Jambi: Provinsi Paling Berbahagia di Dunia
INTIinspira - Jambi barangkali termasuk provinsi yang jarang masuk televisi. Dalam skala nasional, Jambi tidak begitu masyhur.
Bahkan ketika saya kuliah di Jakarta, sebagian teman ada yang beranggapan bahwa Jambi adalah salah satu nama kecamatan di Sulawesi. Sebagian lagi tidak tahu sama sekali bahwa Jambi itu ada.
Namun, hal itu tidak mengurangi kebanggaan saya terhadap Jambi. Sebab bagi saya, Jambi adalah provinsi yang sangat tawadhu'. Ia memiliki begitu banyak kelebihan, tetapi tidak pernah mau menonjolkannya.
Dulu, Jambi punya sebuah pulau bernama Pulau Berhala. Pulau yang sangat indah. Tidak kalah indah dengan pulau-pulau eksotis seperti Raja Ampat ataupun Bali, menurut saya.
Secara historis, pulau ini benar-benar bagian dari sejarah Jambi. Bahkan namanya diambil dari nama Raja Pertama Jambi, Datuk Paduko Berhalo. Namun, demikian tawadhu'-nya Jambi, pulau tersebut akhirnya sekarang dimiliki oleh Provinsi Kepulauan Riau.
Jambi juga punya Gunung Kerinci. Gunung yang begitu indah. Nama gunung ini jelas-jelas diambil dari nama wilayah di Jambi, yaitu Kabupaten Kerinci.
Jambi juga punya Gunung Kerinci. Gunung yang begitu indah. Nama gunung ini jelas-jelas diambil dari nama wilayah di Jambi, yaitu Kabupaten Kerinci.
Namun, gunung ini pun pernah diklaim sebagai milik Sumatera Barat.
Untungnya, sengketa ini tidak berlanjut. Karena kalau terus berlanjut, entah kenapa saya meyakini Jambi juga tidak mau repot dan lagi-lagi akan memberikan gunung tersebut kepada Provinsi Sumatera Barat, sebagaimana Pulau Berhala tadi.
Tidak hanya itu, saat kuliah dulu saya mengikuti mata kuliah Filologi, yaitu bidang ilmu yang mengkaji manuskrip-manuskrip kuno.
Tidak hanya itu, saat kuliah dulu saya mengikuti mata kuliah Filologi, yaitu bidang ilmu yang mengkaji manuskrip-manuskrip kuno.
Saat mempelajari mata kuliah ini, saya baru tahu dari dosen pengampu bahwa Candi Muaro Jambi yang ada di Jambi dulunya adalah pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia.
Anehnya, saya orang Jambi dan saya tidak tahu itu. Lebih aneh lagi, dosen yang mengajari saya adalah orang Palembang, bukan orang Jambi.
Belakangan, Najwa Shihab lewat videonya di YouTube menelusuri kembali jejak-jejak peninggalan candi tersebut.
Belakangan, Najwa Shihab lewat videonya di YouTube menelusuri kembali jejak-jejak peninggalan candi tersebut.
Jelas sekali, Najwa Shihab bukan orang Jambi. Betapa luar biasanya provinsi satu ini.
Orang-orang luar begitu tertarik dengannya, tetapi ia sendiri justru cuek. Semacam starboy yang sedang farming aura.
Inilah yang membuat saya begitu kagum dengan Jambi. Provinsi yang teramat tawadhu'. Mereka sendiri sampai lupa dengan kehebatannya sendiri. Bahkan jika bisa, kelebihan itu diberikan saja kepada yang lain agar mereka tetap tidak dikenal.
Wajar saja kalau Jambi langganan masuk daftar provinsi paling bahagia di Indonesia.
Inilah yang membuat saya begitu kagum dengan Jambi. Provinsi yang teramat tawadhu'. Mereka sendiri sampai lupa dengan kehebatannya sendiri. Bahkan jika bisa, kelebihan itu diberikan saja kepada yang lain agar mereka tetap tidak dikenal.
Wajar saja kalau Jambi langganan masuk daftar provinsi paling bahagia di Indonesia.
Sebab mereka tidak begitu memusingkan hal-hal yang bikin pusing. Juga tidak mengharapkan penilaian manusia. Kelebihan-kelebihan mereka tidak pernah mereka banggakan. Bahkan mereka lupakan.
Kata Seneca, “Manusia lebih sering menderita di dalam pikirannya daripada dalam kenyataan.”
Kata Seneca, “Manusia lebih sering menderita di dalam pikirannya daripada dalam kenyataan.”
Manusia menderita kadang bukan karena realita yang ia jalani, tetapi karena bagaimana ia memikirkan realita tersebut.
Bagi provinsi lain, kehilangan pulau atau gunung mungkin menjadi hal yang sangat berat karena terus dipikirkan. Berbeda sekali dengan Jambi. Ia seolah ikhlas saja dan sangat menerima takdir yang sudah digariskan.
Satu lagi, karakter Jambi yang mungkin tidak akan ditemukan dalam tradisi dan budaya mana pun di dunia.
Bagi provinsi lain, kehilangan pulau atau gunung mungkin menjadi hal yang sangat berat karena terus dipikirkan. Berbeda sekali dengan Jambi. Ia seolah ikhlas saja dan sangat menerima takdir yang sudah digariskan.
Satu lagi, karakter Jambi yang mungkin tidak akan ditemukan dalam tradisi dan budaya mana pun di dunia.
Orang Jambi kalau ditanya, “Lagi apa?”, “Mau ke mana?”, atau “Apa kegiatan sekarang?”, maka jawabannya sangat sederhana: “Dakdo”, yang secara harfiah bermakna “tidak ada”.
Ya, orang Jambi benar-benar terbiasa menjawab “tidak ada”. Sekalipun mereka sedang bekerja membangun gedung sepuluh lantai, kalau ditanya “Lagi apa?”, mereka akan spontan menjawab, “Dakdo” (tidak ada).
Kalau Seneca masih hidup, mungkin Jambi sudah ia gelari sebagai provinsi paling Stoik. Karena orang Jambi benar-benar jarang mau memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Bahkan mereka tidak terlalu memikirkan apa yang mereka lakukan. They just do it.
Saya juga meyakini tidak ada orang Jambi asli yang berhasil membaca sampai di sini. Sebab membaca itu harus berpikir, sementara pikiran adalah sumber penderitaan dan penyakit.
Kalau Seneca masih hidup, mungkin Jambi sudah ia gelari sebagai provinsi paling Stoik. Karena orang Jambi benar-benar jarang mau memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Bahkan mereka tidak terlalu memikirkan apa yang mereka lakukan. They just do it.
Saya juga meyakini tidak ada orang Jambi asli yang berhasil membaca sampai di sini. Sebab membaca itu harus berpikir, sementara pikiran adalah sumber penderitaan dan penyakit.
Orang Jambi tidak mau pusing karena terlalu banyak berpikir. Karena itulah mereka selalu bahagia. Tidak heran jika nantinya Jambi menjadi provinsi paling bahagia di Indonesia, bahkan dunia.
Penulis: Bil Hamdi (pemuda Jambi yang kini menginjak usia seperempat abad dan belakangan mendadak ditugaskan menjadi kepala sekolah).
Foto: Pinterest


