Clock

Berhenti Menjadi Umat yang Konstan

 

Oleh: Tuhfatul Athal

Saat ini, bumi telah dihuni oleh 7,7 miliar jiwa, jika mengikuti sejarah perkembangan dunia dari awal hingga saat ini, maka kita akan sangat terpukau dengan sejarah dunia dalam berbagai sektor perkembangannya, baik itu politik, kesehatan, perdagangan, bagaimana ledakan penduduk, hingga revolusi seksual. 

Dahulu kala manusia berjuang mati-matian bersaing dengan alam untuk mendapatkan sesuap makanan, hingga sekarang manusia harus bersaing sesamanya yang juga untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dunia telah sangat berevolusi, sehingga membuat kita kagum dengan bermacam-macam teknologi yang kini hampir bisa mengimbangi kemampuan manusia, dari algoritma sosial media hingga kecanggihan robot Sophia, dunia teknologi sekarang memang sudah sangat menakjubkan, namun di sisi lain juga meresahkan.

Tidak hanya teknologi, berbagai sektor lain juga jauh telah berkembang pesat dari sebelumnya di sebagian daerah dan bagi sebagian kaum, namun di sisi bagian lain juga ada sebagian kaum yang jauh tertinggal, dan celakanya mereka lebih memilih konstan alih-alih belajar untuk berkembang, diam, tidak tertarik untuk bergerak maju dan terus saja masih bergantung kepada sebagian lainnya yang jauh lebih maju alih-alih mengimbangi.

Mari kita kembali sebentar meniti jalan panjang sejarah peradaban umat manusia. Kisah dimulai sejak Islam hadir ditengah-tengah umat yang sedang digandrungi kejahiliyahan dalam berbagai aspek, moral, hukum, ilmu pengetahuan, dan berbagai aspek lainnya. Kejahiliyahan ini tidak hanya bersarang di Arab dan sekitarnya, tetapi seluruh dunia kala itu benar-benar tenggelam dalam kejahilyahan yang serupa.

Lalu Islam hadir bak secercah cahaya dan memperbaiki moral dan akhlak manusia sebagai misi pertama, lalu Islam melangkah lebih jauh mendominasi pendidikan, dan politik kala itu dibawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, demikian Islam merakit peradaban hingga berhasil menumbangkan kerajaan adidaya Romawi dan Persia, serta memberantas mitos-mitos kekafiran hingga ke akar-akarnya, lalu menggantikannya dengan benih-benih pengetahuan.

Setelah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, para sahabat setia melanjutkan tangga peradaban dan membuatnya jauh lebih berkembang dari cikal bakal yang Rasulullah wariskan, pola pikir yang seperti inilah yang membawa Islam kian mendunia, canggih, relevan, bercirikhas dan sangat kuat pada masanya, hal ini ditandai banyak sekali hal-hal baru yang dilakukan para sahabat demi kesejahteraan umat, seperti mulai bermunculan keilmuan umum yang bercabang dari Al-Quran di masa khalifah Umar, salah satunya adalah ilmu kedokteran, pembangunan infrastruktur pada masa kekhalifahan Utsman, perkembangan strategi perang juga semakin baik sehingga Islam mampu menaklukkan daerah yang luas dalam waktu yang singkat, khalifah Utsman mengembangkan politik ekonomi Islam, juga metode pembelajaran yang terus dikembangkan ke arah yang lebih baik, dikirimnya guru ke pelosok-pelosok daerah untuk mengajar Al-Quran. 

Pada periode kekhalifahan sabahatlah diketahui banyak bermunculan ajaran-ajaran ilmu umum, diantaranya adalah ilmu kedokteran (Al-Thib), sejarah, syair, hingga ilmu perbintangan. Namun, tidak ada diantara mereka yang menganggap adanya dikotomi pendidikan antara ilmu umum dan ilmu agama, keduanya sama-sama dianggap penting dalam Islam dan dipelajari secara seimbang. Berdasarkan paradigma ini, Islam mampu merajai dunia dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. 

Hingga hadirlah sosok-sosok hebat seperti, Ibnu Firnas seorang muslim Andalusia yang mengonstruksi dan menguji mesin terbang hingga menemukan kacamata, Ibn Haitsam yang menemukan konsep kamera, Al-Biruni menulis 200 judul buku dengan eksperimen mutakhir terhebatnya di dunia. Islam benar-benar di puncak keilmuan dan peradaban. 

Hingga ketika Eropa benar-benar darurat akan penyakit karena gaya hidup yang jauh dari kebersihan, Islam hadir menawarkan gaya hidup bersih menggunakan sabun, sabun merupakan racikan dari Muhammad ibn Zakariya al-Razi (854-925), dari Suriah sabun di ekspor masuk ke daratan Eropa. Islam merangkak menuju peradaban dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Barulah di abad ke-4 hijriah terjadi dikotomi ilmu pengetahuan umum dan agama, ahli ilmu umum merendahkan ahli ilmu agama dengan berbagai ujaran yang menyedihkan, demikian juga sebaliknya. Hal ini dianggap sebagai salah satu faktor kemunduran Islam di bidang pendidikan kala itu. Hingga pasca Perang Salib, dunia barat cepat sekali maju membangun peradaban baru terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, universitas terus dibangun diikuti dengan berbagai penemuan  baru yang sebenarnya adalah penyempurnaan dari cikal bakal penemuan muslim yang disempurnakan. 

Pasal inilah yang membuat barat kian canggih dalam berbagai bidang. Namun secara bersamaan kemilau Islam semakin meredup ditambah dengan terjadinya pemisahan antara ilmu umum dan agama.

Dikotomi pendidikan ilmu umum dan agama ternyata terus berlanjut hingga sekarang di kalangan masyarakat awam. Tidak jarang mereka yang memiliki kecenderungan kepada ilmu agama meremehkan mereka yang memiliki kecenderungan kepada ilmu umum, dan sebaliknya.

Akibatnya, kontribusi umat Islam dalam kemajuan dunia modern sangat kurang, mulai dari bidang pendidikan, medis, politik, hingga teknologi. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena dengan tidak adanya pakar-pakar muslim dalam kemajuan teknologi sekarang, umat muslim terpaksa harus bergantung kepada produk-produk non-muslim. 

Keresahan ini benar-benar terjadi pada kasus para jamaah haji yang harus menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi karena Arab Saudi mewajibkannya. Vaksin meningitis tersebut diketahui diproduksi di Belgia. Kasus ini sebenarnya sangat serius, dan perlu adanya tindakan yang solutional dalam waktu cepat, sekalipun MUI Indonesia menfatwakan boleh menggunakan vaksin meningitis untuk jamaah yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji, karena hal ini adalah wajib dan bagi orang yang bernazar.

Dengan bermodal sejarah, sudah selayaknya sekarang umat Islam melihat ke depan, menyusun visi misi dengan jelas untuk menata kembali peradaban. Peradaban yang sedemikian rupa tidaklah mungkin dibangun dalam semalam, mulailah dari hal-hal kecil, langkah pertama ubah diri sendiri, selanjutnya keluarga, selanjutnya circle pertemanan, dan selanjutnya beranikanlah diri untuk melangkah lebih jauh membawa Islam mendominasi setiap inci dunia ini.[]

*Mahasiswi Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan