Clock

Membaca Ulang Hedonisme Epicurus



Oleh: Arizul Suwar*


"Hedonisme masa kini disandingkan dengan makna kemewahan, gaya hidup berlebihan dan cenderung kepada perilaku konsumtif." (hlm, 51)

Hedonisme dalam pemikiran Epicurus tidak ada hubungannya dengan gaya hidup konsumtif dan berfoya-foya. Hedonisme saat ini telah dipahami jauh dari pemaknaan yang diberikan oleh Epicurus. 

Anak muda generasi milenial beranggapan bahwa sikap hedonis merupakan pertunjukan bagi gaya hidup yang mengutamakan kesenangan dan kenikmatan sesaat dengan dalih "Hidup hanya sekali sehingga harus dinikmati dengan bebas dan sepuasnya". (hlm, 52).

Gaya hidup hedon yang telah disalahpahami itu, ditopang oleh perkembangan teknologi yang menjadi tempat bagi kalangan muda untuk mengakses segala hal, yang di anggap dapat mendatangkan kepuasan. Berbagai iklan ikut memberi kontribusi bagi suburnya gaya hidup tersebut.

Hedonisme yang banyak dipraktikkan sekarang ialah "mencari kesenangan sebanyak-banyaknya dan menghindari segala sesuatu yang menimbulkan ketidaksenangan." Praktik hedon seperti ini telah terkontaminasi dengan paham kapitalisme. 

Seorang hedonis cenderung memilih pergaulan berdasarkan hasil seleksi materi, ketenaran dan sebagainya. 

Teman bagi seorang hedonis adalah mereka yang punya kemampuan untuk membelanjakan uang untuk barang-barang terkini (populer).

Salah satu prinsip hedonisme yang dipraktikkan sekarang adalah "ikut tren", yang akhirnya berimplikasi pada cenderung menjadi follower untuk semua gaya kekinian, tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, dan berkurangnya tingkat kepedulian sosial (hlm, 57).

Mengonsumsi atau mengoleksi suatu barang secara berlebihan merupakan gaya perilaku konsumtif, yang secara tidak langsung telah memberikan banyak dampak buruk bagi kehidupan seseorang. 

Dari sisi psikologis, hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan bila suatu saat tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi hasrat mengonsumsi atau mengoleksi suatu barang. 

Dari segi ekonomi, perilaku ini mendorong seseorang untuk boros sehingga pengelolaan keuangan mengalami kemerosotan (hlm, 57-58).

Berangkat dari permasalahan tersebut, Tri Padila berusaha untuk mengulik kembali pemikiran dasar Epicurus tentang hedonisme dengan tujuan dapat menjadi langkah dalam menyikapi kesalahpahaman itu, agar hedonisme tidak hanya dipahami sebatas pemuasan kenikmatan materi semata, tetapi juga dipahami dalam kerangka meraih kebahagiaan melalui pola hidup yang sederhana.

Epicurus (341-270 SM) merupakan filsuf Yunani Klasik yang mendirikan sebuah mazhab filsafat yang disebut Hedonisme (epikureanisme). 

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu "hedon" yang berarti "pleasure atau kenikmatan". Bagi Epicurus, hedonisme adalah hidup yang mengutamakan level kenikmatan dengan mempertimbangkan ketenangan (hlm, 52).

"Level kenikmatan yang menghasilkan ketenangan bagi Epicurus adalah rasa cukup, wajar, dengan pola hidup sederhana dan bukannya berlebihan."

Epicurus menjelaskan bahwa kenikmatan yang baik adalah kenikmatan yang mendatangkan ketenangan. Melakukan kebaikan, hidup sewajarnya, merupakan tindakan yang mendatangkan kenikmatan dan ketenangan.

Dalam makna yang lain, tindakan yang demikian, dapat mejauhkan seseorang dari perasaan takut dan gelisah. 

Epicurus merupakan sosok yang hidup sederhana, menjalin hubungan yang baik dengan sesama, bahkan ketika ditimpa rasa sakit pun dia mampu menunjukkan sikap yang penuh ketenangan (hlm, 54). 

Epicurus menyatakan bahwa manusia akan merasakan ketenangan ketika mendapatkan kebebasan hati, kebebasan dari rasa takut dan gelisah. 

Sesuatu yang nikmat, namun tidak mampu menghadirkan ketenangan bagi seseorang, adalah sesuatu yang harus dihindari. 

Epicurus sadar betul terhadap batas kenikmatan. Batas ini  sangat perlu untuk diketahui mengingat kenikmatan seringkali membuai manusia sehingga lupa terhadapnya. 

Menyadari batasan kenikmatan bertujuan untuk menyikapi kenikmatan dengan tenang sehingga kenikmatan tersebut membawa dampak yang baik bagi kehidupan (hlm, 56).

Manusia yang mengejar kenikmatan dalam konsep Epicurus tidak sama dengan kerakusan. 

Rasa sakit yang dialami seseorang juga dapat disebut kenikmatan, dengan alasan bahwa setelah mengalami rasa sakit seseorang akan menikmati rasa sehat. Sebagaimana obat yang pada awalnya pahit namun pada akhirnya dapat menjadi penawar bagi kesakitan seseorang. 

Kenikmatan tidak melulu dalam artian jangka pendek, seperti manis ketika memamah gula, namun juga dalam jangka panjang seperti menanam tumbuhan yang suatu saat dapat menghasilkan buah yang segar.

Level kenikmatan dalam hedonisme Epicurus tidak hanya sebatas kenikmatan yang dirasakan sendiri (egoistic hedonism) namun juga berkaitan dengan kenikmatan yang dapat di rasakan orang lain (universal hedonism). 

Ini menunjukkan bahwa hedonisme Epicurus tidak terjerumus ke dalam gaya hidup yang individualisme. Kenikmatan bagi Epicurus juga bukan sematas kenikmatan materi melainkan juga rohani dan intelektual. 

Hedonisme a la Epirucus adalah sikap hidup yang mampu menghemat kenikmatan, karena sesuatu yang berlebihan hanya akan menimbulkan malapetaka bagi kehidupan seseorang.[]

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan