Clock

Menunggu: Sebuah Jeda Eksistensial

Oleh: Arizul Suwar*

Menunggu: Sebuah Pengalaman Eksistensial

Menunggu, sangatlah membosankan. Menunggu, menguji kesabaran, karena itulah energi kemudian terkuras. Menunggu itu menahan diri. 

Menahan diri dari sekian banyak ekspektasi yang terbangun dan beterbangan mengelilingi pikiran. Butuh energi ekstra untuk mampu menahan diri, karena itu, menunggu adalah bagian daripada pengalaman eksistensial manusia. 

Berbaris dalam sebuah antrean panjang misalnya, hal itu sangatlah tidak mudah. Semua kita ingin berada di posisi paling depan. Mereka yang melawan antrean dengan jelas menunjukkan bahwa dirinya tidak mampu untuk menahan diri. 

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa sikap mau mengantre itu hanyalah sesuatu yang sepele. Namun, jika hal itu dilihat melalui kacamata eksistensialis, sikap mau mengantre merupakan bukti kemampuan seseorang dalam pengendalian dirinya.

Menunggu itu membosankan, tentu! Sudah sangat jelas, toh setiap orang ingin apa yang diidamkan dalam pikirannya segera terjadi, segera muncul, segera ada dalam sekejap mata. 

Tak heran, jika mantra simsalabim sedari dulu hingga sekarang masih dikhayalkan. Dalam proses menunggu, seseorang mengambang dengan rasa campur aduk antara harapan dengan misteri kenyataan yang mungkin hadir. 

Rasa yang campur aduk itu terkadang mengganggu penglihatan. Orang yang lalu lalang di depan sana, entah siapa, namun dalam harapan, kuharap itulah sosok yang kutunggu. Menunggu dalam eksistensialis adalah ketika seseorang terseret ke dalam pertempuran antara harapan dengan misteri ketikdakpastian. 

Salah satu contoh dari menunggu semacam ini dapat ditemukan dalam lagu Menunggu yang dinyanyikan Ridho Rhoma & Sonet 2 Band.

Mengapa Harus Menunggu?

Mengapa kita harus menunggu? Kadangkala, satu-satunya cara yang tersedia untuk kita adalah menunggu. Artinya, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menunggu. 

Mengalami seluruh campur aduk rasa yang disajikan oleh proses menunggu. Di balik beratnya rasa yang harus ditanggung ketika menunggu, sebenarnya ada ruang yang diberi untuk kita oleh proses menunggu tersebut. 

Menunggu memberi ruang jeda untuk sejenak beristirahat dari berbagai khayalan yang ada dalam pikiran. Menunggu ternyata adalah rem alamiah untuk menetralkan keliaran khayalan. Menunggu juga secara alamiah menggenggam tangan kita untuk setia kepada kedisinian

Menunggu berbaik hati untuk memperingatkan kamu masih di sini bersamaku. Apa yang mungkin akan terjadi di depan adalah misteri, yang jelas kamu masih di sini.

Menunggu: Adakah Makna di Baliknya?

Di balik penampakan yang membosankan, menunggu sebenarnya menyimpan wajah kesetiaan. Topeng! Tak perlu meragukan kesetiaan orang yang sanggup menjalani proses menunggu dan penantian. 

Kebanyakan manusia tidak sadar akan kedisinian, dia terus saja terombang-ambing dalam lamunan masa lalu dan khayalan masa depan. Kata andai menjadi kata kunci pelarian dalam hidup

"Andai saja waktu dapat kembali seperti dulu", "andai saja aku memiliki ini dan itu di masa depan." Proses menunggu menghentakkan seseorang dari khalayan semacam itu. Menunggu menarik seseorang untuk menyadari bahwa "kamu masih di sini."

Menunggu menjadi bermakna ketika kita mampu menyadari kedisinian. Dengan seluruh rasa yang campur aduk itu, kita berani menatap itu semua. Kita tidak lari dari kenyataan yang menerpa kesadaran di sini dan saat ini. 

Menunggu juga mendidik kita untuk dapat mengendalikan harapan. Menunggu tentu tidak bisa dilepaskan dari harapan, karena harapanlah, kita menjadi mungkin untuk melaksanakan proses menunggu. 

Mengapa harapan harus dikendalikan? Karena harapan itu bak pedang bermata dua. Karena harapan seseorang dapat terus menjalani hidup yang penuh ketidakpastian. Karena harapan pula seseorang dapat putus asa, frustasi bahkan bunuh diri. 

Menunggu mendidik seseorang untuk mengendalikan harapannya, menempatkan harapan secara proporsional. "Aku berharap apa yang kuinginkan akan terjadi," namun demikian, "kenyataan bukanlah sesuatu yang dapat saya pastikan."

Dalam kondisi semacam itu, sebuah sikap yang mampu menerima apa pun yang mungkin terjadi harus disiapkan. Ada baiknya, jika kita sebagai yang menunggu, telah menyiapkan sikap untuk menerima kemungkinan paling buruk yang mungkin terjadi. 

Jika menunggu seseorang maka siapkan diri untuk kemungkinan paling buruk, yakni yang ditunggu tidak akan datang. Mengapa harus demikian? Karena, jika kita sudah mampu untuk menerima kemungkinan paling buruk, maka jika yang terjadi adalah kemungkinan paling baik, tentunya kita pasti bisa menerimanya. 

Siapkan diri untuk menerima hal yang paling buruk. demikianlah prinsip dasar dalam menjalani hidup. Hal ini tidak berarti bahwa kita menginginkan yang buruk terjadi, namun itu bertujuan untuk mendidik jiwa agar senantiasa siap menerima segala kemungkinan. []

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam.

Next Post Previous Post
2 Comments
  • Anonim
    Anonim 18 Oktober 2023 pukul 15.36

    ❤❤❤❤

  • Anonim
    Anonim 19 Oktober 2023 pukul 22.05

    ♥️👍

Add Comment
comment url

Artikel Relevan