Clock

Bisakah Kau Bernyanyi Untukku? (Bagian 1)



Oleh: Bilhamdi*

Suasana sangat cerah pagi itu. Dengan mata masih setengah memicing, Sukardi turun dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamar lebar-lebar. Sontak, udara segar khas pagi hari menerpa mukanya yang keriputan itu. Dia menarik nafas panjang, lalu pelan-pelan melepaskannya. Sedikit menengadah, dia memandangi gunung yang tepat berhadapan dengan jendela rumah tuanya. 

Masih seperti biasanya. Hijau dan asri sekali. Meskipun bukan warga asli, dia telah tinggal di sana selama puluhan tahun. Gunung itu masih tampak kokoh dan perkasa sejak pertama kali ia melihatnya. Tak berubah sama sekali.

Setelah membuat secangkir kopi, dia duduk di teras sambil mengunyah beberapa singkong goreng sebagai sarapan. Sesekali dia menyapa warga yang lewat dengan ramah. Sukardi memang terkenal sebagai orang yang baik. Dia sering memberi bantuan pada orang-orang yang membutuhkan. 

Padahal, dia sendiri hanyalah seorang penggembala domba yang hidup sederhana. Bahkan belakangan ini, dia memiliki masalah dengan bank. Keuangannya sangat terganggu beberapa bulan terakhir. Ia mulai cemas orang bank akan menyita rumah satu-satunya.

Tiba-tiba, di kejauhan dia melihat seorang pemuda memainkan gitar sambil menyanyikan lagu dengan santai. Pemuda itu berpenampilan cukup rapi dengan topi bundar di kepalanya. Karena tertarik, Sukardi pun memanggil pemuda tersebut.

“Sepertinya aku membutuhkan hiburan,” katanya pada diri sendiri.

Sukardi berdiri dan melambaikan tangan. Pemuda itu berjalan ke rumahnya sembari terus menyanyikan lagunya. Mereka pun berkenalan dan mengobrol panjang. Awalnya Sukardi hanya ingin mendengarnya bernyanyi. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk curhat pada pemuda itu. Menceritakan masalah pada orang asing kadang lebih melegakan. Itulah yang sekarang dipikirkan Sukardi.

“Jadi, kau datang dari kota?” tanya Sukardi setelah mengobrol cukup lama.

“Iya, aku sudah lama jadi gelandangan. Semenjak diusir keluarga, aku mencari penghidupan dengan mengamen sepanjang jalanan,”

“Lalu, bagaimana bisa kau sampai di tempat ini?”

“Itulah masalahnya! Beberapa malam yang lalu, aku menaiki bus untuk pergi ke kota Sukajadi. Tapi saat terbangun ternyata sudah lewat tiga stasiun,” Jawabnya dengan sedikit tersenyum pahit.

Beberapa saat suasana menjadi hening. Raka—nama pemuda itu—membuang mukanya ke arah gunung. Memperhatikan gunung tersebut dari atas ke bawah. Sorot matanya tampak kosong.

“Kau sudah makan?” tanya Sukardi dengan perasaan iba.

“Belum, aku kehabisan uang untuk membayar ongkos bus karena kelewatan stasiun. Tapi...,”

“Ayo masuk! Kamu harus makan kalau begitu!” Ucap Sukardi memotong pembicaraan.

Sukardi memasak nasi dan membuat telur dadar. Selagi menunggu, Raka memandangi seisi rumah dari satu sisi ke sisi lain. Rumah yang sederhana dan tak terlalu besar. Dindingnya terbuat dari papan, namun tetap terlihat kokoh. Sukardi tinggal sendirian. Dia tak pernah menikah ataupun punya anak. Dia hanya memiliki kakak perempuan yang tinggal di kota lain. 

Setidaknya, itulah yang diingat Raka dari cerita Sukardi barusan di teras. Bagaimanapun, mereka memiliki kesamaan yaitu mereka sama-sama telah hidup sendirian dalam waktu yang cukup lama. Tampaknya itulah yang membuat mereka seakan saling mengerti perasaan satu sama lain meskipun baru berkenalan.

Setelah makan, mereka kembali berbincang tentang masalah kehidupan masing-masing. Dalam waktu singkat, mereka menjadi sangat akrab seolah telah berkenalan lama. Setelah lumayan lama mengobrol, Sukardi meminta Raka untuk menyanyikan beberapa lagu. Untuk beberapa saat, Sukardi akhirnya bisa lepas dari permasalahan yang tengah ia hadapi.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Langit senja memadukan warna biru, putih dan oranye dengan sangat sempurna. Matahari mengintip di balik gunung, merekahkan cahayanya ke segala arah. Pemandangan sore yang sempurna. 

Meskipun bagi Sukardi, itu adalah hal yang biasa, namun tidak demikian bagi Raka. Matanya tak berkedip memandangi pemandangan surgawi itu. Sore itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya merasakan kehangatan.

“Bolehkah aku tinggal di sini lebih lama? Aku akan menyanyikan lagu untukmu setiap hari,” Pintanya pada Sukardi.

“Tapi, aku tak bisa memberimu makanan yang enak. Kau tahu? Aku hanyalah orang tua miskin yang hidup dengan hasil dari gembala,” Ujar Sukardi mencoba realistis.

“Tak apa... aku terbiasa hidup susah. Kau tak perlu khawatir!”

“Baiklah, tinggallah di sini sementara waktu!” Jawab Sukardi dengan senyum simpul di wajahnya.

Keesokan paginya, Sukardi bersiap-siap untuk pergi ke ladang. Raka masih terlelap memeluk bantal di atas sofa. Oleh Sukardi, Raka dibiarkan tinggal di rumah. Dia butuh istirahat. Sukardi pergi ke ladang dengan meninggalkan sepucuk surat di meja, kalau-kalau Raka kebingungan saat bangun dan melihat tidak ada orang di rumah.

Sesampainya di ladang, Sukardi kaget melihat beberapa orang pemuda sedang melempari domba-dombanya. Dia pun berlari sambil berteriak “Ada apa? Kenapa kalian melempari domba-dombaku?” Tanya Sukardi dengan nada marah sekaligus bingung.

Bersambung...

• Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra, Jakarta 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan