Clock

Menulislah! Setiap Tulisan Pasti Ada Pembacanya


Oleh: Arizul Suwar*

Menulislah, tanpa perlu sibuk dengan tetek bengek penulisan. Tak jarang, tetek bengek itu malah menjadi penghambat bagi seseorang ketika hendak menulis, dia sibuk dengan kekhawatiran bahwa tulisannya tidak bagus atau bahkan tidak layak dibaca.

Setiap penulis tentu telah memiliki target pembaca ketika menyusun tulisannya. Baik itu penulis profesional, nasional, tradisional, bahkan penulis medioker sekalipun. Termasuk penulis status Facebook, yang kadang tidak jelas spasi dan tanda bacanya pun, tetap memiliki target pembaca sebelum dia memosting tulisan bersangkutan.

Sebagai penulis--saya tidak tahu harus memasang predikat apa--juga telah sebelumnya menentukan target pembaca. Dalam tulisan ini, saya ingin mengomentari sedikit terkait target pembaca dan menyesuaikan tulisan dengan selera orang banyak?

Untuk mengomentari kedua poin di atas, saya akan memberikan uraian pendek yang saling tumpang tindih, ini dimaksudkan karena saya berasumsi bahwa kedua poin itu saling terkait satu sama lain. 

Ketika menulis, saya sadar betul bahwa saya adalah makhluk yang menyejarah. Dalam konteks ini, berbagai kata yang digunakan, mode tanda baca, dan bahkan susunan kalimatnya, bergantung penuh pada memori membaca, diskusi dan berbicara yang selama ini saya dapati dan terapkan. Saya tidak bisa keluar dari situ!

Tulisan yang sering saya baca didominasi oleh artikel-artikel jurnal, berbagai makalah di kampus, dan buku-buku serius yang menggunakan bahasa baku dan akademik. Saya tidak bisa keluar dari situ! 

Bukan tidak bisa saya menggunakan kata ngelakuin sebagai pengganti kata melakukan, namun itu akan terasa janggal ketika tulisan tersebut saya baca ulang.

Mempertimbangkan hal di atas, rangkaian kata-kata yang saya gunakan harus diakui terasa serius. Tapi, ya mau bagaimana? Di sinilah saya menemukan bahwa tulisan-tulisan tersebut cocok dibaca oleh mahasiswa atau masyarakat lain yang punya latar belakang serupa dengan kehidupan saya. 

Jelaslah bahwa, poin kedua di awal, jawabannya adalah saya tidak bisa menyesuaikan tulisan dengan selera orang pada umumnya.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, harus saya akui, target pembaca tulisan saya adalah kelompok pembaca yang terbatas. Ini harus diakui sebagai suatu kelemahan, mau bagaimana lagi.

Melampaui itu semua, ada satu hal yang ingin saya tegaskan, bahwa setiap tulisan itu ada pembacanya. Segala sesuatu ada jodohnya, termasuk tulisan. Secara tidak langsung, ini juga menjadi pemacu semangat bagi saya untuk terus menulis, karena tidak dibebani oleh tips-tips dan opini penulis-penulis lain, yang menurut saya, setiap penulis memiliki pembacanya masing-masing. 

Senior saya pernah bercerita, dulu ada penulis yang sama sekali tidak dikenal semasa hidup. Barulah beberapa puluh tahun setelah kematiannya, penulis itu lalu dikenal sebagai penulis hebat pada masanya. Cerita ini bukan ditujukan untuk mencari-cari pembenaran, melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap tulisan itu ada pembacanya, walau pembaca itu belum ada saat ini. 

Namun, jika anda bertanya apa gunanya tulisan dihargai kalau penulisnya sudah mati? Saya juga tidak tahu harus menjawab bagaimana, yang jelas, jika memang menulis, maka menulislah tanpa perlu sibuk dengan tetek bengek penulisan. Tak jarang, tetek bengek itu malah menjadi penghambat bagi seseorang ketika hendak menulis, dia sibuk dengan kekhawatiran bahwa tulisannya tidak bagus atau bahkan tidak layak dibaca.[]

*Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan