Takzim: Kunci Sukses Dunia Akhirat




Oleh: Nauratul Islami
 Pendidikan Islam tidak hanya tertuju pada pembentukan intelektual dan jasmaniah. Salah satu tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Karena akhlak inilah nilai tertinggi yang harus dicapai dalam pendidikan Islam. Sebagaimana tujuan diutusnya Rasullullah SAW yaitu untuk menyempurnakan akhlak.
    Proses pendidikan dan pengajaran akan terus berlanjut. Seiring dengan perkembangan zaman, maka pola pembelajaran juga ikut berubah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita sudah berada di Era Society 5.0. Di mana era ini adalah masa penyempurnaan dari Era Revolusi 4.0 sendiri. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan teknologi sangatlah pesat. Namun sebaliknya, ada juga hal yang patut kita sayangkan di zaman yang serba canggih ini. Salah satunya yaitu di dunia pendidikan sendiri, yaitu menurunnya etika murid terhadap guru.
   Bisa kita telusuri kondisi lingkungan sekitar kita sekarang di mana tingkat kepeduliaan seorang murid tentang adab dan akhlak terhadap guru semakin menurun. Nilai-nilai moral sedikit demi sedikit mulai terkikis. Ini merupakan hal yang harus diperbaiki, sehingga budaya takzim kepada guru dirasa harus dibumikan kembali.
Takzim Ilmu dan Ahli Ilmu
    Salah satu kitab yang membahas tentang interaksi antara guru dan murid yaitu kitab Ta’limul Muta’allim. sebuah kitab karangan Syekh az-Zarnuji, salah seorang murid dari pengarang kitab Al-Hidayah yaitu Ali bin Abu Bakar Al-Marghiani Al-Hanafi. Beliau adalah pemilik karya-karya tulisan yang terkenal dalam fikih Hanafi.
   Kitab Ta’limul Muta’allim ini ditulis dengan gaya dialog dan diskusi antara guru dan murid yang membahas tentang berbagai macam permasalahan agama, khususnya dalam aspek menuntut ilmu. Bagaimana konsep “rabithah” (hubungan) antara seorang guru dan murid yang seharusnya terjalin, juga bagaimana akhlak yang harus diterapkan dalam mencari ilmu.
    Banyak hal yang bertolak belakang dengan yang dituliskan oleh Syekh az-Zarnuji terjadi pada saat ini. Ada begitu banyak murid yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Ini merupakan perbuatan yang terpuji. Namun begitu disayangkan jika ia tidak dapat menghormati gurunya dengan cara-cara yang sudah termaktub dalam berbagai kitab karangan para ulama. Karena hal tersebut dapat mengakibatkan tidak akan merasakan nikmatnya ilmu.
  Hal yang dapat dilakukan agar memperoleh ilmu yang bermanfaat yaitu dengan jalan mentakzimi ilmu dan ahli ilmu. Wujud dari memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan kitab. Seyogyanya seorang penuntut ilmu hanya memegang kitabnya dalam keadaan bersuci.
 Cara lainnya untuk memuliakan ilmu adalah dengan menghormati guru. Sebagaimana Sayyidina Ali berkata “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku, sekalipun hanya satu huruf; jika ia ingin ia boleh menjualku, dan jika mau ia boleh membebaskanku”.
    Selain dari memuliakan ilmu, kita juga harus memuliakan guru. Salah satu bentuk wujud memuliakan guru yaitu selalu bermusyawah, menafwidhkan (menyerahkan), dan meminta pertimbangan urusan kepada guru ketika ingin melakukan suatu hal. Sudah semestinya kita selalu melakukan hal tersebut, agar ilmu yang kita pelajari dan kita dapatkan darinya menjadi ilmu yang berkah, dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Pun demikian, agar ilmu tersebut menjadi sebab meningkatnya ketakwaan kita kepada Allah SWT.
    Hal yang perlu digarisbawahi adalah kunci keberhasilan dari seorang penuntut ilmu adalah dengan menghormati dan memuliakannya. Karena ilmu tersebut baru dapat diambil manfaat dengan jalan mentakzimi ilmu dan ahli ilmu.
Ridha Guru, Ridha Orang Tua, Ridha Allah
    Seorang penuntut ilmu harus mencari ridha gurunya, menjauhi apa yang dilarang, dan selalu menaati perintahnya selama tidak menyalahi dalam aturan agama. Penulis teringat sebuah nasehat yang selalu diamanahkan oleh almarhumah Ummi Hj. Ainiyah kepada anak-anak ruhaniahnya, “Ridha guree, ridha ureung syik, ridha Allah, bahagia donya akhirat” (ridha guru, ridha orang tua, ridha Allah, maka akan bahagia dunia akhirat). Almh. Ummi tidak pernah lupa berpesan demikian. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya mendapat keridhaan guru dan orang tua dalam kehidupan kita. Karena dengan adanya ridha dari merekalah kita akan diridhai oleh Allah.
   Ada banyak kisah yang menceritakan tentang bagaimana perbedaan kehidupan murid yang beradab dan tidak. Salah satunya yaitu tentang seorang murid yang pintar, namun hidupnya menjadi tidak bahagia. Hal ini dikarenakan murid yang pintar ini meremehkan gurunya. Menganggap dirinya lebih dari sang guru. Dan ia juga mengabaikan adab-adab yang seharusnya ia lakukan terhadap gurunya. Sebaliknya dengan murid yang selalu berkhidmat kepada gurunya. Meskipun ia agak terlambat dalam memahami pelajaran, namun di masa depannya ia menjadi orang yang sukses. Dan juga ia hidup bahagia dalam ketenangan.
   Semoga para guru kita akan terus mengingatkan kita para murid tanpa letih dan jenuh bahwa kita tidak hanya membutuhkan ilmu saja. Semoga kita menjadi pribadi yang selalu mengedepankan akhlak mulia dengan siapa pun, terutama kepada guru dan orang tua kita. Karena sejatinya kebahagiaan dan kesuksesan kita tergantung pada keridhaan mereka. Pun demikian, semoga kita juga termasuk ke dalam generasi yang berkarakter Islami yang tidak mengabaikan etika. Dan juga semoga kita bisa menjadi pribadi yang seharusnya yaitu menjadi pribadi yang memiliki dua hal dalam menjalankan kehidupan ini, yaitu IMTAQ (iman dan taqwa) dan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Dengan hal tersebut, kita akan dapat terus memajukan dan mengembangkan agama dan negara. []

Baca tulisan menarik lainnya di Buletin INTIinspira

Download secara gratis 
        Link 1

        Link 2
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan