Clock

Hidup yang Bernilai Menurut Romo Magnis

Romo magniz


Oleh: Arizul Suwar*

Hidup kita akan bernilai apabila ada beberapa orang yang merasa bersyukur pernah bertemu dengan kita
(Romo Magnis Suseno)

Sungguh mengagumkan, begitulah kira-kira saya membatin ketika mendengar kalimat Romo Magnis

Hidup kita akan bernilai apabila ada beberapa orang yang merasa bersyukur pernah bertemu dengan kita. 

Kalimat itu terasa sangat luar biasa karena jika berbicara tentang kebahagiaan, umumnya orang akan membuat rujukan kepada dirinya sendiri, dan bukan kepada orang lain.

Saya akan berikan contoh, ketika umumnya orang berbicara tentang kebahagiaan, tentang sesuatu yang membuat hidupnya bernilai, seringkali orang itu akan mengatakan, hidup saya akan bernilai jika memiliki ini atau memiliki itu. 

Atau contoh lain, hidup saya akan bernilai jika saya dihormati dan didengarkan oleh orang lain. 

Melalui kedua contoh tersebut, saya ingin menunjukkan bagaimana umumnya orang menjadikan dirinya sebagai rujukan kebahagiaan.

Beda halnya dengan apa yang disampaikan Romo Magnis, beliau menyebutkan bahwa, hidup ini akan bernilai jika ada orang lain yang merasa bersyukur pernah bertemu dengan kita. 

Rujukan kebahagiaan yang beliau buat berada pada orang lain.

Ketika ada seseorang yang bersyukur pernah bertemu dengan kita, artinya orang itu bahagia, dan karena dia bahagia maka saya pun bahagia. 

Pada titik ini, dengan sangat terang terlihat, betapa Romo Magnis begitu empati kepada orang lain.

Pada umumnya, orang melihat dan merujuk kebahagiaan hanya kepada dirinya sendiri. 

Tidak peduli, apakah kebahagiaan dia dapat membahagiakan orang lain, pada poin ini, umumnya orang memberikan predikat kepada kebahagiaan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki sendiri.

Hidup menjadi bernilai ketika kehadiran kita bermanfaat bagi orang lain. 

Dengan itu, kita akan terus hidup bersama dengan orang-orang yang merasa bersyukur pernah bertemu dengan kita.

Jika kita dapat hadir sebagai sosok yang mampu memberikan sumbangan (kontribusi) bagi orang lain, tidak sibuk dengan besar atau kecilnya dampak yang dihasilkan, maka itu semua akan memberikan rasa bermakna pada hidup yang sedang kita jalani saat ini.

Berkontribusi tidak perlu dibayangkan sebagai sesuatu yang besar. 

Kadang-kadang, membayangkan itu hanya akan menjadi penghambat bagi kita untuk terus berbuat. 

Fokuslah pada apa yang bisa dilakukan, jangan sibuk dengan apa yang akan dihasilkan.[]

• Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan