Clock

Review Buku Menjerat Akal


Oleh: Sarah Ulfah*

    Kitab klasik adalah ruh nya setiap Dayah. Ketika menyebut kitab klasik, masih ada segelintir orang yang berasumsi bahwa pembahasan dalam kitab-kitab tersebut tidak relevan lagi dipelajari di zaman sekarang. Pembahasan yang termaktub dalam kitab-kitab klasik hanya dipandang sebagai pemahaman yang tertulis secara tekstual tanpa ada relevansinya dengan kebutuhan umat zaman modern untuk menjawab berbagai problematika yang sedemikian kompleks. 

    Tak jarang berbagai diksi taqlid buta, jumud dan primitif sering disuarakan pada mereka-mereka yang begitu bersemangat mengkaji dan mempelajari berbagai pola pikir ulama terdahulu melalui kitab-kitab klasik. Berdasarkan pandangan ini, menempuh pendidikan formal dengan mempelajari buku-buku pengetahuan modern untuk menjadi seorang intelek dianggap lebih berguna bagi masyarakat dibanding mempelajari kitab-kitab klasik yang pembahasannya dipandang tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan zaman modern.

Memang demikian halnya, bagi seorang yang tidak mengerti tentang hakikat kerang berisi mutiara dalam lautan tentunya penampakan kerang tersebut hanya sebagai cangkang keras dan bahkan tidak bernilai sama sekali. 

Namun bagi mereka yang mengetahui hakikat mutiara yang terselubungi cangkang keras itu, pasti akan berupaya meraihnya. Untuk meraih kerang yang menyimpan mutiara berharga yang dimaksud, pastinya seseorang harus menyelam ke dasar laut yang begitu dalam. 

Bersebab tidak semua orang memiliki kesedian dan keterampilan terhadap hal itu tentunya juga tidak semua orang mampu mengakses mutiara tersebut.

Kompetensi membaca kitab klasik adalah kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh santri dayah untuk mengakses berbagai literatur Arab. Tak hanya berbekal disiplin sintaksis dan morfologi, berbagai cabang disiplin  ilmu bahasa arab lainnya dan penguasaan leksikal harus mampu diaplikasikan untuk memahami pembahasan yang termuat di dalamnya.

Menjadi santri yang produktif tentunya tidak hanya sekedar mampu membaca dan menjelaskan kitab klasik di ruang pengajian saja, namun lebih dari itu yaitu mampu mentransformasikan berbagai pembahasan yang termuat dalam turas untuk menjadi bacaan yang lebih ringan dan mudah dipahami khalayak umum. Menjadi santri sejati tentunya harus mampu memberikan dedikasi terbaik untuk negeri. 

Salah satu bentuk dedikasi yang bisa dilakukan oleh santri adalah dengan membantu masyarakat menghadapi berbagai problematika dengan penawaran solusi untuk kembali kepada pemikiran pemikiran ulama terdahulu yang sudah terjamin keabsahannya. 

Oleh karena itu, kemampuan menangkap reliata dari problematika yang dihadapi umat serta mampu menganalisisnya dan memberikan berbagai solusi, merupakan sebuah dedikasi terbaik yang dinanti-nanti negeri dari seorang santri. 

Untuk itu, dalam mewujudkan hal ini tentunya seorang santri diharapkan tidak hanya mumpuni di bidang membaca kitab, namun juga ikut bergelut di bidang literasi demi membuktikan santri mampu berkonstribusi, bestari juga berdikari.

Seorang santri dayah bernama Jazuli Abu Bakar  telah berhasil membuktikan diri sebagai santri sejati melalui dedikasi terbaik beliau untuk umat dengan upaya meramu berbagai pembahasan urgen yang terdapat dalam turas menjadi bacaan berkualitas dan gak kaleng-kaleng. 

Menurut analisis sedarhana penulis, berbagai tema yang diangkat dalam pembahasan buku nya adalah tema-tema yang berkaitan erat dengan realitas hidup dan tentunya sangat dibutuhkan umat dewasa ini. 

Sesuai dengan judul nya “Menjerat Akal” Jazuli mencoba menangkap isu-isu pemikiran yang beredar di kalangan masyarakat dan mengkaitkannya dengan berbagai konsep dan teori ulama terdahulu yang termaktub dalam turats.  Tak hanya isu pemikiran, berbagai problematika sehari-hari yang jawabannya membutuhkan kedudukan akal untuk bisa diterima kebenarannya pun telah berhasil di bahas oleh Jazuli melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Ditengah merebaknya kaum-kaum yang memuja dan menuhankan akal demi mencapai sebuah kebenaran, buku ini mencoba menyetarakan kedudukan akal dengan wahyu. Jazuli mencoba membangun hubungan yang harmonis antara akal dan nash sehingga tidak seperti sikap kaum yang jumud dengan mencampakkan akal dan hanya mengendalikan nash, atau kaum yang terlalu mendewakan akal sehingga memilih untuk untuk memuseumkan nash.

Oleh karena itu, kehadiran buku Menjerat Akal karya sosok santri yang bernama Jazuli ini harus diapresiasi. Saya sangat berharap kepada berbagai santri di segala penjuru Aceh supaya kedepannya terus melahirkan karya-karya terbaik dalam literasi, dengan tujuan agar santri dapat menjadi jembatan bagi umat yang mempunyai keterbatasan dalam mengakses mutiara-mutiara yang termaktub dalam berbagai kitab klasik tersebut.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan