Clock

Kemandirian dan Self-Acceptance pada Anak dengan Ibu Tunggal (Single Mom)

Ilustrasi ibu tunggal


Oleh: Selfi Maulana*

Keluarga merupakan suatu kelompok yang menghubungkan dan mendukung satu sama lain. Mereka berbagi kehidupan, cinta, dan pengalaman bersama. Keluarga dengan orang tua lengkap adalah impian semua anak terlebih jika keluarga tersebut harmonis, di mana anak-anak akan menerima rasa kasih sayang yang tiada tara. Lalu bagaimana dengan anak yang orang tuanya tidak lengkap, yakni salah satunya telah meninggal?

Orang tua meninggal yang dimaksud di sini ialah salah satu dari kedua orang tua telah meninggal, sehingga hanya ada satu saja orang tua saja yang menjalankan semua kewajiban untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

Mulai dari memberi nafkah, mengurus rumah, dan pendidikan kepada anak. 

Kehilangan orang tua adalah pengalaman yang sulit diterima bagi semua anak.

Namun karena dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, anak bisa belajar mengenai kehilangan dan mulai menjalani hidup.

Single mom adalah ibu yang hebat di mana semua kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, dan mencari nafkah dilakukan semua oleh seorang ibu. 

Pola asuh yang diterima dari anak dengan orang tua lengkap berbeda dengan anak yang hanya memiliki orang tua tunggal, terkhusus pola asuh dari ibu.

A. Kemandirian

Anak dengan single mom memiliki potensi lebih besar untuk menjadi pribadi yang mandiri, meskipun banyak tantangan tersendiri dari kurangnya waktu bersama ibu, perasaan terisolasi, kesepian dan juga stigma sosial. 

Kemandirian anak dengan single mom dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kebutuhan dan tanggung jawab, melihat teladan ibu, dukungan sosial, dan kepercayaan diri.

Di sini saya akan menjelaskan beberapa faktor kemandirian berdasarkan pengalaman pribadi, yakni pengalaman dibesarkan oleh single mom.

1. Kebutuhan dan Tanggung Jawab

Ibu tunggal atau single mom biasanya memiliki banyak sekali tanggung jawab yang dilakukan sendiri. Dari mencari nafkah, mengurus anak, baik kegiatan di luar atau di dalam rumah, yang pada dasarnya menggantikan kegiatan dari sosok seorang ayah. 

Sebagai seorang anak tentu tidak ingin memberatkan tanggung jawab seorang ibu. Sebagai anak, tentu perlu membantu kegiatan ibu dari hal yang paling kecil seperti membersihkan rumah, memasak dan kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga. 

Tak jarang juga seorang anak akan membantu ibunya mencari nafkah untuk membantu memenuhi kebutuhan.

2. Melihat Teladan Ibu

Anak-anak banyak belajar hal dari seorang ibu, terlebih dengan anak yang memiliki single mom melihat bagaimana kegigihan, pengorbanan dari seorang ibu selama ia hidup menjadi motivasi dan panutan dari seorang anak untuk bisa menjadi seperti ibunya. 

Anak akan melihat bagaimana ibunya mampu menghadapi dan menyelesaikan tantangan akan membuat anak terus termotivasi untuk bisa melakukan hal yang sama.

3. Dukungan sosial

Ibu memiliki banyak jaringan dukungan yang kuat dari keluarga, teman, dan masyarakat. Di sini kita bisa bergabung bersosialisasi dengan mereka dan belajar untuk bisa terbuka agar tidak terlalu bergantung kepada ibu.

4. Kepercayaan diri

Kemampuan diri, yakni percaya pada apa yang ada dalam diri dan pada kemampun diri untuk bisa menyelesaikan tantangan dan tugas dalam mecapai tujuan. 

Dalam mengambil resiko, akan membuat saya terus berkembang dan berani mengambil keputusan, yang saya yakin keputusan tersebut merupakan sebuah keputusan dengan baik. Dan pengalaman ini membuat saya lebih mandiri dan kuat.

Setiap anak memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda, sehingga faktor terpentingnya mungkin berbeda-beda. Namun dengan dukungan dan upaya yang tepat, setiap anak bisa menjadi pribadi yang mandiri dan kuat.

B. Penerimaan Diri

Kehilangan orang tua merupakan peristiwa traumatis yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap anak, termasuk penerimaan dirinya. 

Kehilangan sosok orang tua tercinta dapat memicu berbagai emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, rasa bersalah dan ketakutan. 

Perasaan tersebut dapat membuat anak sulit menerima diri sendiri dan menemukan makna dalam hidupnya.

Penerimaan diri anak terhadap ibu tunggalnya adalah hal yang penting dan kompleks. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut, di antaranya:

1. Hubungan ibu-Anak yang Intens

Hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang dengan seorang ibu tunggal dapat memberikan landasan yang kuat untuk penerimaan diri. 

Jika hubungan di antara keduanya baik dan sama-sama kuat, anak akan mulai bisa menerima dirinya, dan juga anak-anak merasa dicintai serta diterima apa adanya.

2. Komunikasi Terbuka

Ibu tunggal yang terbuka dan jujur kepada anak tentang situasi keluarganya dapat membantu anak memahami dan menerima kenyataan. 

3. Fokus pada Kekuatan

Ibu tunggal dapat membantu anak-anak fokus pada kekuatan mereka. Anak-anak belajar menghargai diri sendiri dan bangga atas prestasinya.

4. Dukungan Sosial

Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas dapat membantu anak-anak merasa diterima dan dihargai. Anak tidak merasa sendirian dan mempunyai jaringan dukungan yang kuat.

Self-acceptance adalah proses yang berkelanjutan bagi semua orang. 

Anak-anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal (single mom) mungkin menghadapi tantangan tersendiri, namun dengan dukungan dan bimbingan yang tepat, mereka dapat belajar untuk menerima dan menghargai diri mereka sendiri. Ibu tunggal memainkan peran penting dalam membantu anak-anak mereka membangun self-acceptance yang kuat.

• Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan