Media Sosial: Membentuk Realitas yang Berbeda dan Tips Mengkritisinya

Ilustrasi media sosial membentuk realitas


Media sosial memainkan peran penting dalam membentuk realitas yang berbeda dengan kenyataan sesungguhnya. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran kritis terhadap penggunaan media sosial.

Oleh: Arizul Suwar

Media Sosial: Membentuk Realitas yang Berbeda

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari banyak individu di era digital ini.

Platform-platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok memberikan akses baru kepada informasi, interaksi sosial, dan pembentukan opini. 

Penggunaan media sosial juga seringkali memainkan peran penting dalam membentuk realitas yang berbeda dengan kenyataan sesungguhnya.

Salah satu cara di mana media sosial memengaruhi persepsi kita tentang dunia nyata adalah melalui kurasi konten yang disajikan kepada kita. 

Algoritma media sosial memilih dan menampilkan informasi berdasarkan preferensi dan perilaku online kita, yang dapat menciptakan gelembung informasi di mana kita hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan apa yang kita sukai atau percayai. 

Kata kunci yang sering kita tuliskan dalam perilaku online, lalu menjadi acuan bagi algoritma media sosial untuk menampilkan konten-konten tertentu pada kita. 

Jika kita sering menuliskan kata "apel" di pencarian media sosial, maka apa pun yang berkaitan dengan "apel" akan menjadi konten yang tampil dan disarankan oleh algoritma media sosial, untuk tampil di beranda platform media sosial kita.

Akibatnya, kita mungkin kehilangan perspektif yang lebih luas dan hanya terpaku pada sudut pandang yang terbatas. Sudut pandang yang sudah disetel sedemikian rupa, yang menyesuaikan dengan kecenderungan kita sebelumnya.

Selain itu, media sosial juga sering digunakan untuk memperindah atau memanipulasi kenyataan. 

Melalui penyuntingan gambar, filter wajah, atau caption yang dipilih secara cermat, pengguna dapat menciptakan citra diri yang ideal atau mengaburkan batas antara kenyataan dan fantasi. 

Hal ini dapat menimbulkan tekanan sosial bagi individu lain yang mencoba mengejar standar yang tidak realistis yang dipresentasikan di media sosial.

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media sosial memengaruhi persepsi tentang peristiwa atau isu tertentu. 

Informasi yang tersebar di media sosial sering kali bersifat sensational, yang dapat memicu reaksi emosional yang berlebihan atau menyebarkan informasi yang tidak akurat. 

Dalam beberapa kasus, hal ini dapat mengaburkan garis antara fakta dan opini, serta menghasilkan polarisasi dan konflik di masyarakat.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran kritis terhadap penggunaan media sosial. 

Kita perlu belajar untuk memilah informasi yang kita terima, memeriksa kebenaran dari sumber-sumber yang beragam, dan mempertimbangkan dampak dari apa yang kita konsumsi secara online. 

Hanya dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengaruh media sosial, kita dapat membangun realitas yang lebih sejalan dengan kenyataan sesungguhnya.

Media sosial juga dapat mempengaruhi persepsi kita tentang diri sendiri dan orang lain. 

Banyak orang cenderung membandingkan kehidupan mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial, yang sebenarnya sering kali hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan orang lain. Artinya, yang ditampilkan itu bukanlah kehidupan yang sesungguhnya, melainkan sisi-sisi kehidupan yang telah difilter sebelumnya.

Hal ini dapat memicu perasaan kurangnya atau tidak puas dengan diri sendiri, yang kemudian memberi pengaruh pada masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Selain itu, media sosial juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi pendapat dan pandangan politik seseorang. 

Dengan tersebarnya informasi dan opini yang bersifat tendensius di media sosial, individu cenderung terpapar pada sudut pandang tertentu tanpa melihat informasi yang lebih luas. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, sudut pandangnya hanya berkutat pada apa-apa yang diinginkannya saja.

Hal ini dapat merusak dialog dan kesepahaman antara kelompok yang berbeda, serta memicu polarisasi politik yang lebih dalam.

Peran media sosial sebagai mesin utama distribusi berita juga memiliki implikasi besar terhadap realitas yang kita bangun. 

Berita palsu atau hoax dengan mudah dapat menyebar di platform-platform media sosial, mempengaruhi opini publik dan pembentukan kebijakan. 

Keberadaan filter bubble di media sosial juga dapat memperkuat keyakinan yang ada dan memberikan rasa legitimasi pada pandangan yang ekstrem.

Dengan semua pengaruh negatif yang mungkin timbul, penting bagi individu untuk mengembangkan literasi digital yang baik. 

Ini termasuk kemampuan untuk memilah informasi, mengidentifikasi berita palsu, dan memahami dampak dari apa yang mereka konsumsi secara online. 

Selain itu, memahami diri sendiri dan menyadari pengaruh media sosial terhadap pikiran dan perasaan kita, dapat membantu menjaga keseimbangan dan kestabilan mental.

Dengan kesadaran yang lebih tinggi tentang bagaimana media sosial dapat membentuk realitas yang berbeda dengan kenyataan sesungguhnya, kita dapat belajar untuk menggunakan platform tersebut secara lebih bijaksana. 

Hanya dengan pendekatan yang kritis dan pemikiran yang seimbang, kita dapat membangun realitas yang lebih sesuai dengan dunia nyata sambil menjaga kesehatan mental dan hubungan sosial yang baik.

Tips-Tips Mengkritisi Media Sosial 

Ada beberapa tips yang mungkin dapat membantu kita untuk membangun daya kritis terhadap media sosial. 

1. Memeriksa Sumber Informasi

Sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi tertentu, penting untuk kita mengecek sumber informasi. Apakah itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya, atau mungkin dari sumber yang tidak bertanggungjawab.

2. Verifikasi Fakta

Jika menemukan informasi yang tidak masuk akal, penting untuk memverifikasi ke sumber-sumber lain yang lebih dapat dipercaya.

3. Perhatikan Konteks

Setiap informasi tentunya memiliki konteks masing-masing, setiap informasi bisa saja diubah-ubah, dipotong-potong, sehingga menimbulkan kebingungan bagi kita jika tidak mengetahui tentang konteks informasi tersebut.

4. Jangan Terbawa Emosi

Media sosial seringkali menjadi tempat di mana emosi kita dapat terpengaruh oleh berbagai informasi yang kita temui. Sebelum merespons atau menyebarkan informasi, pastikan untuk merenungkan secara rasional dan tidak terburu-buru dalam menanggapi.

5. Mengkritisi Komentar dan Opini

Ketika membaca komentar atau opini di media sosial, berhati-hatilah dalam menerima informasi tanpa mengkritisi terlebih dahulu. Ada kemungkinan bahwa komentar tersebut hanya bersifat subjektif dan tidak didasari oleh fakta yang kuat.

6. Menjadi Pengguna yang Kritis

Yang terpenting, jadilah seorang pengguna media sosial yang kritis. Belajar untuk tidak hanya menerima informasi mentah tanpa dipertanyakan, tetapi juga mengkritisi dengan bijak sebelum mengambil keputusan.[]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan