Clock

Islamisasi Pengetahuan Kontemporer (Syed Muhammad Naquib Al-Attas)

Oleh: Tazkirah Khaira*
Walaupun pendidikan Islam sebagai suatu disiplin ilmu telah diakui menjadi salah satu bidang studi dan telah menarik minat kalangan pembelajar untuk mengkajinya lebih serius, tetapi sebagai sebuah bidang studi yang masih baru tampaknya disiplin ilmu ini belumlah pesat perkembangannya dibandingkan dengan sejumlah bidang studi Islam lainnya. 

Salah satu tokoh yang pemikirannya terus menjadi perbincangan dan acuan dalam menyoroti Islam sebagai pandangan dunia di era kontemporer ini adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Secara garis besar, yang melandasi pemikiran al-Attas adalah situasi kemunduran umat Islam dalam berbagai sistem kehidupan, terutama dalam dunia pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Al-Attas merupakan salah seorang pemikir Islam yang cukup tersohor dewasa ini, selain dikenal sebagai pengkaji sejarah, teologi, filsafat dan tasawuf, sosok al-Attas juga dikenal sebagai pemikir pendidikan Islam yang cemerlang. 

Nama lengkapnya adalah Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin al-Attas, yang lebih popular dengan Naquib al-Attas. Ia dilahirkan pada tanggal 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Silsilah keturunannya dapat dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba’alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Husein, cucu Nabi Muhammad Saw. 

Dalam pandangan al-Attas, dengan perubahan zaman yang berkembang semakin pesat, juga tantangan modernitas yang harus dihadapi umat Islam, salah satunya masalah yang menghantui umat Islam adalah pertumbuhan sains yang perlahan mengikis nilai moral dan agama, sehingga bukan lagi sains yang berkembangan mengikuti kebutuhan manusia melainkan manusia yang harus menyesuaikan diri dengan sains.

Umat Islam sudah sepatutnya lebih memperhatikan permasalahan ini, karena menurut al-Attas, saat ini sains sudah tercampuri oleh budaya Barat yang mencoba melepaskan nilai-nilai agama dari sains sehingga menyebabkan hilangnya peran agama dalam sains tersebut. Sains misalnya dipahami dari sudut pandang sains sendiri dengan menafikan sudut pandang ketuhanan.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah seorang yang fokus terhadap kemajuan umat muslim dari berbagai bidang. Beliau memiliki misi pokok yaitu menjadikan nilai-nilai dasar yang ada dalam Islam kembali pada akarnya. Al-Attas juga mencoba mengembangkan kata-kata kunci dalam Islam dengan tujuan tidak menghilangkan makna sesungguhnya di dalam kata-kata tersebut. 

Menggunakan makna yang tersembunyi di balik kata, al-Attas memunculkan kata lain yang merujuk pada kosa kata modern. Hal ini merupakan ide cemerlangnya, sehingga metode demikian salah satu ciri khasnya dalam memurnikan term-term kunci Islam supaya tidak salah dalam mengartikannya.

Menurut al-Attas, penyebab kemunduran umat Islam pada beberapa dekade belakangan adalah akibat dari kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan lemahnya penguasaan umat terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini mengakibatkan melemahnya umat Islam dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Al-Attas mencoba memberikan pemahaman yang jelas mengenai kemunduran dan kerancuan tersebut dalam konsep konkret untuk dapat diaplikasikan. Konsep-konsep tersebut mengandung metafisika Islam, falsafah ilmu, falsafah pendidikan, konsep manusia, kebahagiaan, konsep agama dan moralitas.

Konsep-konsep tersebut semuanya tercangkup dalam pendidikan sebagai satu bagian terpenting untuk membangun sumber daya manusia yang unggul serta penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Pengaruh dari Barat ini membuat perubahan pada tatanan pendidikan terlihat sebagaimana sains hanya berpaku pada rasionalitas dan empiris saja. Al-Attas melihat bahwa ilmu pengetahuan yang ada ini tidak bersifat netral, sehingga ilmu pun tidak dapat berdiri bebas nilai. Menurutnya, ilmu tidaklah bebas nilai (value free) akan tetapi syarat nilai (value laden).

Ironisnya, ilmu yang ada ini sudah terbaratkan atau tersekulerkan. Pengetahuan dan ilmu yang tersebar sampai ke tengah masyarakat dunia, termasuk masyarakat Islam telah diwarnai corak budaya dan peradaban Barat. Apa yang dirumuskan dan disebarkan adalah pengetahuan yang dituangi dengan watak dan kepribadian peradaban Barat.

Pengetahuan yang disajikan dan dibawakan itu berupa pengetahuan yang semu dileburkan secara halus dengan yang sejati (the real) sehingga manusia yang mengambilnya dengan tidak sadar seakan-akan menerima pengetahuan yang sejati. Karena itu, al-Attas memandang bahwa peradaban Barat tidak layak untuk dikonsumsi sebelum diseleksi terlebih dahulu.

Kehidupan Barat yang bercirikan sekuler telah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan yang bersifat otentik yang hanya dikaitkan dengan fenomena semata. Kriteria untuk mengukur sebuah kebenaran juga hanya berpatokan pada rasio. Inilah yang dikritisi oleh al-Attas. Pandangan tersebut menurutnya tidak sesuai dengan epistemologi Islam.

Menurut al-Attas, pengetahuan Barat telah membawa kebingungan (confusion) dan skeptisisme (skepticism). Padahal sejatinya, Islam telah memberi kontribusi yang sangat berharga pada peradaban Barat dalam bidang pengetahuan dan menanamkan semangat rasional serta ilmiah, meski diakui bahwa sumber asalnya juga berasal dari Barat sendiri, yakni dari filosof Yunani. 

Namun berkat kegigihan usaha para sarjana dan cendekiawan muslim di masa klasik, warisan yunani tersebut dapat digali dan dikembangkan. Bahkan pengetahuan-pengetahuan telah diaplikasikan untuk kesejahteraan umat manusia, setelah dilakukan usaha-usaha secara ilmiah melalui penelitian dan percobaan. Barat mengambil alih pengetahuan dan ilmu tersebut dari dunia Islam. 

Pengetahuan dan semangat rasional serta semangat ilmiah tersebut dibentuk dan dikemas kembali untuk disesuaikan dengan kebudayaan Barat sehingga lebur dan terpadu dalam suatu dualism menurut pandangan hidup (worldview) dan nilai-nilai kebudayaan serta peradaban Barat. Menurut al-Attas, dualisme tidak mungkin diseleraskan karena terbentuk dari ide-ide, nilai-nilai, kebudayaan, keyakinan, filsafat, agama, doktrin dan teologi yang bertentangan.

Kebenaran dan realitas dalam pandangan Barat tidak diformulasikan atas dasar pengetahuan wahyu dan keyakinan, melainkan atas tradisi budaya didukung dengan premis-premis filosofis yang didasarkan pada spekulasi atau perenungan-perenungan, terutama yang berkaitan dengan kehidupan duniawi yang berpusat pada manusia (antropomorfisme), sebagai makhluk fisik dan sekaligus sebagai makhluk rasional. 

Perenungan filsafat tidak akan menghasilkan suatu keyakinan sebagaimana yang diperoleh dari pengetahuan wahyu yang dipahami dan dipraktikkan dalam Islam. Karena itu, pengetahuan dan nilai-nilai yang mendasari pandangan hidup (worldview) dan mengarahkan kepada kehidupan Barat menjadi tergantung pada peninjauan (review) dan perubahan (change) yang tetap.

Sedang kelahiran ilmu dalam Islam, menurut Al-Attas didahului oleh tradisi intelektual yang tak lepas dari lahirnya pandangan hidup Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan Hadits. Berdasar inilah, sains dalam Islam menempatkan wahyu sebagai sumber ilmu untuk alat ukur sebuah kebenaran akhir. 

Wahyu menjadi dasar bagi kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme dan empirisisme.

Realitas dan kebenaran dalam Islam bukan semata-mata pikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya, sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat. Namun, ia dimaknai berdasarkan kajian metafisika terhadap dunia yang tampak dan tidak tampak. Pandangan hidup Islam mencakup dunia dan akhirat.

Aspek dunia itu harus dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final.

Pandangan hidup dalam Islam, menurut Al-Attas, adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and turth). Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata pikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekuler mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. 

Akan tetapi realitas dan kebenaran dalam Islam dimaknai berdasarkan kajian metafisis terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Pandangan hidup Islam tidak berdasarkan kepada metode dikotomis seperti obyektif dan subyektif, historis dan normatif. 

Namun, realitas dan kebenaran dipahami dengan metode yang menyatukan (tauhid). Pandangan hidup Islam bersumber kepada wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi. Substansi agama seperti keimanan dan pengalamannya, ibadahnya, doktrinnya serta sistem teologinya telah ada dalam al-Quran dan Hadits.

Dari deskripsi di atas, intisari dari gagasan al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah hendak mengcounter krisis dalam ilmu modern, baik dalam konsepsi realitas dan pandangan dunia pada setiap bidang ilmunya, maupun langsung pada persoalan-persoalan epistemologi, seperti sumber pengetahuan, nilai kebenaran, bahasa, dan lain-lainnya, dimana krisis itu akan sangat berpengaruh terhadap nilai-nilai ilmu yang dihasilkan masyarakat modern.

Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas proses islamisasi ilmu ini bisa dilakukan dengan melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban barat. 

Dalam arti menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan peluang-peluang terjadinya budaya yang menimbulkan suatu peradaban yang dihasilkan oleh orang-orang barat.

Ilmu pengetahuan dewasa ini menurut al-Attas telah terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran dari dunia Barat yang sekuler dan bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. 

Oleh karena itu penulis berharap dengan adanya konsep tentang islamisasi ilmu pengetahuan yang telah dipaparkan oleh al-Attas dapat menyadarkan kita betapa pentingnya mengambil segi-segi positif dari perkembangan-perkembangan modern seselektif mungkin. Tidak terkecuali pengetahuan yang datang dari peradaban Barat.

Referensi:

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, Terj. Karsidjo Djojosuwarno, dkk, Bandung: Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, 2011.

Mulyadi, Filosofi Islam Nusantara (Perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas), Lhokseumawe: Unimal Press, 2018.

Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, Cet. II, Jakarta: Rajawali Pers, 2013.

Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam (Gagasan-gagasan Besar Para Ilmuwan Islam), Cet. 1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Musayyidi, Pemikiran Pendidikan Islam Kontemporer Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, Jurnal Kariman, Vol. 5, No. 2, (2017).

Abdul Ghoni, Pemikiran Pendidikan Naquib al-Attas Dalam Pendidikan Islam Kontemporer, Jurnal LENTERA: Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Tekonologi, Vol. 3, No. 1, (2017).

*Penulis adalah alumni pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan