Clock

Dunia Bukan Negeri Keabadian



Oleh: Tazkirah Khaira*
Apa sih yang dikejar di dunia ini sampai-sampai shalat ditinggalkan, ngaji disepelekan, perbuatan yang haram tak dihiraukan lagi? Pada hakikat dunia adalah negeri sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Swt, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Oleh karena itu, kehidupan yang saat ini kita jalani sebaiknya kita gunakan untuk mempersiapkan amalan terbaik sebagai bekal akhirat kelak. Jangan sampai hidup yang sekali ini kita gunakan untuk kesibukan dalam mengejar kebahagiaan dunia. 

Padahal kita tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini berada dalam kuasa Allah Swt. Tak ada satupun luput dari aturan-Nya yang Maha Segala Mengatur kehidupan. Termasuk rezeki kita sudah diatur oleh Allah Swt. Kalau kita merasa tidak cukup, padahal kita sudah bekerja siang dan malam, yang salah bukanlah usaha kita, tapi niat kita. Firman Allah Swt dalam QS. Al-Qasas ayat 77:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…,”

Dari ayat tersebut bisa kita lihat bahwa yang ditekankan oleh Allah adalah urusan akhirat. Sampai-sampai Allah gunakan fi’il amr (kata perintah) “Carilah!” Adapun untuk urusan dunia hanya diinginkan “janganlah lupa”. Hal ini memberikan isyarat yang sangat jelas bahwa akhirat harus menjadi prioritas utama setiap orang.

Mengapa demikian? Karena pada prinsipnya akhirat memang mesti diraih dengan sungguh-sungguh. Sementara dunia yang setiap orang memiliki jatah, sudah menjadi naluri setiap orang untuk meraihnya. Sehingga tidak perlu dimotivasi. Tanpa diperintah pun orang pasti akan mencari dunia. Tetapi yang menyedihkan adalah kesibukan mencari dunia terkadang melalaikan dari akhirat. 

Banyak orang yang tergadaikan akhiratnya karena ambisi yang berlebihan dalam mengejar dunia. Sebaliknya tidak ada orang yang rugi dan lupa dunia karena sibuk mempersiapkan akhiratnya. Tidak ada orang yang lupa makan karena sibuk beribadah Tidak ada orang yang lupa menikah karena sibuk berdakwah dan mengurus agama. Sesibuk-sibuknya orang mengurus agama dan mempersiapkan bekal akhiratnya, ia takkan lupa dunianya.

Ada perbedaaan antara dua golongan orang yang berbeda. Yang satu, hatinya penuh dengan cinta akhirat. Sedangkan yang satunya lagi dipenuhi oleh cinta dunia. Orang yang benar mencintai akhiratnya akan memandang dunia sebatas kebutuhannya saja, bukan segala-galanya. Ia akan mencari dunia hanya sebatas memenuhi apa yang memang dibutuhkan guna menyambung hidup. Ia pun akan sangat berhati-hati dalam mencermati kehalalan hartanya, hidupnya di dunia ini juga didedikasikan untuk beramal shaleh. Karena ia tahu kehidupan abadinya bukan di dunia, melainkan di akhirat.

Sedangkan orang yang cinta dunia selalu memandang dunia dengan hawa nafsunya. Keinginannya begitu banyak hingga membeludak. Sudah dapat ini, ingin itu, sudah dapat itu, ingin yang lain lagi. Tidak pernah puas ia dengan apa yang telah dimilikinya. Tidak peduli halal atau haram, hari-harinya sibuk mencari dunia saja. Sampai akhirnya ia sendiri lupa bahwa semua yang ada di genggaman kelak akan binasa, sedangkan kesempatan untuk beramal telah tiada.

Ketahuilah! orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Orang yang hati sehat akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan dan mengerjakan amal-amal shaleh dengan ikhlas karena Allah Swt. 

Ketika seorang muslim mengejar pahala demi kebahagian di akhirat, maka akan ditambah nikmat dunianya oleh Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 20:

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berika kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat”.

Siapa yang tidak kenal Qarun, orang yang dibukakan pintu kekayaan oleh Allah Swt. Allah Swt menguasakan padanya ilmu dan pengetahuan tentang cara mengumpulkan harta. Berkat keahlian itu, Qarun mempunyai harta luar biasa banyak sampai-sampai harus membutuhkan 40 bodyguard untuk membawa kunci gudangnya. 

Hanya saja, kecintaannya terhadap popularitas dan kekuasaan mencegahnya untuk mengakui akan eksistensi Ilah Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi Qarun kekayaan yang ia punya bukan karena Allah melainkan karena usaha dan kerja kerasnya.

Kecintaannya terhadap harta telah menyeretnya pada sikap sombong yang mengesampingkan pikiran sehat dan mengambil pelajaran dari kehancuran umat-umat terdahulu akibat dari kekafiran dan kedurhakaan mereka. Karena sikap kezaliman dan kesombongan Qarun, Allah Swt terbenamkan Qarun beserta harta kekayaannya. 

Dari kisah Qarun, kita dapat mengambil ibrah bahwa harta yang kita miliki berasal dari Allah Swt. Harta utu tidak mungkin kita bawa mati dan bisa diambil oleh Allah Swt sewaktu-waktu. Tidak ada yang perlu disombongkan dengan harta yang Allah Swt singgahkan.

Semestinya, bagai seorang muslim kita jadikan nikmat dunia yang diberikan Allah sebagai alat dan kendaraan meraih akhirat. Menjadikan harta dan kenikmatan dunia lainnya sebagai sarana memperoleh pahala dari Allah. Dan tidak sebaliknya, mengorbankan umurnya untuk meninggalkan amal shalih dan mengejar dunia. 

Bukan berarti kita tidak boleh memanfaatkan dunia ini dan kemajuan teknologi di dalamnya. Akan tetapi, hendaknya kita memanfaatkan ini semua untuk membantu ketaatan kita kepada Allah Swt. Karena Allah Swt menciptakan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya untuk hamba-hambaNya yang beriman.

*Penulis adalah Alumni Pascasarjana UIN Ar-Raniry Program Magister Pendidikan Agama Islam
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan