sebagai mahasiswa pendatang dari Medan yang kini tinggal di Aceh, saya merasa mendapatkan pengalaman budaya yang sangat berharga. Saya dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat Aceh memuliakan Idul Adha dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Tradisi meugang memberikan kesan mendalam bagi saya karena memperlihatkan kuatnya hubungan antara budaya, agama, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memaknai hari raya.

Jika di beberapa daerah Idul Fitri terasa lebih dominan, maka di Aceh Idul Adha juga memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat.

Melalui tradisi meugang, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur adalah nilai penting yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penulis: Maya Ariska BR Ritonga (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Foto: Dok. untuk INTIinspira

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan