Clock

Manajemen Kejengkelan

Oleh: Ami Oktayusva

    Manusia adalah makhluk sosial. Interaksi sosial tentu tidak bisa dipisahkan dari manusia, karena memang ke mana pun kita pergi pasti akan bertemu dengan orang lain. Tak jarang seringkali kita berjumpa dengan orang aneh yang tingkahnya buat kesal dan jengkel. Bahkan dalam tongkrongan sering ada orang-orang yang buat kita kesal dan menguji atrenalin emosi. Dalam kehidupan sehari-hari, ada dua tipe manusia yang sudah pasti akan diternukan, yaitu; orang yang sok tau alias sotoy atau orang yang memang tau betulan. Nah, biasanya orang-orang sotoy ini sering mengusik kita saat sedang membahas suatu hal, sehingga buat kesal karena ke-sotoy-annya itu. sebuah Buku Filosofi Teras menawarkan kita cara untuk menjawab bagaimana seharusnya menghadapi atau bersikap pada orang yang membuat jengkel tersebut, tidak melulu hanya dengan senyuman atau pura-pura tidak peduli. 

    "Seseorang bertindak menurut apa yang baiksesuai dengan perspektifnya." Kalimat tersebut saya kutip dari buku Filosofi Teras. Sama halnya dengan orang-orang yang sotoy atau sok tau itu, mungkin mereka merasa apa yang mereka katakan, bisa dikaitkan atau nyambung dengan pembahasan saat itu. Kemungkinan lainnya bisa jadi orang-orang seperti itu ingin terlihat keren dalam tongkrongan sehingga dia mendorong dirinya untuk ikut berkomentar terhadap suatu persoalan, atau bisa jadi dia ingin ikut dalam obrolan pada saat itu.

    Selain itu, perilaku yang sok tau juga sering kita jumpai saat beraktivitas sehari-hari. Misal seperti orang yang menyalip antrean di depanmu? Dia sotoy terhadap perilakunya, menurutnya tindakan seperti itu tidak menyakiti orang yang sudah antre terlebih dahulu. Orang sotoy atau sok tau ini tergolong orang-orang yang jahat menurut buku Filosofi Teras Bagaimana tidak, dalam keramaian misalnya, teman yang sudah lama tidak jumpa atau teman kerja bertanya "kapan nikah?" atau masih jomblo? mau dijodohkan?" perilaku tersebut sangat menyakiti, dan seringnya kita menghadapi orang-orang ini dengan senyuman saja. Tapi kalau hal seperti itu sering terjadi juga bisa buat kita overthinking sendiri Perihal orang-orang yang seperti di atas; Epictetus mengatakan, "Mengapa kamu tidak mengasihaninya saja? Karena hal tersebut sama seperti kita mengasihani orang yang pincang atau buta, maka kita juga harus merasa iba kepada mereka yang nalarnya buta dan pincang". 

    Menurut saya, pernyataan Epictetus itu sangat dapat menjadi model bagi kita dalam menghadapi orang-orang sotoy dan jahat itu. Cara ini lebih efektif ketimbang hanya disenyumin aja. Sebab kita akan sering berjumpa orang seperti itu, jadi kalau disenyumin saja lama-lama emosi juga akan terus memuncak, dan juga pikiran sering overthinking. Kenapa itu lebih efektif? Karena itu terjadi setia hari, jadi melatih kita untuk tidak berpikiran buruk bahkan mencaci orang-orang dalam diam kita, jujur itu sangat tidak enak Dengan pernyataan itu kita bisa lebih mengarahkan pikiran ke hal-hal yang memang lebih sehat.

    Misal, orang yang menyalip antrean di depanmu, mungkin saja dia tidak tahu soal antre, atau kalau pun sudah tahu mungkin dia tidak tahu kalau itu tidak baik dilakukan karena menyakiti orang lain, meskipun orang yang melakukan itu orang dewasa. Atau bisa jadi dia buru-buru sehingga mengharuskannya untuk menyalip antrean. Nah pikiran yang seperti ini lebih sehat diterapkan ketimbang disenyumin atau tidak diperdulikan bahkan sampai kita memakinya dalam diam. Hal itu sangat tidak enak dan bahkan menyakiti diri kita sendiri. Contoh lainnya, orang yang sedang memakimu? Mungkin pada saat itu dia sedang dikuasai oleh emosi sesaat sehingga dia tidak tahu kalau itu perbuatan jahat. Nah kalau dalam peristiwa ini, orang yang sedang emosi disenyumin, yang ada kitanya sakit dan dia nya bisa lebih kesal lagi.

    Dengan dominannya emosi negatif yang sangat mengganggu, oleh karena itu pen tingnya pengelolaan emosi secara personal dalam kehidupan untuk meraih ketentram dalam diri dengan menghidupkan emosi positif, karena orang yang memiliki kemampuan emosional akan mampu mengelola emosi untuk lebih berkontribusi dalam kesuksesannya.

Prinsip Dasar Stoisisme   

     Henry Manampiring mengatakan bahwa stoisisme mempunyai dua prinsip dasar. yaitu hidup selaras dengan alam, dan mengendalikan apa yang bisa dikendalikan, sehingga konsep stoisisme itu bisa diterapkan untuk mengatasi emosi negatif dalam keseharian.

    Jadi, sejahat-jahatnya orang, dia pasti punya kesadaran tentang perilaku jahatnya. Jika direnungkan lagi, orang-orang yang pernah menyakiti kita dan mencoba untuk benar-benar berpikir objektif dan empati, maka akan kita temukan bahwa sebenarnya dia tidak benar-benar berniat untuk menyakiti atau menjahati orang lain. Bahkan bisa saja orang yang menjahati itu terdorong oleh rasa ketakutannya sendiri yang tidak beralasan.

    Jika ada yang lebih tipis dari tisu, itulah kesabaran orang-orang itu sendiri. Orang yang tidak marah bukan berarti tidak memiliki emosi, namun sebagian dari mereka berusaha mengotrol. Nah pertanya annya sampai kapan itu terjadi? Jadi tetaplah sadar terhadap setiap perilaku dalam bentuk apa pun itu. []

Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira







Link 1





Link 2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan