Awas! Seni Mengawasi Diri Sendiri

INTIinspira - Sudah hampir sebulan saya tidak menulis di INTIinspira. Entah kenapa, tidak muncul ide untuk menulis. Malahan, rasa-rasanya saya hanya ingin membaca saja.

Dan memang ada beberapa buku yang saya baca dalam sebulan terakhir ini. Di antaranya buku KH. Said Aqil Siroj yang berjudul Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi.

Setelah membaca buku ini sampai halaman 40, saya tertarik dengan pembahasan mengenai mawas diri. 

Di sini disebutkan bahwa batin merupakan instrumen yang dapat mengantar seseorang untuk mengenal Allah. Karena itu, para sufi sangat cermat mengawasi batin mereka. Setelah membaca inilah ide untuk menulis muncul.

Jadi, dalam tulisan ini, saya ingin mengulas tentang mengawasi diri. Saya akan mulai dari pertanyaan: mengapa mengawasi diri ini penting?

Pertama sekali begini, batin kita adalah sesuatu yang paling dekat. Dia senantiasa bersama kita, tak pernah terpisah sedetik pun. Kita tidak bisa melepas batin dari tubuh, artinya keduanya merupakan satu kesatuan, sehingga bisa disebut sebagai diri. Tidak ada diri dalam tubuh tanpa batin, pun sebaliknya.

Contohnya begini, saat kita merasa takut, jantung ikut berdegup kencang, badan ikut menegang, mungkin tangan ikut gemetar. Batin merasa, tubuh ikut merespons. Tidak pernah kita temukan orang yang takut tapi tubuhnya sama sekali tidak bereaksi, atau tubuh gemetar tanpa ada rasa apa pun di dalam.

Jadi, saya ulangi, keduanya satu kesatuan, sebut aja begitu. Saya tidak mau masuk ke perdebatan lebih jauh, pusing soalnya. Udahlah banyak persoalan lain yang saya pikirkan, jadi tolong jangan tambahi dengan beban untuk memikirkan ini.

Kita lanjut. Karena batin ini paling dekat dengan kita, maka logislah jika dia mendapatkan perhatian atau pengawasan ekstra dari diri kita.

Kedua, batin ini bersifat dinamis, artinya terus-menerus mengalami perubahan, dari detik ke detik berubah tanpa mengenal kata diam. 

Nah, karena dinamis, setiap detik batin kita punya potensi yang beragam: bisa tenang, bisa juga riuh. Bisa galau, bisa juga khawatir. Bisa takut, bisa juga marah. Bisa santai, bisa juga menggebu-gebu. Sekejap marah, tiba-tiba menyesal. Sejenak tertawa, tiba-tiba teringat masa lalu yang memalukan. Dan seterusnya. Ya cari sendirilah contohnya.

Dua alasan itu saya kira sudah cukup memberi argumen mengapa perlu mengawasi batin. Sebenarnya saya rasa ada alasan-alasan lain, cuma sekarang tidak teringat, dan tidak mungkin saya menulis sesuatu yang tidak saya ingat.

Kita lanjut. Apa yang perlu diawasi dari batin kita? Sebelum menjawab ini, kita cek dulu apa itu mengawasi. 

Mengawasi berakar pada kata awas, yang dalam KBBI berarti memperhatikan dengan baik, waspada, dan hati-hati. Sedangkan mengawasi berarti melihat dan memperhatikan, mengamati baik-baik, dan mengontrol.

Bagi saya, kata awas ini menarik, sebab tidak sekadar melihat. Orang bisa saja melihat sesuatu tapi tidak awas terhadapnya, lewat begitu saja tanpa benar-benar memperhatikan.

Awas itu mengandung unsur waspada, ada kesadaran akan kesiagaan, seperti orang yang tahu ada sesuatu yang penting sedang terjadi dan karena itu tidak mau melewatkannya begitu saja. 

Mungkin, secara sederhana kita dapat mengetes tingkat kewaspadaan ini pada naik turun nafas, karena ini walaupun bersifat fisik tapi dia terus menerus terjadi, sehingga kita dapat belajar meningkatkan kesadaran kewaspadaan melalui latihan ini.

Jadi, kembali ke cerita awal, mengawasi batin dapat kita mengerti sebagai usaha memperhatikan dengan jeli gerak batin yang sedang terjadi.

Nah, seringnya mengawasi ini dipahami sebagai pengawasan terhadap sesuatu di luar diri, semisal orang tua mengawasi anaknya, guru mengawasi muridnya, kakak mengawasi adiknya, dan sebagainya. Pengawasan semacam ini tidak masuk dalam pembahasan tulisan ini, karena sifatnya eksternal.

Kembali ke pertanyaan tadi: apa yang perlu diawasi dari batin kita? Jawabannya adalah gerak dan perubahan yang terjadi tiap saat. Yang perlu digarisbawahi, pengawasan ini bersifat terus-menerus, tanpa henti, karena batin memang tak berhenti bergerak.

Saat berbicara misalnya, bersamaan dengan itu kita mengawasi batin: apakah saat kita bicara keadaan batin tenang atau menggebu, takut atau marah, percaya diri atau minder, dan seterusnya.

Lalu bagaimana caranya? Menurut saya begini. Dalam setiap gerak-gerik kita, kita harus sadar lahir dan batin. Lahir melakukan, batin penuh kesadaran terhadap apa yang dilakukan lahir. Keduanya harus nyambung, jangan terpisah.

Kesinambungan ini juga yang menjadi prinsip dari apa yang kita sebut tanggung jawab. Orang yang bertanggung jawab itu tidak asal ngomong dan tidak asal melakukan sesuatu.

Ada kesadaran di situ, tentang apa yang diucapkan atau lakukan, dan tentang akibat yang mungkin muncul sesudahnya. Kita semua pasti pernah mengalami sebaliknya: kata-kata sudah telanjur keluar, baru batin datang belakangan sambil membawa penyesalan. Batinnya telat hadir.

Dalam praktiknya, ini bisa dilatih dari hal-hal kecil keseharian. Misalnya saat di jalan ada yang menyalip sembarangan lalu kita mendadak emosi, coba sejenak sadari itu: "oh, ini batin sedang marah." Atau saat sedang menunggu, entah menunggu orang atau antrean, dan rasanya tidak sabaran, sadari juga: "oh, ini batin sedang gelisah." Bahkan saat membuka media sosial dan tiba-tiba muncul rasa iri melihat pencapaian orang lain, itu juga bisa disadari: "oh, ini batin sedang iri."

Mengawasi batin juga tidak perlu dimaknai sebagai menghakimi diri. Kita cukup menyadarinya saja dulu. Kalau sedang marah, sadari bahwa sedang marah. Kalau sedang cemas, sadari bahwa sedang cemas. Kesadaran semacam itu sudah memberi sedikit jarak, dan dengan jarak itulah kita punya kesempatan memilih, mau menuruti atau tidak.

Terus, untuk apa semua ini? Kembali ke gagasan Kiai Said tadi, batin adalah instrumen untuk mengenal Allah. Lewat batinlah kita terhubung dengan Tuhan. Jadi wajar kalau para sufi begitu cermat menjaganya, sebab menjaga batin sama artinya dengan menjaga jalur hubungan itu.

Dalam tradisi tasawuf, praktik mengawasi batin semacam ini punya nama sendiri, yaitu muraqabah, yang secara sederhana berarti merasa senantiasa diawasi oleh Allah sehingga kita pun balik mengawasi diri sendiri.

Ada juga istilah muhasabah, yaitu introspeksi kembali apa yang sudah kita lakukan, sebagai bentuk lain dari kesadaran ini. Saya sebut ini bukan untuk gagah-gagahan istilah, tapi supaya kita tahu bahwa apa yang sedang dibicarakan ini bukan suatu renungan baru, melainkan sudah lama jadi perhatian dalam tradisi tasawuf.

Di saat yang sama, batin juga menentukan kualitas hidup kita. Kalau batin tenang, kondisi luar biasanya ikut menyesuaikan. Bukan berarti masalah hilang, tapi cara kita menghadapinya yang berubah. Orang yang batinnya tenang tentu menanggapi masalah lebih jernih daripada orang yang batinnya riuh.

Dan ujung yang paling jauh dari pengawasan batin ini adalah mengingat Tuhan. Kalau kita terbiasa mengamati batin sepanjang hari, lama-lama kesadaran itu bermuara ke satu titik, yaitu ingat kepada-Nya. Sehingga keseharian kita, entah saat bicara, bekerja, atau sekadar diam, tidak lagi terlepas dari ingat kepada Tuhan.

Saya kira cukup dulu segini. Tolong jangan anggap tulisan ini sebagai khotbah atau menggurui anda, anggap saja ini ekspresi yang sudah terpendam lama karena tidak menulis.

Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Foto: Contemplative Sunrise Over Misty Hills/dibuat dengan AI
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan