Kedisinian Sebagai Pijakan Bagi Mikro Revolusioner (Revolusi Mikro Part II)

Ilustrasi imam mufakkir revolusi mikro

Oleh: Imam Mufakkir*

Keinginan agar semua hal berjalan dengan mudah dan cepat sudah menjadi naluriah kita sebagai manusia abad Modern. Rasa ingin ini telah melahirkan banyak penemuan baru yang menjanjikan dua hal itu, mudah dan cepat!


Blender dimanfaatkan agar bisa ngulek sambal lebih mudah, motor digunakan agar bisa sampai ke tujuan lebih cepat, inovasi headset nirkabel agar konsumen tidak perlu mengurai kabel kusut, bahkan charge baterai handphone pun bisa sangat cepat dengan fitur fast charging.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang berjudul: Revolusi Mikro Sebagai Basis Peradaban Indonesia Emas.

Kita lanjutkan, namun begitu, apakah semuanya memang terlahir dalam keadaan mudah dan cepat? Tentu jika kita menilik dibaliknya, terdapat proses yang panjang dan melelahkan.

Ada kata-kata yang menarik dari adik saya Imam Subhan ketika sedang menyemprot padinya dengan teknologi Drone, “yang buat alat ini pasti dulu waktu kecil dia bangun pagi dan pergi sekolah dengan sungguh-sungguh”, saya tertawa mendengarnya sekaligus merenung, benar juga, semua terobosan besar, pasti diawali dengan jutaan langkah kecil.

Penulis teringat pada beberapa cerita heroik para mikro revolusioner yang begitu sabar berjalan dengan langkah-langkah kecilnya.

Ada kisah hebat dari salah seorang pemimpin dunia, Xi Jinping. Ketika selesai menamatkan pendidikannya di bidang ilmu kimia, pada tahun 1969, dia ditugaskan oleh ayahnya untuk membangun desa tanpa listrik dan air bernama Liangjahe di pedalaman provinsi Shaanxi, Tiongkok.

Menariknya, tanpa mengeluh kurangnya anggaran dan buruknya keadaan, Uncle Xi menggunakan keahliannya pada bidang kimia, ia bersama warganya membuat tangki Biogas yang memungkinkan penduduk desa dapat menghasilkan bahan bakar dari limbah organik.

Mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan batu bara, membantu mengurangi polusi udara, dan juga meningkatkan kualitas hidup penduduk dengan menyediakan sumber energi yang lebih bersih dan efisien.

Mungkin penulis terlalu jauh memberi contoh ke negeri Tiongkok sana, baiklah, dari produk dalam negeri, ada cerita hebat pada sosok seorang ulama di Aceh Barat, tanpa mengeluh tidak adanya balai pengajian dan rumitnya keadaan moral kaumnya, beliau terus berjuang memperbaiki manusia dari rumah ke rumah (tentu dengan kerelaan dari pemilik rumah tersebut dalam menyediakan tempat).

Beliau fokus membidik perbaikan dasar dari sebuah bangsa yaitu individu anggota keluarga, satu per satu.

Langkah mikro ini juga pernah dilakukan oleh Syeikh Hamzah Fansuri bersama Syeikh Syamsuddin Sumatrani hingga Syiah Kuala, memperbaiki manusia dari rumah ke rumah, sampai membentuk kejayaan melalui kerajaan yang dipimpin muridnya, Pemimpin Agung Sultan Iskandar Muda.

Tidak pernah terbayangkan oleh Uncle Xi dan Syeikh Hamzah Fansuri bahwa langkah-langkah kecil mereka di pedalaman terpencil itu akan membangun kejayaaan luar biasa bagi bangsanya.

Mereka hanya fokus pada apa yang dihadapkan pada dirinya, tidak ada energi listrik, kita buat tangki Biogas metana berbahan baku kotoran hewan. Tidak ada balai pengajian, kita laksanakan pengajian dari rumah ke rumah. 

Inilah yang dinamakan kedisinian! Para Mikro Revolusiner tidak menghayal apa yang ada di sana, mereka fokus apa yang ada di sini, apa yang ada dihadapannya.

Mengenai fokus dengan apa yang ada di hadapan, ada nasehat yang relevan dari salah satu orang suci, “Jangan masukkan gambar kedalam rumahmu, jika kamu masukkan, maka tidak ada lagi kebaikan yang bisa masuk”.

Dalam teori kedisinian, gambaran yang diproduksi dari penyesalan masa lalu dan hayalan kosong tentang masa depan akan menghambat kebaikan yang sebenarnya sangat ingin menghampiri.

Diri kita yang memang menjadi "rumah" bagi kesadaran baik itu emosi, pikiran bahkan nafsu, tentu perlu dibentengi dengan rasa syukur akan kedisinian agar mampu fokus pada apa yang ada di hadapan.

Nasehat tersebut dicontohkan dengan baik dalam cerita dua orang yang sedang memakan buah salak, orang pertama mengatakan “kesat ya rasa salak ini, saya pernah makan salak pondoh, menurut saya itu salak paling enak” orang kedua menanggapi “bagi saya, salak yang kita makan ini yang paling enak, karena salak inilah yang bisa saya nikmati, salak pondoh tidak enak karena tidak ada di hadapan saya saat ini”. Kedisinian adalah seni menerima apa yang dihadapkan pada diri.

Lalu bagaimana sikap kedisinian terhadap yang namanya harapan? Ada banyak teori yang bisa menjelaskan, namun yang paling sederhananya, harapan ini berbeda dengan hayalan kosong.

Bagi kedisinian, harapan selalu dibarengi dengan strategi yang berisi langkah konkret yang dapat segera dilakukan. Misalnya seseorang yang bercita-cita menjadi mekanik di tim balap hebat, harus segera memulai langkah konkret yang bisa dilakukan, misalnya meminta magang di bengkel jika tidak ada uang untuk ikut kursus mekanik.

Namun begitu, bagi kedisinian, mereka memiliki kesadaran bahwa langkah kecil ini hanya untuk memperbesar peluang mencapai harapan, bukan memastikan harapannya terwujud, seseorang menempuh pendidikan dengan harapan bisa lebih sukses, apakah sudah pasti sukses? jawabannya tidak, namun apakah dapat memperbesar peluang untuk sukses, jawabannya iya.

Mikro Revolusiner tentu tidak bisa menjawab apakah langkah yang dilakukannya pasti memberi perubahan pada level makro atau jika meminjam istilah Bambang Pacul, melenting ke level makro. tetapi mereka memahami bahwa gerak mikro ini dapat memperbesar peluang adanya perubahan di level makro.

Pergerakan tidak mungkin berjalan beiringan dengan sikap protes dan menggerutu, Mikro Revolusiner harus mampu menerima terlebih dahulu keadaan yang ada dihadapan dengan rasa syukur, penerimaan ini akan memberinya energi untuk dapat melenting ke level makro. Oleh karena itu, wahai Mikro Revolusiner bersyukur dan melentinglah!.

* Pemerhati Demokrasi. 
Penulis dapat dihubungi melalui Email: imam.mufakkir12@gmail
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan