Clock

Tentang Bosan

Oleh: Arizul Suwar*

Kebosanan, pada dirinya sendiri adalah ketidakbermaknaan atau ketidak-berhargaan. Kebosanan hadir ketika sesuatu tidak lagi bermakna pada diri seseorang. Kalimat aku sudah bosan dengan itu menunjukkan bahwa sesuatu itu pernah bermakna pada diri seseorang, tapi kini, sesuatu itu sudah tidak lagi bermakna. Kenapa sesuatu yang pernah bermakna dapat berubah menjadi tidak bermakna bagi seseorang? Jawaban pertanyaan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana makna yang diberikan oleh seseorang terhadap sesuatu pada awalnya. Jika pada awalnya sesuatu itu dimaknai atau dihargai karena "rasa manis" dan dengan itu menghadirkan makna, maka, ketika suatu saat--"rasa manis" itu hilang--otomatis hilang pula maknanya. Seperti pepatah mengatakan habis manis sepah dibuang.

Hidup, juga tidak bisa dilepas dari pemaknaan. Ketika seseorang sudah tidak lagi menemukan makna untuk hidup, muncullah kebosanan, bosan hidup. Ada yang memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, patah semangat. Ada pula sebagian orang, ketika tidak menemukan makna hidup, akhirnya sepenuhnya meniru apa yang ada di sekitarnya. Seperti tercermin dalam kalimat na gob, na tanyoe, mekawen gob, mekawen tanyoe. (Jika orang lain memiliki sesuatu, kita juga harus punya. Jika orang lain menikah, kita pun harus menikah). Hidup yang saat ini, terlalu berharga untuk hanya sekadar menerima makna atau harga yang orang lain tetapkan.

Kebosanan pada dirinya adalah ketidakbermaknaan. Hidup, bagi yang mampu memaknai, akan dihadapi dengan lapang dada dan senyuman. Hari esok disongsong dengan visi penuh semangat. Kebosanan tidak akan hadir jika sesuatu itu terus-menerus dimaknai. Bagaimana memaknai sesuatu? Apa pun ceritanya, makna hadir dari jiwa, dan kualitas makna sesuai kualitas jiwa. Emas tidak lebih bermakna ketimbang seutas tali bagi Tarzan, itulah ilustrasinya. 

Walaupun demikian, kebosanan adakalanya bukan pada dirinya sendiri melainkan pada faktor sifat dasar manusiawi. Adakalanya seseorang butuh waktu untuk mengambil jarak dengan sesuatu yang senantiasa menyibukkan dirinya. Seperti mahasiswa yang butuh mengambil jarak dengan tugas (sesuatu yang menyibukkan dirinya) agar mentalnya kembali stabil dan tidak tertekan. Kasus semacam ini kadang-kadang diwakili dengan kalimat aku sedang bosan dengan tugas, namun, bosan di sini bukan merujuk bosan sebagaimana pada dirinya sendiri, melainkan merujuk pada faktor tertentu yang tidak lepas dari sisi manusiawi seseorang.[]

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan