Clock

Tinggalkan Mengeluh, Ada Cara Lain Untuk Menyikapi Hidup


Oleh: Hafnidar*

Kehidupan yang dijalani saat ini tidak lepas cari hal-hal yang kurang menyenangkan atau membahagiakan. Kita sering dihinggapi rasa sedih yang mungkin hadirnya terus memperkuat diri menjadi seseorang yang lebih tangguh ke depannya. 

Meskipun demikian, rasa bahagia dan tentram tidak bisa dihilangkan, dia akan menghampiri siapa saja yang diinginkan. Dan siapapun itu tetap berhak untuk bahagia. 

Seringnya kita melihat orang lain senang atau bergembira ketika membeli suatu barang seperti membeli mobil baru, tas, baju, handphone atau lainnya membuat diri sering merasa kalah atau bahkan hina, hingga mengeluh dijadikan sandaran terakhir. 

Terkadang terus memaksakan diri untuk menjadi seperti mereka membuat kita lupa melihat orang-orang yang kehidupannya sama atau bahkan lebih susah.

Kalimat seperti "Hari ini sangat menyebalkan", "Hidupku kok menyedihkan banget sih, huhu", "kenapa aku tidak menjadi orang kaya", atau kalimat "Kenapa aku gagal terus" itu sering kita dengar atau bahkan kita sendiri yang mengucapkannya. 

Secara sadar atau tidak, kebanyakan dari kita seringkali mengeluh dengan masalah yang dihadapi. Misalnya ketika mendapat tugas dari dosen, sedang sakit, sedang tertimpa musibah dan yang paling parah ketika turun hujan (padahal hujan itu berkah). 

Mungkin sebagian dari orang-orang yang mengeluh berpendapat bahwa dengan mengeluh dapat mengurangi beban yang dirasakan. Padahal, kenyataannya tidak demikian, justru malah sebaliknya. 

Apakah kamu termasuk orang yang sering mengeluh? Sering-seringlah mengajukan pertanyaan itu pada diri sendiri, bukan untuk bisa terus mengeluh, akan tetapi untuk kita introspeksi diri atau mencari solusi agar bisa melewati hari yang baik tanpa keluhan. 

Manusia yang hidup di dunia ini memang kebanyakan dalam keadaan susah payah. Lihatlah di sekitar kehidupan kita sehari-hari, tidak kita temukan terkecuali orang-orang yang mengalami musibah dan tidak menyaksikan kecuali orang yang sedang mengeluh kesakitan. 

Itu jika kita melihat dari sisi negatifnya. Dan kita pun. hidup dikelilingi orang-orang yang mempunyai masalah masing-masing. Tidak semua orang baik-baik saja dengan kehidupannya, ada banyak orang yang mencoba menghadapi kenyataan hidup ini dengan tenang sambil memikirkan cara untuk mengimbangi kehidupannya dengan baik tanpa harus mengeluh. 

Dalam Islam, cara dan tempat terbaik untuk mengeluhkan kesah adalah kepada Allah SWT. Bahkan, bagi seorang muslim sangat dianjurkan untuk bercerita keluh kesahnya dalam doa setelah melakukan sholat. 

Adukan kepada-Nya apapun yang sedang dialami atau pun yang ada dalam pikiran kita, dimana setiap hari terus mengusik. Karena di saat seseorang berkeluh kesah kepada manusia, sering tidak didapati jalan keluar, justru membuka permasalahan baru atau memberatkannya.

Sifat berkeluh kesah yang ada pada diri manusia sesungguhnya bisa terobati dan dikurangi, bahkan energi negatif dari berkeluh kesah bisa menjadi positif manakala seseorang mampu melakukan kebaikan. 

Menurut psikolog Brad J. Bushman, pengajar di Ohio State University, mengeluh bukanlah strategi yang efektif untuk mengatasi stress sehari-hari, apakah mereka memiliki kecenderungan perfeksionis atau tidak. Penelitian menunjukkan bahwa mengeluh bukannya membuat kadar stress berkurang, namun justru akan bertambah. 

Dalam Islam, mengeluh hanya menjadi penyebab hati gelisah. Allah SWT sangat tidak menyukai hambanya yang suka mengeluh, sebagai hamba-Nya yang tidak pernah putus diberikan kenikmatan bahkan dalam setiap helaan nafas. 

Dan untuk setiap cobaan yang Allah berikan tidak melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 

la mendapat pahala (dari penyediaan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (darik ejahatan) yang dikerjakannya.

Ada beberapa pandangan yang mengatakan mengeluh itu sebenarnya adalah hal yang wajar dalam hidup, namun sebaiknya kita jangan terlalu banyak mengeluh, karena jika dilakukan secara berlebihan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. 

Saya pernah membaca sebuah kutipan yang isinya, "Manusia kuat ialah manusia yang bisa menerima kenyataan hidup berdamai dengan keadaan dan tetap dengan pasti". 

Di dunia ini, tidak ada perjalanan atau rancangan yang semuanya berjalan sesuai dengan kehendak seseorang, semua sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jika di pertengahan jalan terasa lelah, istirahatlah. 

Tidak baik memaksakan diri, nanti kita usahakan lagi untuk sesuatu yang belum Tuhan izinkan. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada. orangnya. Begitulah, kehidupan terus mengalir sesuai dengan garis yang ditetapkan.[]

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Bahasa Arab/ Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan