Clock

Seni Menerima Diri Sendiri dan Orang Lain

 


Oleh: Arizul Suwar


     "Kenapa sih kamu nggak ngertiin aku?", "Kenapa sih susah mencari orang yang pengertian?", dua kalimat tersebut sangatlah tidak asing dalam keseharian, dan bisa jadi, kitalah orang yang sering mengeluhkan itu. Tapi sebelum itu, coba untuk bertanya terlebih dahulu "Bagaimana sih mengerti orang lain itu mungkin untuk praktikkan?", pertanyaan tersebut hadir dikarenakan keinginan agar dimengerti oleh orang lain mengindikasikan bahwa; yang mengutarakan keinginan itu juga belum, bahkan tidak mengerti orang lain. Karena, kalau seandainya seseorang mengerti orang lain, kemungkinan besar untuk mengeluhkan dirinya tidak dimengerti, tidak akan terjadi. 
   Kita kembali ke pertanyaan sebelumya; "Bagaimana sih mengerti orang lain itu mungkin untuk praktikkan?" Satu-satunya jawaban untuk itu adalah; untuk mengerti orang lain, terlebih dahulu harus mampu menerima kehadiran orang lain sebagaimana dirinya sendiri, tanpa ada tendensi untuk membuat orang tersebut harus menjadi sebagaimana yang kita inginkan. Kita hanya baru dapat mengerti seseorang jika kita mampu menerima dirinya sebagaimana dirinya sendiri, dengan berbagai kelebihan, kekurangan dan keunikan yang melekat padanya.

    "Bagaimana caranya agar kita dapat menerima orang lain sebagaimana dirinya sendiri?", hal ini perlu untuk segera dijawab mengingat setiap manusia secara sadar atau tidak, memiliki kehendak untuk membuat orang lain sama seperti dirinya. Kehendak yang demikianlah yang senantiasa harus diwaspadai. Menerima orang lain sebagaimana dirinya sendiri hanya mungkin jika seseorang telah mampu untuk menerima dirinya sendiri. 

   Ketiadaan kemampuan untuk menerima diri sendiri menjadi penyebab ketidakmampuan seseorang untuk menerima orang lain. Apa yang dimaksud dengan menerima diri sendiri? Menerima diri sendiri tidak berarti berpangku tangan, menyerah terhadap keadaan, apalagi berputus asa, sama sekali bukan itu maksudnya. Hal yang demikian sebenarnya merupakan tindakan penolakan terhadap diri, kecewa terhadap diri sendiri. Menerima diri sendiri yang dimaksud di sini adalah berdaulatnya seseorang terhadap diri sendiri. Kemampuan untuk menjadi tuan bagi diri sendiri. sehingga, tidak lagi banyak menuntut pada segala sesuatu yang berada di luar dirinya.

     Ciri khas orang yang berdaulat terhadap dirinya sendiri adalah adanya kemampuan untuk mengelola kehendak agar tidak bertendensi mengubah orang lain menjadi sama seperti dirinya, kehendaknya hanya diarahkan untuk mengubah diri sendiri. Dengan kata lain, orang tersebut mampu mengizinkan orang lain untuk menjadi diri sendiri. Kedaulatan terhadap diri membuat seseorang tidak sibuk untuk menuntut pengertian dari orang lain. Bukannya menuntut, dia malah berusaha untuk mengerti dan menerima orang lain. 

     Orang yang berdaulat terhadap diri atau menjadi tuan atas diri sendiri, telah berhasil menerima diri sendiri, menyadari dirinya sendiri. Berhasil pula menelisik kelebihan, kekurangan dan keunikan diri, sehingga berkat itu, dia mampu untuk menerima orang lain dengan segenap sifat yang melekat pada orang lain tersebut. Berbagai kekurangan diri yang ditemukan oleh seseorang yang telah berdaulat, tidak dilihat sebagai kekurangan melainkan sebagai bahan baku yang siap ditransformasi menjadi cita rasa baru yang berharga. 

    Mereka yang berdaulat adalah tuan. Mereka yang tuan memiliki kehendak yang bebas, unggul dan merdeka. Itulah kemerdekaan diri. Sebaliknya, susahnya seseorang untuk menerima dan mengerti orang lain disebabkan oleh ketidakmampuan menjadi tuan atas diri sendiri. Belum mampu menerima orang lain berarti belum mampu menerima diri sendiri, khususnya tidak mampu menerima kekurangan diri. 

     Ketidakmampuan menerima kekurangan diri telah menyeret seseorang untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Menginginkan orang lain mengerti dirinya. Orang yang belum menjadi tuan bagi diri sendiri ditandai dengan tendensi yang kuat untuk d imengerti oleh orang lain.

     Seseorang yang belum mampu menerima diri sendiri, akan mencari sesuatu di luar diri sebagai patokan nilal. Menganggap baik apa yang dianggap baik oleh orang lain dan menganggap buruk apa yang dianggap buruk oleh orang lain, tanpa pernah merefleksikan apakah sesuatu itu benar baik atau buruk bagi dirinya. Ciri lain dari ketidakmampuan seseorang menerima diri sendiri adalah kesukaannya untuk membanding-bandingkan antar pribadi. Misalnya seperti tercermin dalam kalimat "Seharusnya kamu seperti dia". Konteks pembahasan ini tidak sama dengan mengambil inspirasi dari orang lain. Sosok yang menjadi inspirasi bagi seseorang berada pada wilayah keinginan untuk menginternalisasi nilai-nilai tertentu, dan bukannya keinginan untuk menjadi sosok tersebut.

     Mereka yang belum berdaulat terhadap diri, ditimpa ketakutan luar biasa jika berbeda dengan orang banyak ketakutan tersebut lalu terwujud pada sikap ketundukan kepada opini massa. Ketakutan itu membuat seseorang tidak mampu menerima dirinya sendiri, yang akhirnya bermuara pada ketidakmampuan menerima orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. 

    Ketidakmampuan menerima orang lain sebagaimana dirinya sendiri kemudian nampak dalam kalimat "Kenapa sih kamu nggak ngertiin aku?", "Kenapa sih susah mencari orang yang pengertian?" []


Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira

Download secara gratis melalui link berikut








Link 1  







Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan