Kemampuan Mengelola Emosi untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

Ilustrasi mengelola emosi
Source Bing Image Creator 


Oleh: Putroe Izzah Alya*

Pada era modern ini, tekanan dan tuntutan hidup semakin meningkat, baik di lingkungan kampus, kerja, pendidikan, maupun dalam kehidupan sosial. Hal ini dapat memicu munculnya emosi negatif seperti stres, kecemasan, dan depresi, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat membahayakan kesehatan mental individu. Sebaliknya, kemampuan mengelola emosi secara efektif dapat membantu individu dalam membangun resiliensi, meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga kestabilan emosional.

Kemampuan mengelola emosi dan menjaga kesehatan mental merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh setiap individu dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kehidupan. 

Emosi sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan kemampuan mengelola emosi dengan baik dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental individu. 

Berdasarkan hal tersebut setiap individu perlu mengenali dan mengidentifikasi emosi agar mampu mengelola dengan baik.

Apa itu emosi? Emosi adalah sebuah reaksi ungkapan perasaan individu terhadap suatu kondisi atau peristiwa yang dialami seperti perasaan bahagia, senang, marah, dan sedih. 

Merujuk kepada beberapa teori dari ahli, menurut King (2010) emosi berasal dari bahasa Latin yaitu movere yang berarti menggerakan sehingga emosi mendorong seseorang untuk bertindak. 

Emosi adalah perasaan atau afeksi yang dapat melibatkan ketergugahan fisiologis, pengalaman yang disadari dan ekspresi perilaku. 

Goleman (2002) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. 

Kita dapat simpulkan bahwa Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. 

Emosi terbagi menjadi dua yaitu emosi positif dan negatif. 

Emosi positif berperan dalam memicu kesejahteraan emosional dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi negatif. 

Jika emosi seseorang positif, maka individu tersebut akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. 

Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang mengganggu individu maupun lingkungan sekitar. 

Contohnya dari emosi positif seperti mendapat nilai IPK yang tinggi, mendapat penghargaan, mendapat beasiswa, dan lulus tepat waktu, dan tentu kita akan merasa senang dan bahagia. 

Begitupun sebaliknya dengan emosi negatif, contohnya jika mendapatkan nilai IPK yang rendah, gagal dalam mencapai target yang sudah ditentukan, tidak lulus ujian, dan tentu hal tersebut membuat individu merasa merasa sedih dan kecewa. 

Kondisi yang dialami akan mempengaruhi individu, karena emosi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan. 

Emosi mempengaruhi cara kita berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, emosi yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu munculnya masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi (Aldao et al., 2010). 

Sebaliknya, kemampuan mengelola emosi secara efektif dapat membantu individu dalam membangun resiliensi, meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga kestabilan emosional (Greenberg, 2004; Hofmann et al., 2010). 

Berdasarkan hal tersebut individu perlu belajar untuk mendeteksi perubahan yang terjadi pada tubuh ketika mengalami emosi yang negatif. 

Kemampuan mendeteksi perubahan emosi negatif yang terjadi pada tubuh mampu menghindari berbagai perilaku destruktif. 

Contohnya ketika dalam kondisi marah. Perhatikan reaksi perubahan yang terjadi pada tubuh.  

Kita akan merasakan berbagai reaksi pada tubuh yang bermakna bahwa tubuh memberikan alarm atau sinyal atau tanda terkait berbagai reaksi yang akan muncul, inilah yang disebut dengan perubahan reaksi fisiologis pada tubuh. 

Tubuh kita akan memberi tanda tanda dalam proses puncak kemarahan atau emosional yang tinggi, seperti muka mulai memerah, tangan mulai menggepal dan gemetar, intonasi suara mulai meninggi, jantung berdebar lebih cepat, pupil bola mata semakin membesar, mulai keluar keringat dingin, kuping mulai memerah, dan nafas mulai tersengal-sengal, inilah yang disebut perubahan reaksi fisiologis pada tubuh. 

Sebenarnya pada kondisi ini individu masih berada pada tahap kesadaran (state of concious) artinya individu masih punya kemampuan untuk mengontrol diri. 

Sehingga, ungkapan yang sering kita dengar bahwa marah tidak dapat dikontrol adalah tidak tepat. 

Marah dapat dikontrol, karena individu mampu untuk mendeteksi perubahan pada tubuh, sehingga mampu mengontrol diri untuk tidak melakukan perilaku yang desktruktif. 

Maka ketika individu berada dalam kondisi emosi yang negatif seperti marah dan mampu menyadari perubahan reaksi yang muncul pada tubuh sebelum amarah tersebut sampai ke puncak (Peak Anger), maka kita dianjurkan untuk menjagak jarak (Distancing) atau menjauh dalam situasi tersebut. 

Berikut beberapa cara dalam mengelola emosi negatif yang mucul pada individu sehingga Kesehatan mentalnya tetap terjaga.

Islam sudah mempunyai cara yang sangat jitu sebagai solusi untuk mengelola emosi marah yaitu sebagaimana hadis berikut katakan:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Artinya: "Jika salah seorang dari kalian marah dan dia sedang berdiri maka hendaklah dia duduk. Jika amarahnya belum mereda maka hendaknya dia membaringkan dirinya." (HR Abu Daud).

Oleh karena itu jika sudah mulai muncul tanda-tanda amarah dalam diri Anda, maka lakukanlah pergerakan atau perubahan posisi.  

Jika Anda berada dalam posisi berdiri maka duduklah, jika Anda sedang berada pada posisi duduk maka berbaringlah, membaca Ta’awudz, mengambil Air Wudhu, Sabar dan diam.  

Perubahan posisi dan pergerakan dapat membantu meredakan ketegangan otot dan membuat individu merasa lebih rileks sehingga supply oxygen ke otak juga menjadi lebih lancar dan membuat perasan dan fikiran lebih tenang sehingga mampu berfikir dengan lebih positif dalam menyelesaikan permasalah yang dihadapi. 

Kemampuan mengelola emosi bukan berarti menekan atau menyingkirkan emosi negatif. Melainkan, tetap memahami, menerima, dan mengarahkan emosi dengan cara yang sehat. 

Hal ini dapat dicapai dengan berbagai strategi, seperti: Menyadari pemicu emosi yaitu mampu mengidentifikasi situasi, orang, atau hal-hal yang memicu emosi tertentu, baik positif maupun negatif. 

Menerima dan memahami emosi yaitu menerima bahwa semua emosi, baik positif maupun negatif adalah hal yang wajar dan manusiawi. 

Jangan menyangkal emosi yang muncul, melainkan berusaha memahami akar permasalahannya. Mengungkapkan emosi dengan tepat yaitu mampu mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat dan sehat tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. 

Kita bisa memilih waktu dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosi. 

Mengatur dan mengendalikan emosi yaitu memiliki strategi untuk mengelola emosi yang negatif, seperti stres, cemas, dan marah dan lain sebagainya. Mampu menenangkan diri dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi situasi yang memicu emosi tersebut. 

Selain itu, mengelola emosi ini dapat dipelajari dan dilatih melalui berbagai cara, seperti Mindfulness yaitu teknik membantu individu untuk fokus pada saat ini dan menerima semua pikiran dan perasaan yang muncul tanpa penilaian. 

Teknik relaksasi yaitu melakukan meditasi, yoga, dan latihan pernapasan dalam dapat membantu menenangkan tubuh dan pikiran, sehingga lebih mudah mengendalikan emosi. 

Konseling yaitu melakukan konsultasi dengan psikolog atau terapis agar dapat membantu individu memahami pola pikir dan perilakunya, dan membantu untuk mengelola emosi dengan lebih baik.

Meningkatkan kemampuan mengelola emosi bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan mental individu, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain. 

Individu yang mampu mengelola emosinya dengan baik lebih mudah menjalin komunikasi yang efektif, membangun hubungan yang positif, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif. 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar mengidentifikasi perubahan reaksi fisiologis pada tubuh ketika mengalami emosi negatif dan mengembangkan kemampuan mengelola emosi. Dengan demikian, kita dapat membangun mental yang sehat dan menjalani hidup dengan lebih bahagia dan sejahtera.

Referensi: 

https://iqra.republika.co.id/berita/s5ntxq320/rasulullah-saw-anjurkan-segera-duduk-ketika-marah-ini-rahasia-medisnya

https://repository.uin-suska.ac.id/5883/3/BAB%20II.pdf

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6600274/sabar-ini-cara-mengendalikan-marah-sesuai-ajaran-rasulullah
 Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). 

Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30 ( 2), 217-237. 

Greenberg, L. S. (2004). Emotion-focused therapy. Clinical Psychology & Psychotherapy, 11(1), 3-16.

• Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan