Belanja: Antara Kebutuhan dan Ketagihan yang Merusak

Ilustrasi belanja

Ketika seseorang belanja diluar dari kebutuhan, besar kemungkinan dia akan terjatuh pada ketagihan belanja, yang pada gilirannya, cepat atau lambat, akan menimbulkan kerusakan pada mental, finansial, dan kehidupan sosial.

Oleh: Arizul Suwar & Tuhfatul Athal

Belanja: Antara Kebutuhan dan Ketagihan yang Merusak

Beragam kegiatan yang dilakukan seseorang, seringkali membawa dampak ketagihan untuk melakukannya terus menerus. Ketagihan yang lalu aktual pada tindakan berulang-ulang, akan memunculkan kebiasaan yang bahkan bisa dilakukan oleh orang dalam keadaan tanpa sadar. Belanja, termasuk salah satu kegiatan yang dapat menimbulkan ketagihan pada seseorang.

Belanja atau berbelanja, pada dasarnya, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Belanja merupakan cara efektif untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan berbelanja, seseorang bisa mendapatkan barang-barang yang diperlukan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga lainnya

Namun, seiring perkembangan zaman, berbelanja tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan saja, lebih dari itu, kegiatan belanja hadir sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Perubahan gaya hidup, kondisi sosial, memberi sumbangan bagi terjadinya perubahan pada fungsi dan tujuan kegiatan belanja. Hadirnya berbagai pusat belanja, toko offline dan online, juga punya andil besar dalam pergeseran nilai dan fungsi belanja.

Berbagai pusat belanja masa kini juga menawarkan beragam kemudahan dan kenyamanan dalam berbelanja. Tawaran itu, ternyata memberikan dampak psikologis bagi seseorang, untuk terus berbelanja walau tanpa adanya kejelasan "apakah sesuatu itu benar-benar dibutuhkan."

Faktor Penyebab Ketagihan Belanja

Seseorang yang berbelanja di luar kebutuhan pokok, biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jessica Sulaiman menyebutkan ada beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya yaitu; 

Pertama, perasaan "kosong" yang menyebabkan seseorang melarikan diri ke dalam kegiatan berbelanja, demi menghilangkan perasaan "kosong" tersebut. 

Kedua, self esteem yang negatif, perasaan tidak bisa menjadi diri yang utuh, menyebabkan seseorang melakukan kegiatan belanja sebagai ekspresi untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. 

Faktor eksternal yang ikut memberi pengaruh bagi kegiatan belanja seseorang yaitu; lingkungan sosial, keluarga, teman, dan media sosial.

Jessica Sulaiman menjelaskan bahwa kedua faktor di atas, akhirnya membuat individu membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dia butuhkan. Di samping itu juga, membuat seseorang terobsesi untuk membeli barang apa pun, yang menurutnya dapat menunjukkan identitas dirinya.

Bagi sebagian orang, selain menyenangkan, belanja juga dianggap sebagai sarana untuk melepaskan emosi serta menjadi alat untuk menunjukkan eksistensi dirinya di tengah-tengah masyarakat. 

Celakanya, jika kegiatan belanja ini tidak terkontrol, maka ianya akan berubah menjadi, apa yang disebut sebagai, belanja kompulsif. 

Belanja Kompulsif: Ciri-Ciri, Dampak Buruk, dan Tawaran Solusi

Belanja kompulsif merupakan keadaan di mana seseorang melakukan pembelian barang atau jasa secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan finansial yang dimiliki. Fenomena ini dapat membawa berbagai risiko dan dampak buruk bagi individu yang terlibat. 

Ciri-ciri belanja kompulsif dapat dilacak melalui beberapa tanda umum, yang dapat diidentifikasi antara lain:

1. Pembelian Asal-Asalan dan Tanpa Pertimbangan

Orang yang mengalami belanja kompulsif cenderung melakukan pembelian secara tanpa perencanaan, dan tanpa pertimbangan matang terlebih dahulu.

2. Merasa Gembira Kemudian Menyesal

Setelah membeli barang-barang, seseorang mungkin merasa senang sejenak, namun kemudian menyesali pembelian tersebut. Ironisnya, jika sudah pada tahap ini, jika seseorang tidak bisa membeli suatu barang misalnya, maka kecemasan dan depresi akan mengganggu mentalnya.

3. Mengalami Kesulitan Finansial 

Belanja kompulsif menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan pribadi dan memenuhi kebutuhan pokok. Belanja kompulsif dapat menyebabkan individu mengalami masalah keuangan serius, seperti utang yang menumpuk dan kebangkrutan.

Tawaran untuk Mampu Keluar dari Jeratan Belanja Kompulsif

1. Membedakan Kebutuhan dengan Keinginan

Manusia sebagai makhluk rasional tentu memiliki kemampuan untuk mengontrol diri yang mumpuni dari dalam diri. Sebab itu, tanyakan selalu pada diri ketika berbelanja, apakah ini suatu kebutuhan atau hanya keinginan semata? Dan, utamakanlah kebutuhan.

2. Mempunyai Perencanaan Finansial

Perencanaan finansial sangat krusial adanya, seseorang yang tidak mempunyai perencanaan finansial yang bagus, detail dan terkonsep, akan mudah terhanyut dalam membelanjakan uang kepada sesuatu untuk memuaskan hasrat sesaatnya. 

3. Kreatif dalam Memilih Barang

Tidak perlu membeli barang banyak jika minim fungsi, atau fungsinya sebenarnya bisa digantikan oleh barang lain. Ketika memutuskan untuk membeli suatu barang, prediksikan satu barang tersebut apakah bisa digunakan untuk berapa keperluan, jika hanya dapat dipakai untuk satu keperluan, maka pilihlah barang lain yang multifungsi. Seperti membeli satu jilbab dengan warna basic agar dapat dipakai dengan beberapa warna baju sekaligus, dan lain-lain.

Penutup

Belanja yang baik ialah belanja yang sesuai dengan kebutuhan. Ketika seseorang berbelanja diluar dari kebutuhannya, maka besar kemungkinan dia akan terjatuh pada ketagihan belanja, yang pada gilirannya, cepat atau lambat, akan menimbulkan kerusakan pada mental, finansial, dan kehidupan sosial.[]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan