Kenapa Buku Anak-Anak Mengajari Saya Fenomenologi

INTIinspira - Aku ingat betul pernah membaca beberapa buku tentang filsafat fenomenologi. Sebagian kecil aku mengerti, sebagian besar lainnya tidak.

Tapi entah bagaimana, menurutku fenomenologi ini menarik, sampai aku memutuskan mendengarkan beberapa kajian di YouTube tentang itu.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti, walau jika diminta menjelaskan, aku memilih untuk pura-pura tidak dengar.

Untuk keperluan tulisan yang tidak terlalu penting ini, akanku coba membahasakan apa yang aku pahami dari fenomenologi. Lebih kurang begini: cara memandang sesuatu tanpa buru-buru mendefinisikannya. Sebelum kita menempelkan label, nilai, atau teori pada suatu hal, kita diminta menahan diri dulu—membiarkan sesuatu itu menunjukkan dirinya sendiri kepada kita, apa adanya.

Buset, bingung kan? Kedengarannya memang sulit. Tapi ya memang begitu. Husserl, filsuf yang disebut bapak fenomenologi, menyebutnya epoché, artinya penangguhan. Kalau kamu kesal, kesal saja sama Husserl.

Kenyataan tetap ada, tidak disangkal sedikit pun. Yang ditahan hanyalah penilaian kita atasnya, supaya yang tampak benar-benar tampak apa adanya—bukan sesuatu yang keburu kita definisikan sendiri dalam kepala. Semboyannya yang terkenal: kembali ke hal-hal itu sendiri.

Semboyan itu gampang dihafal, cuma beberapa kata. Tapi masalahnya, gimana bentuk praktiknya?

Kita hidup dalam dunia dengan jaring konsep yang sudah terlalu tebal. Misalnya, melihat kucing, sebelum sempat benar-benar memperhatikannya, kepala kita sudah menetapkan: itu mamalia, itu peliharaan, itu simbol kemandirian dalam budaya tertentu. Menahan semua itu, bagi orang dewasa, adalah kerja keras—dan nggak bisa dikerjakan gotong royong, harus sendiri-sendiri.

Lalu entah bagaimana, setelah aku mulai banyak membaca buku anak-anak dan menonton film animasi anak-anak, aku jadi terpikir begini: barangkali dunia anak-anak justru tempat paling wajar untuk sikap semacam ini.

Anak-anak tentu saja tidak sedang berfilsafat. Hanya saja mereka belum—atau belum sepenuhnya—memiliki jaring konsep setebal milik kita.

Ketika seekor kucing bicara dalam sebuah cerita, misalnya, anak itu tidak buru-buru bertanya apakah itu melanggar hukum biologi, atau berkata "mana ada, itu bohong semua." Ia menerima kucing yang bicara itu apa adanya, sebagaimana ia menampakkan diri dalam kisah—dan cara memandang seperti ini, yang kadang-kadang muncul begitu saja pada anak-anak, mirip sekali dengan sikap epoché itu—menurutku itulah yang menarik.

Buku dan film anak-anak yang baik, yang tidak sekadar iklan pesan moral secara dangkal, sering menempatkan keheranan sebagai cara utama berhadapan dengan dunia.

Keheranan itu sendiri, jauh sebelum Husserl, sudah disebut Aristoteles sebagai awal mula filsafat. Anak yang menatap siput lama-lama, tanpa buru-buru berkata "oh itu cuma siput," sedang melakukan sesuatu yang, sadar atau tidak, dekat sekali dengan sikap fenomenologis itu.

Rasanya di sinilah jawaban tentang mengapa aku suka buku dan film anak-anak mulai terlihat. 

Fenomenologi, selama ini aku baca, terasa seperti gagasan yang mengawang—jelas secara konsep, tapi nggak jelas bagaimana penerapannya dalam keseharian. 

Dunia anak-anak akhirnya berhasil memberi jangkarnya: tempat di mana sikap menahan diri dari definisi itu benar-benar terjadi, bisa dilihat, bisa dijalani, bukan cuma dipikirkan dan diangan-angankan.

Lalu bagaimana dengan buku semacam Totto-chan, yang jelas ditulis oleh orang dewasa? Bukankah itu berarti sudah tercemar oleh kacamata dewasa yang sama? Aku melihatnya tidak demikian.

Totto-chan bukan fiksi tentang anak-anak yang dikarang dari luar, melainkan ingatan seorang dewasa tentang masa kecilnya sendiri. Bedanya begini: ini bukan rekaan tentang bagaimana kira-kira anak-anak berpikir, melainkan menghidupkan kembali sebuah pengalaman yang pernah benar-benar dijalani.

Yang menentukan sebuah karya layak disebut menangkap dunia anak-anak, bagiku, bukan soal siapa yang menulisnya atau kapan ia menulis, melainkan apakah gambarannya berhasil setia pada ciri khas dunia anak-anak itu, dari sudut mana pun ia didekati.

Husserl sendiri, lewat metode yang ia sebut variasi eidetik, tidak pernah mempermasalahkan siapa yang menggambarkan sebuah pengalaman. Yang penting gambaran itu berhasil menangkap intinya.

Kesukaanku pada buku dan film anak-anak, dengan begitu, bukanlah berjalan mundur menuju sesuatu yang naif. Itu lebih terasa seperti jangkar—cara paling nyata untuk memahami sebuah gagasan yang—kalau hanya dibaca dari buku filsafat—hanya menjadi abstraksi semata.

Dunia anak-anak, dan karya-karya yang lahir darinya, entah ditulis oleh anak atau oleh orang dewasa yang jujur pada ingatannya sendiri, menunjukkan bagaimana sikap menahan diri dari definisi itu bisa terjadi tanpa harus dipaksakan.

Dan barangkali yang jujur pada ingatan sendiri tentang masa menjadi anak kecil, pada akhirnya, memang lebih dekat pada "hal itu sendiri" ketimbang teori-teori yang sudah kepalang penuh kategori sejak awal.

Itu sebabnya, mungkin, aku yang sudah lelah dengan banyak definisi ini merasa ingin terus kembali ke rak buku anak-anak—untuk berlatih sekali lagi melihat dunia sebagaimana ia menunjukkan dirinya sendiri.

Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com

Foto: Reflecting memories at golden hour/dibuat dengan AI
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan