Clock

Andik Santoso: Sosok Teladan di Tengah Badai Krisis Keteladanan

Oleh: Arizul Suwar*

Sekilas perjuangan Pak Andi

Pak Andi, begitulah panggilan akrab dari murid-murid dan masyarakat kepada Andik Santoso. Beliau merupakan seorang guru honorer yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri Jipurapah 2, sekolah ini berada di pedalaman dan cukup terpencil di kabutapen Jombang, tepatnya di Dusun Kedung Dendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jawa Timur. 

Untuk menuju ke sekolah, Pak Andi harus menempuh 11 Km atau sekitar 90 menit dari rumahnya di desa Kedungkumpul, Lamongan, Jawa Timur. Medan jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah, selain dikelilingi hutan, jalanan licin, terjal dan berlumpur tak jarang menjebak motor, dan harus melewati tiga sungai yang tidak memiliki jembatan. 

Kondisi ini semakin parah ketika musim hujan, pernah suatu kali beliau terseret arus sungai, namun berhasil selamat. Mau tidak mau rute itu harus ditempuh karena hanya itu satu-satunya akses ke sekolah.

Semangat dan Pengorbanan

Meski berstatus guru honorer yang gajinya hanya Rp. 300 Ribu perbulan, itu tak memadamkan semangatnya untuk berupaya semaksimal mungkin mencerdaskan generasi bangsa. Tugas mulia ini telah beliau jalankan hingga 17 tahun lebih lamanya. 

Jika dihitung pengeluaran biaya, gaji Cuma Rp. 300 Ribu per bulan tentu tidak cukup, karena setiap hari Pak Andi harus menghabiskan ongkos sebesar Rp. 50 Ribu untuk membeli bensin motornya, belum lagi biaya lainnya. Alhasil, Pak Andi harus mengumpulkan kayu bakar guna dijual sebagai tambahan onkos perjalanannya. Beliau bercerita pernah jalan kaki dari rumah ke sekolah sekitar empat bulan, karena waktu itu motornya rusak dan tidak ada penggantinya.

Sebagai pembaca, saya yakin kita akan bertanya, semangat apa yang membuat beliau tidak mengalah terhadap segala keterbatasan untuk melaksanakan tugas mulia, mencerdaskan generasi bangsa? Jika karena uang, gaji honorer yang hanya Rp. 300 Ribu per bulan, itu pun tidak rutin cair sebulan sekali, kadang dua hingga tiga bulan baru cair. Tak ada keraguan sedikitpun untuk mengatakan bahwa itu sangat tidak cukup.

Lantas, semangat apa yang beliau hayati? Semangat Pak Andi adalah kepedulian, baginya peserta didik di daerah terpencil juga harus diperhatikan. Anak-anak itu merupakan pelita untuk mengubah tanah kelahirannya menjadi lebih sejahtera dan mulia. Tidak hanya mengandalkan tangan dari luar. Melainkan justru dari anak-anak asli sana akan ditempa guna menjadikannya lebih maju.

Menjadi Pendidik adalah Panggilan Jiwa

Status pendidik bagi pak Andi dapat dipastikan adalah panggilan jiwa. Mengapa demikian? Jika status pendidik bukan berlandaskan panggilan jiwa maka tak akan ada orang yang sanggup menghadapi terpaan badai zaman yang serba materialistik seperti saat ini. 

Ketika orang-orang mengukur segalanya dengan uang, memberi sesuatu sesuai amplop berdasarkan nalar dagang, Pak Andi hadir untuk menunjukkan bahwa itu tidak sepenuhnya benar. 

Sosok-sosok seperti Pak Andi, pastinya langka namun itulah sosok pahlawan yang menyelamatkan idealitas pendidikan dan optimisme kita, khususnya bagi calon guru untuk dapat menatap masa depan pendidikan yang lebih cerah dan tak patah semangat.

Pengorbanan, mungkin itulah kata yang cocok untuk melukiskan semangat Pak Andi. Memberi tanpa berharap banyak pada pihak lain. Serba kekurangan adalah fakta, tapi nilai terhadap fakta sepenuhnya bergantung pada kualitas pribadi seseorang. 

Ketika fakta kekurangan tidak menjadi penghambat untuk terus berkarya, memberikan yang terbaik untuk generasi bangsa, itu adalah cerminan dari pribadi tangguh dan berkualitas. Kekurangan tidak dinilai sebagai penghambat, melainkan tantangan yang harus dilampaui. Pak Andi telah membuktikan itu. 

Kita selaku penerus bangsa, patut berbangga dan tersenyum bahagia melihat dan menemukan sosok-sosok yang masih dapat menjadi teladan. Di tengah krisis keteladanan, generasi muda seakan kehilangan arah dan pegangan, kepada engkau pahlawan tanpa tanda jasa, di tanganmu, pelita pendidikan masih menyala.[]

*Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan