Aceh–Penang: Koridor Ekonomi Baru Pasca-Otsus

INTIinspira - Akhir 2017, tak lama setelah Irwandi Yusuf kembali dilantik sebagai Gubernur Aceh, saya berjumpa dengan putra sulung beliau, Teguh Agam Meutuah, di warung kopi miliknya di Bathoh.

Saya ditemani oleh Pakwa, abang dari Ibu Teguh. Obrolan sore itu berkelindan dari pola hidup Keto Fastosis hingga soal masa depan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh.

Saya sempat melempar gagasan: “Mengapa tidak membuka cabang Elcomandante di Penang, sekaligus membangun kanal resmi komunikasi dengan Pemerintah Pulau Pinang yang waktu itu dipimpin Lim Guan Eng?” Sayangnya, sebelum ide itu sempat bergerak jauh, Irwandi terjerat kasus KPK. Rencana lintas-selat itu pun terhenti.

Hari ini, delapan tahun berselang, momentum itu kembali muncul. Pemerintah Aceh menyiapkan rute pelayaran langsung Krueng Geukueh (Aceh Utara)–Penang. Pelabuhan sedang dibenahi, dan Gubernur Aceh bahkan turun langsung meninjau.

Ini bukan sekadar jalur kapal, melainkan sebuah koridor ekonomi yang dapat “mendekatkan” Aceh ke ekosistem pesisir utara Selat Malaka: dari manufaktur Penang hingga hub kesehatan dan wisata budaya.

Pasca-Otsus: Dari Dana ke Daya

Semua orang Aceh paham bahwa Dana Otsus tidak abadi. Sesuai UUPA Pasal 183, alokasi ini berakhir pada 2027. Bahkan sejak 2023 porsinya sudah menyusut tinggal 1% dari plafon DAU nasional. Jika tidak ada strategi baru, Aceh akan menghadapi fiscal cliff.

Artinya, kita harus bergerak dari dependensi fiskal menuju daya produktif. Rute laut Krueng Geukueh–Penang bisa menjadi salah satu jembatan strategis untuk itu.

Mengapa Penang?

Pertama, secara historis dan kultural, Aceh–Penang sudah lama berhubungan. Jejaring saudagar, santri, hingga migran telah mengikat kedua wilayah berabad-abad. PAT (Persaudaraan Aceh Tionghoa) siap memainkan peran sebagai penghubung people-to-people lintas komunitas.

Kedua, Penang adalah simpul manufaktur elektronik dan semikonduktor di Asia Tenggara sekaligus pusat wisata medis. Lebih dari 90% pasien medis internasional di wilayah utara Malaysia justru berasal dari Indonesia. Infrastruktur dan ekosistemnya sudah mapan.

Ketiga, ini selaras dengan kerangka kerja sama IMT-GT (Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle) yang memang menekankan konektivitas ekonomi lintas batas dengan UMKM sebagai tulang punggung.

Keempat, Aceh punya modal: KEK Arun Lhokseumawe dengan sektor energi, petrokimia, dan agro-industri, berada tepat di kawasan Pelabuhan Krueng Geukueh. Kombinasi ini bisa menjadi back door ke rantai pasok Penang.

Manfaat Strategis

Koridor laut Aceh–Penang membuka berbagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan roda ekonomi. Dari sisi perdagangan dan logistik, jalur ini dapat menjadi sarana ekspor produk unggulan Aceh seperti CPO, kopi Gayo, hasil perikanan segar, hingga produk kemasan. Dengan akses langsung ke Penang, rantai distribusi menjadi lebih efisien dan biaya logistik bisa ditekan.

Selain itu, sektor pariwisata dan kesehatan juga dapat berkembang pesat. Penang sudah dikenal sebagai pusat wisata medis di Asia Tenggara, dan Aceh dapat memanfaatkan jalur ini untuk menawarkan paket wisata terpadu: perjalanan yang menggabungkan layanan kesehatan berkualitas dengan wisata budaya dan alam. Hal ini akan membuka pasar baru bagi agen perjalanan, rumah sakit, dan pelaku wisata kedua wilayah.

Di bidang ekonomi kreatif, jalur ini memberi ruang bagi talenta muda Aceh untuk menembus pasar lintas batas. Freelancer digital, animator, hingga pengembang konten dapat menjalin kerja sama dengan agensi di Penang, memasarkan karya kreatif mereka secara lebih luas. Ini akan memacu pertumbuhan sektor jasa berbasis kreativitas dan teknologi.

Tidak kalah penting, jalur ini juga membuka peluang investasi dan kemitraan industri. Aceh dapat berperan sebagai pemasok bahan baku dan komponen Grade-B atau Grade-C bagi pabrik di Penang. Dengan dukungan KEK Arun Lhokseumawe, peluang untuk menarik investor dan membentuk rantai pasok regional menjadi semakin nyata.

Terakhir, koridor ini dapat menjadi sarana diplomasi ekonomi di tingkat sub-nasional. Melalui kerja sama sister-port dan sister-city, forum bisnis rutin, dan pertukaran delegasi, hubungan Aceh–Penang dapat bergerak melampaui transaksi ekonomi biasa menuju kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

Tantangan yang Harus Dijawab

Meski peluangnya besar, membangun koridor Aceh–Penang bukan tanpa hambatan. Regulasi lintas batas yang rumit, kesiapan pelabuhan, jadwal pelayaran yang harus stabil, hingga biaya logistik yang kompetitif menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Di sisi lain, risiko tata niaga juga perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha. Tanpa unit pelaksana yang solid dan disiplin, semua rencana ini bisa berhenti hanya sebagai wacana sebelum kapal pertama berlayar.

Selat Malaka adalah salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Di tengah dinamika geopolitik global dan perubahan peta rantai pasok, Penang semakin menonjol sebagai destinasi investasi, khususnya di sektor teknologi yang tengah mencari lokasi friend-shoring. Aceh memiliki peluang langka: dengan membuka rute laut langsung, Aceh dapat tersambung dengan arus besar perdagangan dan investasi tersebut, bukan hanya menjadi penonton dari tepi selat.

Namun, koridor ini tidak boleh menjadi panggung eksklusif bagi birokrat dan pemodal besar. Anak muda Aceh justru harus berada di garis depan. Bayangkan barista dan pelaku kopi Gayo yang membuka pop-up café di George Town, freelancer digital Aceh yang mengerjakan proyek UI/UX atau animasi bersama agensi Penang, pemandu wisata yang merangkai kisah heritage Aceh–Penang untuk wisatawan, hingga pemuda maritim yang terlibat langsung dalam logistik rantai dingin dan kru kapal. Inilah cara paling nyata memanfaatkan bonus demografi Aceh: mengubah generasi muda dari beban menjadi aset produktif.

Penutup

Jika satu jalur laut ini benar-benar hidup, Aceh memiliki kesempatan mengubah penurunan Dana Otsus dari ancaman menjadi momentum reformasi ekonomi.

Dari ketergantungan fiskal, kita dapat bergerak menuju produktivitas riil. Kuncinya terletak pada eksekusi yang disiplin, membangun kepercayaan lintas komunitas, dan memberi ruang sentral bagi anak muda untuk berperan. Koridor Aceh–Penang bukan sekadar jalur kapal; ia adalah jalur masa depan Aceh.


Penulis: Muhammad Amin (Ketua Persaudaraan Aceh Tionghoa (PAT)
Ilustrasi: Cargo Ship on the Sea/Pexels.com
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan