Tidak Ada Usaha yang Sia-Sia: Tentang Produktivitas, Waktu, dan Hal-Hal yang Tampak Tidak Berguna
INTIinspira - Beberapa hari yang lalu, beberapa tulisan berisi kritik terhadap kata produktif muncul di beranda FB saya.
Penasaran, akhirnya saya mencoba untuk berusaha serius membacanya.
Menurut tulisan-tulisan itu, kata produktif diciptakan untuk melanggengkan kapitalisme.
Katanya, konsep produktivitas membuat manusia merasa harus terus bekerja, menghasilkan, dan tidak boleh berhenti.
Menurut tulisan-tulisan itu, kata produktif diciptakan untuk melanggengkan kapitalisme.
Katanya, konsep produktivitas membuat manusia merasa harus terus bekerja, menghasilkan, dan tidak boleh berhenti.
Jika tidak menghasilkan sesuatu, maka dianggap tidak berguna.
Saya kira itu ada benarnya juga.
Jika ia seorang ibu atau ayah, pengetahuan itu memengaruhi cara ia mendidik anak.
Bahkan dalam percakapan sehari-hari, cara berpikirnya bisa memberi pengaruh kepada orang lain.
Dengan kata lain, sesuatu yang tampak “pribadi” sering kali pada akhirnya menjadi manfaat sosial.
Seseorang bisa saja tidak pernah mengajar di depan kelas, tidak pernah memberi ceramah, dan tidak pernah menulis buku.
Namun kehidupannya sendiri bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Ini mirip dengan prinsip mengajar dengan mempraktikkan, bukan dengan mengatakan.
Orang yang disiplin sering menginspirasi orang lain untuk ikut disiplin.
Orang yang rajin belajar sering membuat lingkungan sekitarnya ikut tertarik membaca.
Tanpa banyak kata, hidupnya sendiri sudah menjadi bentuk pengajaran.
Jika kita melihat produktivitas dari sudut pandang ini, maka banyak aktivitas manusia yang tampak biasa-biasa saja ternyata memiliki makna yang jauh lebih besar.
Di dalam cerita itu ada seorang ninja bernama Might Guy.
Berbeda dengan banyak ninja lain, Guy tidak memiliki banyak kemampuan teknik. Ia tidak punya bakat ninjutsu yang rumit, apalagi genjutsu—teknik menciptakan ilusi yang mengerikan itu.
Keahliannya cuma taijutsu, yaitu kemampuan pertarungan fisik.
Kalau diibaratkan dunia sekolah, mungkin dia seperti siswa yang tidak terlalu jago teori, tetapi sangat serius ketika praktik.
Dan serius di sini bukan main-main.
Latihannya bisa dibilang hampir melampaui rata-rata orang: push-up, lari, latihan fisik, lagi dan lagi. Setiap hari.
Jika orang lain punya bakat alami, Guy punya sesuatu yang lain: kegigihan yang keras kepala.
Puncaknya terjadi ketika ia bertarung melawan Madara Uchiha, salah satu tokoh terkuat dalam cerita tersebut.
Dalam pertarungan itu, Guy membuka teknik Eight Gates (pintu kedelapan) teknik yang salah-salah bisa membuat dia langsung menghadap ilahi.
Pertarungan itu begitu luar biasa sampai Madara sendiri mengakui kekuatan Guy.
Bayangkan, seorang ninja yang hampir tidak memiliki teknik khusus, hanya dengan latihan fisik yang konsisten, mampu membuat salah satu tokoh paling kuat di cerita itu hampir tewas.
Produktivitas bukan sebatas menghasilkan produk dengan cepat. Produktivitas merupakan proses menanam sesuatu yang baik dalam hidup.
Hasilnya mungkin tidak segera nampak. Tapi layaknya benih yang ditanam, ia bergerak pelan di bawah permukaan.
Saat waktunya tiba, kita akan melihat hasilnya—entah dalam bentuk keahlian, kebijaksanaan, atau bahkan kemampuan memberi manfaat kepada orang lain.
Dan sangat mungkin, pada saat itu kita akan tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati “Ternyata tidak ada usaha yang sia-sia.”[]
Saya kira itu ada benarnya juga.
Memang, dalam budaya kerja modern, sering kali produktivitas diukur dengan beberapa indikator, seperti berapa banyak yang kamu hasilkan hari ini? Berapa banyak target yang tercapai? Berapa banyak proyek yang selesai?
Kalau tidak ada outputnya, jadilah Rugoe Wate, seperti judul lagu yang dinyanyikan Rizal Fht.
Akibatnya, banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat. Bahkan membaca buku, merenung, atau sekadar duduk ongkang-ongkang kaki dianggap tidak produktif.
Pokoknya harus selalu melakukan sesuatu. Kalau bisa sambil membuka laptop, mengerjakan spreadsheet, nyapu, ngepel, dan nyuci dapat dilakukan sekaligus.
Namun setelah memahami tulisan-tulisan itu, saya kira pengertian produktif tidaklah sesempit itu.
Saya cenderung melihat produktivitas sebagai sesuatu yang jauh lebih luas, yakni bagaimana kita menggunakan waktu untuk menanam sesuatu yang bermanfaat.
Pepatah lama yang pernah saya baca menyatakan: apa yang ditanam itu yang dituai. Persoalannya hanya satu: kapan kita memanennya?
Bisa cepat, bisa juga lama.
Kadang, sesuatu yang kita pelajari hari ini, manfaatnya baru terasa lima tahun kemudian.
Dan di sinilah letak persoalannya: sering kali, saat bicara produktivitas, orang-orang melupakan bahwa hasil tidak selalu datang pada waktu yang sama dengan usaha.
Dulu di sekolah, saya belajar tentang pemasaran. Jujur saja, mata pelajaran itu sangat menyebalkan.
Kalau tidak ada outputnya, jadilah Rugoe Wate, seperti judul lagu yang dinyanyikan Rizal Fht.
Akibatnya, banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat. Bahkan membaca buku, merenung, atau sekadar duduk ongkang-ongkang kaki dianggap tidak produktif.
Pokoknya harus selalu melakukan sesuatu. Kalau bisa sambil membuka laptop, mengerjakan spreadsheet, nyapu, ngepel, dan nyuci dapat dilakukan sekaligus.
Namun setelah memahami tulisan-tulisan itu, saya kira pengertian produktif tidaklah sesempit itu.
Saya cenderung melihat produktivitas sebagai sesuatu yang jauh lebih luas, yakni bagaimana kita menggunakan waktu untuk menanam sesuatu yang bermanfaat.
Pepatah lama yang pernah saya baca menyatakan: apa yang ditanam itu yang dituai. Persoalannya hanya satu: kapan kita memanennya?
Bisa cepat, bisa juga lama.
Kadang, sesuatu yang kita pelajari hari ini, manfaatnya baru terasa lima tahun kemudian.
Dan di sinilah letak persoalannya: sering kali, saat bicara produktivitas, orang-orang melupakan bahwa hasil tidak selalu datang pada waktu yang sama dengan usaha.
Belajar Sesuatu yang Tidak Kita Suka
Saya pernah mengalami sendiri hal seperti ini.Dulu di sekolah, saya belajar tentang pemasaran. Jujur saja, mata pelajaran itu sangat menyebalkan.
Saking menyebalkan, saya hampir menyoret tulisan kamis pada setiap kalender yang saya jumpai, gara-gara mata pelajaran itu masuk setiap hari kamis.
Namun apa boleh buat, saya harus belajar itu juga. Sebabnya jelas—terpaksa.
Waktu itu, rasanya seperti menanam sesuatu yang saya sendiri tidak yakin apakah akan ada hasilnya.
Namun beberapa tahun kemudian, pengalaman hidup memberi kejutan.
Dalam satu kasus, saya menyadari bahwa pengetahuan tentang pemasaran yang dulu saya pelajari ternyata ada gunanya juga.
Bukan sesuatu yang spektakuler memang. Tidak sampai membuat matahari terbit dari barat.
Tetapi cukup untuk membuat saya berpikir “Ternyata ilmu yang dulu saya pelajari tidak sia-sia.”
Pengalaman semacam ini membuat saya merenung bahwa pengetahuan sering bekerja seperti benih yang ditanam di tanah. Pada awalnya tidak terlihat apa-apa. Tetapi lama-kelamaan, ketika kondisi tepat, ia mulai tumbuh.
Produktif berarti segera menghasilkan uang. Produktif berarti membuat sesuatu yang bisa dijual. Produktif berarti ada output yang jelas.
Padahal hidup jauh lebih kompleks dari sekadar laporan produksi.
Misalnya begini. Seseorang membaca buku selama satu jam. Apakah itu produktif?
Jika kita memakai kacamata ekonomi sempit, mungkin tidak. Tidak ada barang yang dihasilkan. Tidak ada uang yang masuk. Tidak ada grafik pertumbuhan.
Tetapi jika kita melihat lebih jauh, membaca bisa mengubah cara seseorang berpikir.
Namun apa boleh buat, saya harus belajar itu juga. Sebabnya jelas—terpaksa.
Waktu itu, rasanya seperti menanam sesuatu yang saya sendiri tidak yakin apakah akan ada hasilnya.
Namun beberapa tahun kemudian, pengalaman hidup memberi kejutan.
Dalam satu kasus, saya menyadari bahwa pengetahuan tentang pemasaran yang dulu saya pelajari ternyata ada gunanya juga.
Bukan sesuatu yang spektakuler memang. Tidak sampai membuat matahari terbit dari barat.
Tetapi cukup untuk membuat saya berpikir “Ternyata ilmu yang dulu saya pelajari tidak sia-sia.”
Pengalaman semacam ini membuat saya merenung bahwa pengetahuan sering bekerja seperti benih yang ditanam di tanah. Pada awalnya tidak terlihat apa-apa. Tetapi lama-kelamaan, ketika kondisi tepat, ia mulai tumbuh.
Produktivitas yang Terlalu Ekonomis
Masalahnya, dunia modern sering memahami produktivitas dengan cara yang sangat ekonomis.Produktif berarti segera menghasilkan uang. Produktif berarti membuat sesuatu yang bisa dijual. Produktif berarti ada output yang jelas.
Padahal hidup jauh lebih kompleks dari sekadar laporan produksi.
Misalnya begini. Seseorang membaca buku selama satu jam. Apakah itu produktif?
Jika kita memakai kacamata ekonomi sempit, mungkin tidak. Tidak ada barang yang dihasilkan. Tidak ada uang yang masuk. Tidak ada grafik pertumbuhan.
Tetapi jika kita melihat lebih jauh, membaca bisa mengubah cara seseorang berpikir.
Dan cara berpikir yang lebih baik pada akhirnya akan memengaruhi keputusan, pekerjaan, bahkan cara ia memperlakukan orang lain.
Jadi manfaatnya tetap ada—hanya saja tidak langsung terlihat.
Hal yang sama berlaku untuk banyak aktivitas lain seperti belajar, berpikir, beribadah, memperbaiki kesalahan, bahkan beristirahat.
Jika dilihat sebagai proses menumbuhkan kapasitas manusia, semua itu bisa menjadi bentuk produktivitas.
Bagaimana jika sesuatu hanya bermanfaat bagi diri sendiri? Apakah itu masih bisa disebut produktif?
Menurut saya jawabannya tetap iya.
Karena dalam kehidupan nyata, manfaat pribadi dan manfaat sosial hampir tidak pernah benar-benar terpisah.
Misalnya seseorang membaca buku. Secara langsung mungkin manfaatnya hanya untuk dirinya, pengetahuannya bertambah, wawasannya lebih luas.
Namun dalam praktik kehidupan, pengetahuan jarang berhenti pada dirinya saja.
Jika ia seorang guru, pengetahuan itu akan muncul dalam cara ia mengajar.
Jadi manfaatnya tetap ada—hanya saja tidak langsung terlihat.
Hal yang sama berlaku untuk banyak aktivitas lain seperti belajar, berpikir, beribadah, memperbaiki kesalahan, bahkan beristirahat.
Jika dilihat sebagai proses menumbuhkan kapasitas manusia, semua itu bisa menjadi bentuk produktivitas.
Manfaat Pribadi dan Manfaat Sosial
Di titik ini biasanya muncul pertanyaan lain.Bagaimana jika sesuatu hanya bermanfaat bagi diri sendiri? Apakah itu masih bisa disebut produktif?
Menurut saya jawabannya tetap iya.
Karena dalam kehidupan nyata, manfaat pribadi dan manfaat sosial hampir tidak pernah benar-benar terpisah.
Misalnya seseorang membaca buku. Secara langsung mungkin manfaatnya hanya untuk dirinya, pengetahuannya bertambah, wawasannya lebih luas.
Namun dalam praktik kehidupan, pengetahuan jarang berhenti pada dirinya saja.
Jika ia seorang guru, pengetahuan itu akan muncul dalam cara ia mengajar.
Jika ia seorang ibu atau ayah, pengetahuan itu memengaruhi cara ia mendidik anak.
Bahkan dalam percakapan sehari-hari, cara berpikirnya bisa memberi pengaruh kepada orang lain.
Dengan kata lain, sesuatu yang tampak “pribadi” sering kali pada akhirnya menjadi manfaat sosial.
Mengajar Tanpa Mengajar
Bahkan ada bentuk pengaruh yang lebih halus lagi yaitu keteladanan.Seseorang bisa saja tidak pernah mengajar di depan kelas, tidak pernah memberi ceramah, dan tidak pernah menulis buku.
Namun kehidupannya sendiri bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Ini mirip dengan prinsip mengajar dengan mempraktikkan, bukan dengan mengatakan.
Orang yang disiplin sering menginspirasi orang lain untuk ikut disiplin.
Orang yang rajin belajar sering membuat lingkungan sekitarnya ikut tertarik membaca.
Tanpa banyak kata, hidupnya sendiri sudah menjadi bentuk pengajaran.
Jika kita melihat produktivitas dari sudut pandang ini, maka banyak aktivitas manusia yang tampak biasa-biasa saja ternyata memiliki makna yang jauh lebih besar.
Seorang Ninja yang Hanya Punya Taijutsu
Menariknya, gagasan bahwa usaha tidak pernah benar-benar sia-sia juga muncul dalam budaya populer. Salah satu contoh yang cukup terkenal datang dari serial anime Naruto.Di dalam cerita itu ada seorang ninja bernama Might Guy.
Berbeda dengan banyak ninja lain, Guy tidak memiliki banyak kemampuan teknik. Ia tidak punya bakat ninjutsu yang rumit, apalagi genjutsu—teknik menciptakan ilusi yang mengerikan itu.
Keahliannya cuma taijutsu, yaitu kemampuan pertarungan fisik.
Kalau diibaratkan dunia sekolah, mungkin dia seperti siswa yang tidak terlalu jago teori, tetapi sangat serius ketika praktik.
Dan serius di sini bukan main-main.
Latihannya bisa dibilang hampir melampaui rata-rata orang: push-up, lari, latihan fisik, lagi dan lagi. Setiap hari.
Jika orang lain punya bakat alami, Guy punya sesuatu yang lain: kegigihan yang keras kepala.
Puncaknya terjadi ketika ia bertarung melawan Madara Uchiha, salah satu tokoh terkuat dalam cerita tersebut.
Dalam pertarungan itu, Guy membuka teknik Eight Gates (pintu kedelapan) teknik yang salah-salah bisa membuat dia langsung menghadap ilahi.
Pertarungan itu begitu luar biasa sampai Madara sendiri mengakui kekuatan Guy.
Bayangkan, seorang ninja yang hampir tidak memiliki teknik khusus, hanya dengan latihan fisik yang konsisten, mampu membuat salah satu tokoh paling kuat di cerita itu hampir tewas.
Produktivitas Sebagai Proses Menanam
Pada gilirannya, mungkin kita bisa memahami produktivitas dengan cara yang lebih manusiawi.Produktivitas bukan sebatas menghasilkan produk dengan cepat. Produktivitas merupakan proses menanam sesuatu yang baik dalam hidup.
Hasilnya mungkin tidak segera nampak. Tapi layaknya benih yang ditanam, ia bergerak pelan di bawah permukaan.
Saat waktunya tiba, kita akan melihat hasilnya—entah dalam bentuk keahlian, kebijaksanaan, atau bahkan kemampuan memberi manfaat kepada orang lain.
Dan sangat mungkin, pada saat itu kita akan tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati “Ternyata tidak ada usaha yang sia-sia.”[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com).
Ilustrasi: Productivity, growth, and perseverance in action, dibuat dengan AI


