Mempertanyakan Gender Tuhan dalam Kitab Suci

INTIinspira - Saya bukan pakar. Tulisan ini murni berisi pemikiran seorang pelajar yang sangat mungkin masih keliru. Saya menulisnya semata-mata untuk memenuhi tugas resume perkuliahan.

Sebetulnya, tema perkuliahan Jumat malam yang lalu adalah tentang nama-nama Tuhan. Namun, pembahasan menjadi berbelok berkat pertanyaan dari Mbak Tina, salah seorang rekan sesama mahasiswa S2.

Pertanyaan itu berasal dari anaknya yang bersekolah di International School dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di lingkungan sekolah.

Isi pertanyaannya kurang lebih begini, “Kenapa Tuhan itu dipanggil Him? Berarti Dia laki-laki, dong?

Inilah menariknya cara berpikir anak-anak. Mereka mempertanyakan segala sesuatu, baik hal-hal yang penting maupun yang tampak sepele.

Namun, kadang-kadang mereka justru menyentuh pertanyaan yang sangat fundamental, yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa.

Pertanyaannya sederhana. Akan tetapi, setelah dipikirkan sejenak, orang dewasa pun bisa ikut bertanya, “Iya juga, kenapa ya?

Karena itu, Pak Muhsin Labib selaku dosen kemudian melemparkan pertanyaan tersebut kepada seluruh peserta kelas.

Di sini, saya akan memaparkan beberapa poin jawaban yang muncul dalam diskusi kelas.

Sebelum masuk ke poin-poin tersebut, ada satu hal yang perlu disepakati, yakni bahwa Tuhan tidak memiliki gender. Ia bukan laki-laki ataupun perempuan.

Kalau Ia bergender, berarti Ia memiliki keserupaan dengan makhluk. Dalam pengertian ketuhanan yang umum dipahami agama-agama samawi, hal itu tentu tidak mungkin.

Karena itu, pertanyaannya bukanlah apakah Tuhan bergender laki-laki atau perempuan. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan yang dipahami tidak bergender justru sering diasosiasikan sebagai laki-laki.

Dari berbagai jawaban yang bermunculan di kelas, saya menangkap beberapa poin yang menurut saya dapat menjelaskan mengapa Tuhan dalam kitab suci, khususnya, atau agama secara umum, sering menggunakan kata ganti bergender laki-laki.

Pertama, pengaruh bahasa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa merupakan artikulasi dari pikiran manusia. Dengan akalnya, manusia memahami berbagai fenomena yang ada di sekitarnya.

Pemahaman itu berkembang dari bentuk-bentuk yang sederhana hingga mencapai tahap yang sangat kompleks. Semua proses tersebut selalu melibatkan bahasa.

Singkatnya, manusia berpikir dalam kerangka bahasa. Ketika menjelaskan suatu fenomena, manusia juga menggunakan bahasa.

Sulit membayangkan adanya pemahaman yang benar-benar terlepas dari bahasa.

Bagi manusia, bahasa adalah senjata yang lebih tajam daripada cakar, lebih kuat daripada otot, dan lebih mematikan daripada taring.

Bahasa dan kemampuan berkomunikasi merupakan faktor yang memungkinkan lompatan besar dalam kemajuan peradaban manusia.

Melalui bahasa, manusia dapat berbagi pengetahuan, membangun kerja sama, dan mewariskan pengalaman.

Inilah yang membuat manusia mampu bertahan dalam kerasnya persaingan alam, bahkan pada akhirnya mendominasinya.

Ketika manusia mulai merenungkan makna kehidupannya, Tuhan memperkenalkan diri-Nya melalui bahasa manusia.

Kalau tidak demikian, manusia tidak mungkin dapat mengenali-Nya. Karena itu, Tuhan mewahyukan kitab suci kepada para utusan-Nya yang berasal dari kalangan manusia.

Dalam perkembangan sejarah, banyak bahasa tua yang dominan membedakan gender laki-laki dan perempuan.

Ambil contoh bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata ganti untuk laki-laki dan perempuan dibedakan secara jelas.

Untuk menyebut “engkau” kepada laki-laki digunakan kata anta, sedangkan kepada perempuan digunakan kata anti.

Demikian pula kata ganti orang ketiga. Untuk laki-laki digunakan kata huwa, sementara untuk perempuan digunakan kata hiya.

Kita mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Tampaknya, pola serupa juga ditemukan dalam kitab-kitab suci agama samawi lainnya.

Jika dilihat dari perspektif ini, cukup jelas mengapa Tuhan dalam kitab suci sering direpresentasikan melalui kata ganti yang memiliki gender.

Namun, muncul pertanyaan berikutnya. Mengapa gender yang digunakan justru gender laki-laki?

Kedua, pengaruh budaya patriarki.

Selama ribuan tahun, dalam berbagai kebudayaan dan peradaban, laki-laki umumnya menempati posisi yang lebih dominan dibandingkan perempuan.

Dalam banyak masyarakat, laki-laki dipandang lebih superior dan lebih sering menduduki posisi-posisi kekuasaan.

Kondisi ini mungkin masih dapat ditemukan hingga hari ini, meskipun tentu terdapat banyak pengecualian.

Kita dapat melihat berapa banyak perempuan yang masuk dalam jajaran orang terkaya dunia, menjadi kepala negara, atau memimpin suatu bangsa sepanjang sejarah.

Jumlahnya ada, tetapi relatif lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

Pada level yang lebih dekat, kita masih dapat menjumpai laki-laki duduk santai di ruang tamu, sementara perempuan berada di dapur memasak atau mencuci piring.

Ini bukan pembahasan tentang benar atau salah. Saya hanya sedang menggambarkan fakta sosial yang berlangsung dalam banyak masyarakat.

Jika berbicara tentang kekuatan, kekuasaan, dominasi, keperkasaan, dan berbagai kualitas yang diasosiasikan dengan kepemimpinan, maka sifat-sifat tersebut secara historis lebih sering dilekatkan kepada laki-laki.

Ketiga, struktur fisik manusia.

Secara biologis, laki-laki memang memiliki struktur fisik yang rata-rata lebih kuat dibandingkan perempuan.

Tubuh laki-laki tampak lebih sesuai untuk aktivitas yang membutuhkan tenaga besar dan daya tahan tinggi, seperti berburu, berperang, atau melakukan pekerjaan fisik yang berat.

Di sisi lain, perempuan mengalami proses biologis yang berbeda, seperti menstruasi, kehamilan, dan melahirkan.

Proses-proses tersebut tentu memengaruhi kondisi fisik, hormonal, dan emosional mereka pada waktu-waktu tertentu.

Dalam hemat saya, faktor-faktor inilah yang mungkin turut menjelaskan mengapa para nabi dan rasul yang dikenal dalam tradisi agama-agama samawi adalah laki-laki.

Dengan demikian, ketika berbicara tentang Tuhan, kita sedang berbicara tentang Zat yang menciptakan, menguasai, dan memelihara alam semesta.

Karena itu, apabila bahasa mengharuskan penggunaan kata ganti tertentu untuk merujuk kepada Tuhan, maka gender laki-laki tampaknya lebih sering dipilih daripada gender perempuan.

Pada akhirnya, hampir semua kitab suci agama samawi menggunakan kata ganti bergender laki-laki ketika merujuk kepada Tuhan.

Hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Tuhan berpihak kepada satu gender tertentu.

Sebaliknya, hal itu lebih dapat dipahami sebagai konsekuensi yang lahir dari struktur bahasa, budaya, dan cara manusia memahami realitas.

Penulis: Bil Hamdi (pemuda Jambi yang kini menginjak usia seperempat abad dan belakangan mendadak ditugaskan menjadi kepala sekolah).
Foto: Dok. untuk INTIinspira

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan