Clock

Esksistensi Terjemahan Turats di Kalangan Non-Santri





Oleh: Sarah Ulfah*

Santri sebagai penyambung tangan ulama harus mampu mentransmisikan ajaran agama Islam yang termaktub dalam berbagai kitab klasik. Tak hanya mampu mengajar, kemampuan menulis pun adalah salah satu yang sangat diharapkan dari santri agar kedepannya eksistensi santri terus diakui.

Salah satu bentuk perwujudan semangat santri di kalangan pesantren dalam bidang literasi adalah gemar menerjemahkan berbagai turas. Motif paling mendasar dalam hal ini adalah agar pemahaman yang mereka miliki dapat diabadikan dalam bentuk tulisan sekaligus kebermanfaatannya juga bisa dirasakan oleh kalangan non-santri yang kapasitasnya belum mumpuni untuk mengakses berbagai materi dalam literatur Arab, khususnya kitab klasik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa penulisan terjemahan berbagai kitab klasik memiliki sisi kekurangan dan kelebihan. Salah satu kekurangan dari kegiatan tersebut adalah mengurangi inisiatif santri pada pembelajaran bahasa arab, artinya kalangan santri menjadi tidak mau repot membuka kamus atau memahami penjelasan dari teks bahasa sumber, yaitu bahasa Arab. Namun, jika berbicara pada sisi kelebihan, penerjemahan kitab klasik memiliki kebermanfaatan yang mampu mengaburkan sisi kekurangannya sendiri.

Memang benar, keberadaan terjemahan belum tentu mewakilkan seni keindahan bahasa dalam literatur Arab. Namun keberadaan terjemahan turas sangat bermanfaat bagi kalangan non-santri yaitu masyarakat, pelajar umum, mahasiswa perguruan tinggi bahkan intelektual sekalipun. Untuk kalangan masyarakat, berbagai terjemahan kitab klasik yang dirasa sesuai dengan kebutuhan mereka demi menjawab problematika sehari-hari adalah kitab-kitab dasar yang memuat berbagai pembahasan fardhu ‘ain. Baik fardhu ‘ain dalam ilmu fiqh, tauhid, bahkan tasawuf.

Untuk kalangan pelajar, terjemahan yang banyak diminati adalah terjemahan kitab klasik yang berbau lingusitik Arab dasar. Kitab-kitab tersebut adalah kitab yang menjadi kajian dasar dalam kurikulum pesantren, seperti kitab awamil, jurumiyyah, dan berbagai kitab lainnya dalam disiplin ilmu nahwu. Sedangkan dalam disiplin ilmu sharaf, ada matan bina, kailani dan lain sebagainya. Terjemahan jenis kitab ini sangat cocok dan memiliki peminat yang tinggi di kalangan pelajar secara umum dalam konteks pembelajaran bahasa Arab.

Sedangkan untuk kalangan mahasiswa perguruan tinggi yang sudah mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi, sejenis kitab ilmu mantiq adalah salah satu yang banyak diminati. Namun tidak untuk semua mahasiswa, melainkan hanya mahasiswa yang berkosenterasi dan memiliki kecenderungan pada ilmu-ilmu rasional, seperti mahasiswa yang umumnya berada pada fakultas akidah filsafat. Tentunya jenis terjemahan demikian lebih dibutuhkan mereka.

Kegiatan menerjemah turats juga penting dilakukan mengingat Isam juga dijadikan bahan kajian oleh para orientalis yang berusaha mengaburkan pemahaman Islam jauh dari sebenarnya dengan niat tertentu. Oleh karena itu kegiatan menerjemahkan berbagai turats muthawalat merupakan sebuah usaha yang sangat penting dilakukan oleh para santri sebagai bentuk pemeliharaan orisinalitas berbagai pemikiran ulama terdahulu yang termaktub didalamnya.

Kegiatan menerjemah bukan hal yang dilakukan secara asal-asalan. Kegiatan menerjemah juga bukan hanya sekedar menerjemahkan berbagai kosakata dari bahasa sumber kepada bahasa sasaran. Namun menerjemah juga membutuhkan teori tertentu untuk menghasilkan kualitas terjemahan yang baik. Kualitas terjemahan dapat ditentukan dari seberapa mudah hasil terjemahan tersebut dapat dipahami oleh pembaca dengan tidak merubah makna bahasa sasaran, padanan kata dan frasa juga harus tepat, dan penguasaan yang tinggi terhadap bahasa sumber dan bahasa sasaran juga sangat dituntut bagi seorang penerjemah.

Oleh karena itu, untuk menghasilkan karya tejemahan yang berkualitas ada baiknya para santri yang memiliki kecenderungan dan potensi dalam menerjemahkan turas lebih memperhatikan berbagai teori dan tips yang dimaksud diatas. Pastinya terjemahan yang memiliki kualitas tinggi akan sangat banyak diminati oleh berbagai kalangan non santri. Terlebih di kalangan masyarakat, pelajar umum maupun mahasiswa perguruan tinggi.

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan