Clock

Mengapa Manusia Menilai Sesuatu Secara Berbeda?


Oleh: Arizul Suwar*

Pengantar

Bagi sebagian orang, botol bekas, kotak televisi atau kulkas, tak lebih dari sekadar sampah yang tak berguna. Namun, barang-barang tersebut, begitu berharga bagi sebagian orang lainnya. Jika membeli TV baru, berikan kami kotaknya, itu dapat menjadi dinding bagi rumah kami. Demikianlah kira-kira ilustrasi perbedaan nilai yang diberikan oleh orang yang berbeda. 

Kasus selanjutnya, ketika koruptor ditangkap, sebagian orang merasa senang. Namun, ada juga orang-orang yang merasa marah dengan ditangkapnya koruptor tersebut. 

Dari dua kasus di atas, kita lantas bertanya, mengapa terhadap objek yang sama, orang-orang punya penilaian yang berbeda?

Dalam tulisan singkat ini, kita akan berusaha untuk memahami dan menjelaskan beberapa faktor penting yang mempengaruhi cara seseorang menilai sesuatu.

Pembahasan

Ada empat faktor yang mempengaruhi penilaian seseorang, yaitu: kebutuhan, kepentingan, orientasi dasar dan perasaan (emosi).

1. Kebutuhan

Bernilai atau tidaknya sesuatu, sangat dipengaruhi oleh kebutuhan. Semakin tinggi kebutuhan terhadap suatu barang misalnya, maka semakin bernilailah barang tersebut. Demikian juga dengan hal lain, sebutlah seperti pujian, semakin seseorang butuh pujian, maka semakin gencar pula dia berusaha untuk mendapatkannya. 

Pandangan dunia seseorang sangat bergantung pada kebutuhannya. Seperti yang ditunjukkan pada kasus pertama di awal tulisan ini, sesuatu yang dianggap sampah oleh sebagian orang, justru dicari dan dikumpulkan oleh sebagian yang lain. Beberapa bait puisi, mungkin bisa menggambarkan ini:

Begitu mudah dah tenang tanganmu melempar, 
roti, 
yang bagiku, cukup untuk dapat tegak berdiri.

Objek yang sama, akan mendapatkan penilaian yang berbeda dari orang yang berbeda kebutuhannya. Objek yang sama, ketika dilihat dari aspek yang berbeda, maka akan menghasilkan nilai yang berbeda.

2. Kepentingan

Kepentingan (interest) dari diri seseorang ikut andil dalam memberi penilaian terhadap sesuatu. Masyarakat tentu sangat senang ketika koruptor berhasil ditangkap dan dipenjara, namun tidak demikian halnya dengan kolega dan teman-teman "seperjuangan" koruptor bersangkutan. Mereka merasa marah sekaligus resah dengan penangkapan tersebut.

Dasar dari kepentingan adalah mencari atau merawat kesenangan diri. Sehingga berkonsekuensi pada penentangan terhadap segala sesuatu yang dianggap mengganggu kesenangan tersebut. 

Apa yang sebenarnya kotor dapat terlihat bersih ketika ada kepentingan. Demikian juga sebaliknya, sesuai dengan kepentingan masing-masing. Demi kepentingan, seseorang sama sekali tidak merasa bersalah jika harus berbohong, menuduh, bahkan memfitnah sekalipun.

Kepentingan, baik itu bersifat pribadi atau kelompok, membuat seseorang berat sebelah dalam menilai sesuatu, mengaburkan persepsi, bahkan mencederai evaluasi yang sesungguhnya.

3. Orientasi Dasar

Secara sederhana, orientasi dasar ini dapat dipahami sebagai nilai-nilai dan laku hidup yang dihayati oleh seseorang semasa kecilnya (pengalaman hidup). Orientasi dasar ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, tempat seseorang hidup semasa kecilnya. 

Seseorang berkembang menjadi pemboros atau penghemat, cinta damai atau militan, egoistis atau altruistis, tak bisa dipisahkan dari pengalaman hidup di tengah lingkungan keluarga semasa kecilnya. 

Orientasi dasar ini juga menjadi faktor penentu bagi seseorang dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu. Orientasi dasar membuat kecondongan tersendiri bagi penilaian seseorang. Dapat dikatakan bahwa orientasi dasar ini merupakan kacamata dasar bagi seseorang, bagaimana dia berpikir, merasa, melihat sesuatu sebagai keseluruhan terlebih dahulu, atau melihat secara parsial terlebih dahulu. 

Lingkungan semasa kecil membentuk orientasi dasar bagi seseorang, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berantakan (broken home), segera mengembangkan sikap keras dan egoistis pada dirinya. Hal yang sama yang telah terjadi pada orangtuanya. 

4. Perasaan (Emosi)

Perasaan (emosi) ikut berkontribusi dalam membentuk cara penilaian seseorang. Rasa suka-tidak suka, cinta-benci, marah-tenang, dan sebagainya, memunculkan warna tersendiri dalam memberikan penilaian. 

Seseorang yang sudah terlebih dahulu membenci, maka penilaiannya akan diwarnai oleh kebencian tersebut. Seseorang mungkin telah banyak melakukan kebaikan, namun, di mata pembencinya, itu semua dinilai tak lebih dari sebatas kemunafikan atau pencitraan.

Perasaan (emosi) ini dengan sendirinya akan mencari sesuatu yang sesuai dengan perasaannya, dan akan menolak apa pun yang berseberangan dengannya. Ini penting untuk digarisbawahi, karena sebagian orang yang percaya kepada hoaks, belum tentu dia tidak tahu bahwa itu hoaks, melainkan karena informasi dari hoaks itu sesuai dengan perasaannya.

Penutup 

Empat faktor yang mempengaruhi cara seseorang dalam menilai sesuatu, sebagaimana telah diuraikan di atas, bukanlah keseluruhan faktor. Artinya masih ada faktor-faktor lain yang ikut serta mempengaruhi penilaian.

Ketika kita menilai sesuatu, apa pun itu, sangat perlu untuk menyadari keempat faktor tersebut. Dengan kesadaran itu, dimungkinkan bagi kita untuk dapat lebih objektif dalam menilai, memahami, dan lebih bijaksana, dalam mengambil keputusan-keputusan dalam kehidupan sehari-hari. []

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan