Clock

Sudah Tahu tapi Sulit Menerapkannya: Sebuah pembacaan Eksistensial


Oleh: Arizul Suwar*

Pengetahuan tidak bisa mengubah seseorang. Sebutlah ketika seseorang membaca sebuah tulisan, apa pun bentuknya. Pengetahuan yang dia dapatkan mula-mula menjadi konsep hasil abstraksi pikirannya. Konsep tersebut lalu diinternalisasikan ke dalam diri untuk selanjutnya dicoba kontekstualkan dengan hidupnya. Setelah itu barulah dia mencoba untuk mempraktikkannya. Sekarang saya ingin mengilustrasikan sedikit terkait hal ini; pertama sekali, ketika seseorang menemukan sebuah tulisan yang menurutnya bagus dan layak dipraktikkan, setelah diinternalisasikan kemudian dicoba praktikkan. Dalam proses ini, persoalannya belum selesai hanya dengan mencoba mempraktikkan walaupun dengan keinginan yang kuat. Misalnya, ketika menemukan sebuah bacaan bagus, terbesitlah dibenaknya "wah, ini harus dipraktikkan nih." Persoalan ini masih ada kelanjutannya, yakni pada apa yang saya sebut sebagai "filter eksistensialis." Filter eksistensialis ini dapat diilustrasikan sebagai berikut; ketika seseorang telah menginternalisasi suatu pengetahuan, kemudian dia berkeinginan untuk mempraktikkan, keinginan itu lalu diwujudkan dalam kesehariannya, praktik tersebut mungkin hanya bertahan sehari atau seminggu saja, setelah itu memudar lalu menghilang dan dirinya kembali ke setelan pabrik (baca: semula). Pada tahap ini, dapat dikatakan bahwa praktik tersebut tidak lolos filter eksistensial.

Ada kasus yang kebalikan dari ilustrasi di atas, yakni; seseorang--sebutlah misalnya pernah mengalami kondisi menyedihkan yang berlarut-larut dalam hidupnya--dengan segenap daya dan upaya dia kemudian berhasil untuk berdamai dengan seluruh kondisi itu, tanpa pernah membaca tulisan-tulisan bertema "menghadapi kesedihan." Suatu ketika--misalnya--orang yang bersangkutan tersebut entah bagaimana menemukan sebuah tulisan tentang "melewati kesulitan." Sesaat setelah membaca itu, dia bergumam "ini semua sudah aku jalani sebelumnya, tanpa pernah tahu-menahu tentang berbagai teorinya." Nah, kasus kedua ini saya sebut sebagai kondisi yang lolos dari filter eksistensial.

Dari kedua kasus di atas, saya mencoba untuk melakukan perbandingan. Kasus pertama, seseorang telah punya pengetahuan tentang sesuatu melalui bacaan-bacaannya, namun dia tidak sanggup untuk menerapkan itu pada dirinya, dan itu disebut tidak lolos filter eksistensial. Kasus kedua, seseorang tidak memiliki pengetahuan melalui bacaan-bacaannya namun dia mampu mempraktikkan hidupnya untuk melewati berbagai kesedihan. Orang ini hanya secara "kebetulan" menemukan tulisan yang berbicara tentang "bagaimana melewati kesedihan" dan itu pun baginya sudah terlaksana lebih dari apa yang dituliskan dalam tulisan itu. Kasus kedua ini menunjukkan berhasilnya seseorang melewati filter eksistensial. 

Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya mempengaruhi filter eksistensial itu? Padahal bagi kebanyakan orang, menganggap bahwa pengetahuan dapat memberi perubahan pada diri seseorang. Jika berangkat dari kasus-kasus di atas, terlihat bahwa kasus pertama itu bersifat rekayasa (artifisial), ditandai dengan keinginan untuk menerapkan sebuah pengetahuan tanpa sebelumnya ada sebab persiapan. Seseorang ingin menerapkan sebuah pengetahuan tapi pada saat yang bersamaan dia tidak berada pada kondisi yang "support" terhadap pengetahuan tersebut. Sedangkan pada kasus kedua, ianya bersifat alami, bukan buatan atau rekayasa. Alam telah mengkondisikan orang tersebut dalam kondisi yang "support" yang mana kondisi itulah yang disebut sebagai sebab persiapan, oleh karenanya ia lolos filter eksistensial. 

Namun kini, apakah orang pada kasus yang pertama itu tidak didukung oleh alam? Sehingga dia kesulitan untuk menerapkan pengetahuan yang didapatinya dari membaca? Saya kira jawabannya tidak demikian. Orang pada kasus pertama itu sebenarnya telah juga "dicoba" untuk dikondisikan oleh alam, namun pengkondisian tersebut ditolak olehnya. Penolakan ini dapat berbentuk; keengganan dia untuk menerima kenyataan, dia mencoba lari dari apa yang menimpanya. Alih-alih menerima dan menstranformasi apa yang terjadi saat ini, dia malah mencari sesuatu di luar dirinya yang dianggapnya lebih baik dan lebih bagus. Secara tidak langsung dia telah menolak sebab persiapan untuk dapat lolos dari filter eksistensial. Dia menghindari "sesuatu yang sebenarnya untuknya", lalu mencoba sesuatu "yang bukan untuknya." Karena itulah, pada akhirnya, dia tidak mampu melewati filter eksistensial. []

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan