Clock

Marginalisasi Guru Agama: Kritik Terhadap Dinamika Sosial Keguruan

 


Oleh: Sarah Ulfah

    Pendidikan adalah proses yang kompleks dan terintegrasi[1] dalam pembentukan individu yang cerdas, beretika, dan berdaya saing. Dalam konteks ini, guru memiliki peran yang sangat penting sebagai agen pembelajaran yang mengarahkan, menginspirasi, dan memberikan pengetahuan kepada generasi muda. Namun, dalam beberapa kasus, terjadi marginalisasi atau pengabaian terhadap guru agama dibandingkan dengan guru pengetahuan umum. Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan dan refleksi tentang kesetaraan dan pentingnya kedua jenis guru tersebut dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai yang baik pada generasi muda. Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi masalah tersebut lebih lanjut.

    Marginalisasi guru agama dan guru pengetahuan umum terjadi pada beberapa aspek. Pertama, pada aspek penghargaan dan pengakuan. Guru agama sering kali dianggap sebagai guru yang kurang berprestasi atau dianggap memiliki peran yang kurang penting dibandingkan dengan guru-guru yang mengajarkan mata pelajaran ilmu pengetahuan umum seperti matematika, sains, atau bahasa. Ini dapat mengakibatkan kurangnya apresiasi dan penghargaan terhadap upaya guru agama dalam membimbing siswa dalam hal moralitas, etika, dan spiritualitas.

    Kedua, pada aspek sumber daya dan fasilitas. Guru agama sering kali memiliki keterbatasan dalam hal buku teks, materi pelajaran, atau bahkan ruang kelas yang memadai. Di sisi lain, guru pengetahuan umum sering kali mendapatkan prioritas lebih tinggi dalam hal pengalokasian sumber daya dan fasilitas. Ketidakseimbangan ini dapat mempengaruhi kualitas pengajaran dan pembelajaran agama, serta mengurangi kesempatan bagi guru agama untuk menyampaikan materi pelajaran dengan efektif.

    Ketiga, pada aspek pengembangan profesional. Guru agama sering kali diberikan kesempatan yang lebih sedikit untuk mengikuti pelatihan atau program pengembangan profesional yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Sementara itu, guru pengetahuan umum sering mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam bidangnya. Akibatnya, guru agama mungkin kurang memiliki akses terhadap metode pengajaran terbaru, penelitian terkini, dan pendekatan inovatif dalam pengajaran.


Dampak Marginalisasi Guru

  Melihat fenomena marginalisasi guru agama dan guru pengetahuan umum yang terjadi  dalam berbagai aspek tentunya akan mengakibatkan dampak yang buruk bagi peserta didik. Hal ini dapat dibuktikan dari kasus tawuran yang tidak pernah tidak terjadi pada setiap tahunnya. Yang mana penyebab tawuran itu sendiri memang memiliki alasan yang sangat kompleks, mulai dari persaingan dalam prestasi akademik, perbedaan pandangan dan ideologi, gengsi dan ego sampai kepada problem personal antar pelajar yang turut diprovokasikan. Namun pada dasarnya, berbagai penyebab ini jika penulis menganalisis lebih lanjut adalah mengakar hanya dari satu permasalahan. Yaitu permasalahan nilai-nilai akhlakul karimah yang belum berhasil diinternalisasi oleh peserta didik. Tentunya ini merupakan representasi dari tidak maksimalnya didikan agama yang dialami oleh peserta didik. Dan ini melibatkan guru agama sebagai salah satu agen pelaksana yang paling penting dalam menentukan keberhasilan sebuah pendidikan Islam.


Tawaran Solusi

    Dalam menyikapi masalah ini, penting untuk disadari bahwa pendidikan agama Islam untuk menginternalisasi nilai-nilai akhlakul karimah pada peserta didik harus utuh dan seimbang. Utuh dan seimbang disini artinya membutuhkan peran yang kuat dan setara dari guru agama dan juga guru pengetahuan umum. Guru agama berperan penting dalam membentuk nilai moral, etika, dan spiritual peserta didik. Mereka membantu peserta didik memahami nilai kehidupan yang islami, menjunjung tinggi toleransi, dan yang paling penting adalah membentuk akhlakul karimah pada setiap peserta didik. Pada saat yang sama, guru pengetahuan umum membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bersaing di dunia yang semakin kompleks dan mengglobal, dan tak lupa turut serta memperkuat akhlakul karimah peserta didik agar dapat bersaing secara sehat, santun dan agamis dalam dunia pendidikan.

    Untuk mencapai kesetaraan antara guru agama dan guru pengetahuan umum, beberapa langkah berikut dapat diambil. Pertama, diperlukan adanya pemahaman yang lebih baik tentang peran penting guru agama dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai peserta didik. Hal ini perlu ditekankan dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru agar mereka memahami pentingnya memperkuat dimensi spiritual agamis dalam pendidikan.

     Selanjutnya, alokasi sumber daya dan fasilitas harus adil antara guru agama dan guru pengetahuan umum. Diperlukan upaya untuk memastikan bahwa guru agama memiliki akses yang sama terhadap buku teks, materi pelajaran, dan fasilitas pendidikan yang memadai. Ini akan memungkinkan guru agama untuk memberikan pengajaran yang berkualitas kepada siswa.

    Terakhir, guru agama juga perlu didukung dengan program pengembangan profesional yang memadai. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, seminar, atau program pengembangan lainnya yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran mereka dan memperkenalkan mereka pada metode dan pendekatan pengajaran terbaru.

    Dalam kesimpulannya, marginalisasi guru agama dengan guru pengetahuan umum adalah masalah yang perlu ditangani dengan serius. Kedua jenis guru ini memiliki peran yang penting dalam pendidikan yang holistik dan seimbang. Kesetaraan, pengakuan, dan dukungan yang adil harus diberikan kepada guru agama untuk memastikan mereka dapat memainkan peran mereka secara efektif dalam membentuk akhlakul karimah pada peserta didik. Hanya dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan seimbang, kita dapat menghasilkan generasi muda yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan akademik dan nilai-nilai moral yang kuat.



[1] Amin Akbar, Nia Novani “Tantangan dan Solusi dalam Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia”, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, (2019)


Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira

Download melalui link berikut








Link 1

Link 2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan